Dua Buruh Perempuan Batam Baca Puisi Saat Aksi

  • Whatsapp

Batam, KPonline – Demo 2 Desember juga dilakukan buruh di Batam, Kepulauan Riau. Dalam hajatnya, buruh Batam menolak PP 78/2015. Mereka mendesak Gubernur Kepri agar menetapkan UMK 2017 tidak mengikuti PP 78/2015.

Dalam suatu kesempatan, di atas mobil komando dua orang aktivis perempuan membacakan puisi. Keduanya adalah Wenti Anggreini (PUK PID) dan Effi Komariana (PUK Sanmina).

Bacaan Lainnya

Membaca puisi dalam aksi merupakan sesuatu yang menarik. Selain menambah semangat peserta aksi, menghidupkan suasana menjadi semarak, dalam puisi juga bisa mengandung pesan perjuangan.

Berikut puisi yang mereka bacakan:

“Buruh Batam Bersuara”

Suara hati kami menceritakan
Serentetan kisah yang terjadi
Dalam balutan dinginnya hujan
Dan panasnya terik matahari yg membakar nurani
Yang tak kan membuat kami gentar
Untuk menyuarakan dengan tegas Dan lantang
Meminta kepada sang pemangku wewenang
Untuk mendengarkan Dan memenuhi tuntutan kami

Kami pilih, kami beri kepercayaan pada kalian tuk memimpin Negri ini
Tapi APA…tapi APA..
Hak kami kalian ambil
Kalian kunci mulut kami
Kalian borgol tangan kami
Kalian hancurkan masa depan keluarga kami
Kalian buat kami bagai manusia tak bermartabat
Wahai penguasa kembalikan hak kami
Kembalikan…!!!

Kalian bungkam kami dengan segala kebijakan-kebijakan
PP No 78/2015 tentang pengupahan yang mampu membunuh kami
Juga masa depan keluarga kami
Seperti itukah para pemimpin negeri ini
Yang tega menghancurkan masa depan generasi penerus bangsa

Upah rata-rata buruh Indonesia lebih rendah dari upah buruh Vietnam, Thailand, Philipina bahkan negara tetangga kita Malaysia
Jangan beri kami upah murah
Naikkan upah 2017 sebesar Rp 650 ribu

Kami bukan pencari jati diri
Kami bukan pengacau
Tapi kami menuntut hak dari tetesan keringat kami yang belum terbalaskan
Kami berjuang untuk kesejahteraan yang semestinya sudah lama kami nikmati
Kami meminta ketentraman dan keadilan
Dengarlah dan penuhi tuntutan kami
Karena kami meminta dengan penuh perjuangan
Bukan belas kasih.

Penulis: Darmo Juwono
Fotografer: Suryono AR’ridho

Pos terkait