Beberapa PUK SPLP FSPMI Morowali Soroti Kondisi Kerja dan Kesehatan Psikis Buruh di Tengah Tuntutan Produksi Tinggi

Beberapa PUK SPLP FSPMI Morowali Soroti Kondisi Kerja dan Kesehatan Psikis Buruh di Tengah Tuntutan Produksi Tinggi

Morowali, KPonline – Beberapa PUK SPLP FSPMI se-Kabupaten Morowali menggelar kegiatan diskusi santai bersama perwakilan industrial pada Kamis (16/7/2026). Kegiatan yang digelar di Morowali ini diinisiasi sebagai respons atas berbagai keluhan yang masuk dari anggota serikat pekerja di kawasan industri.

Kegiatan ini menjadi ruang dialog untuk membahas berbagai persoalan ketenagakerjaan yang dihadapi para pekerja di lingkungan industri. Berbeda dari forum formal, diskusi dikemas santai agar peserta lebih terbuka menyampaikan unek-unek tanpa rasa takut.

Hadir dalam forum tersebut perwakilan dari beberapa PUK SPLP FSPMI Morowali diantaranya PT IMIP, PT ITSS, PT GCNS, dan perusahaan tenant lainnya. Turut hadir juga sejumlah staf industrial relation sebagai pendengar. Diskusi berlangsung dalam suasana terbuka dan penuh kebersamaan. Para peserta duduk melingkar, saling berbagi cerita soal situasi di lapangan tanpa sekat jabatan.

Fokus utama pembahasan adalah kondisi kerja, praktik kerja paksa, serta kaitannya dengan kesehatan psikis pekerja dalam menghadapi tingginya tuntutan produksi di tempat kerja.Beberapa PUK menyampaikan temuan di lapangan. Di antaranya jam kerja yang molor tanpa kompensasi lembur jelas, target produksi yang terus naik tanpa penambahan tenaga kerja, hingga praktik intimidasi verbal dari pengawas lini untuk mengejar output.

Para peserta saling bertukar pandangan dan pengalaman mengenai tekanan kerja yang dapat berdampak pada kondisi mental, produktivitas, serta keselamatan dan kesehatan kerja. Seorang peserta dari divisi smelter mengaku sering cemas berangkat kerja karena takut dimarahi jika mesin mati meski bukan karena kesalahan operator.

Peserta lain menyebut banyak rekannya jadi mudah emosi di rumah karena kelelahan psikis. Isu lain yang mencuat adalah minimnya akses konseling, tidak adanya ruang istirahat yang layak, serta stigma negatif jika pekerja mengaku stres atau depresi.

“Kalau bilang capek mental, dikira tidak kuat kerja,” ujar salah satu peserta.

Melalui kegiatan ini, para peserta berharap terbangun pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang manusiawi, menghormati hak-hak pekerja, serta memperhatikan kesehatan mental sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Diskusi menyimpulkan bahwa kecelakaan kerja tidak hanya soal helm dan sepatu safety. Kelelahan mental akibat tekanan produksi juga bisa menyebabkan pekerja lengah, mengantuk, dan akhirnya celaka. Karena itu, PUK mendesak agar indikator K3 di perusahaan juga memasukkan aspek psikososial.

Gabungan PUK SPLP FSPMI Morowali menegaskan komitmennya untuk terus mendorong dialog konstruktif antara pekerja dan para pemangku kepentingan di sektor industri. Langkah ke depan, hasil diskusi ini akan dirumuskan menjadi rekomendasi resmi.

Beberapa poin yang akan didorong antara lain: audit beban kerja riil di lini produksi, penyediaan layanan konseling pekerja, pelatihan untuk foreman soal kepemimpinan tanpa tekanan, serta penegakan aturan jam kerja sesuai UU Ketenagakerjaan.Diharapkan hasil diskusi ini dapat menjadi masukan dalam upaya mewujudkan hubungan industrial yang harmonis, adil, dan berkelanjutan, sehingga kesejahteraan pekerja dapat terus ditingkatkan seiring dengan perkembangan industri di Kabupaten Morowali.

Gabungan PUK menyebut kegiatan serupa akan rutin digelar tiap tiga bulan sekali sebagai early warning system untuk mendeteksi masalah ketenagakerjaan sebelum jadi konflik besar.

Penulis : Malik
Editor : Yanto