Membaca Ramalan

  • Whatsapp

Sidoarjo, KPonline – Dalam Jongko Joyoboyo disebutkan bahwa tanah Pertiwi akan berjaya jika telah datang Ratu Adil. Demikian pula dalam Jongko Sabdo Palon dan Noyo Genggong menuturkan. Bahwa dalam 500 tahun tanah Pertiwi akan mengalami carut marut. Hingga digambarkan dengan kalimat: Wong Jowo kari separo, Cino Londo kari sakjodo.

Maka setelah itu kedua punakawan Raja Brawijaya itu (Sabdo Palon dan Noyo Genggong) akan turun untuk menyudahi kekacauan itu.

Abad ini adalah masa berakhirnya 500 tahun yang di maksud.

Maka ucapkan selamat datang kepada Ratu Adil yang di maksud oleh Sri Aji Joyoboyo, juga ucapkan selamat datang kepada Sabdo Palon dan Noyo Genggong.

Tetapi jangan ditelan mentah – mentah. Karena yang dimaksud dengan kêdatangan Ratu Adil, Sabdo Palon dan Noyo Genggong adalah tembung sanepan/kiasan. Bisa jadi bukan sosok personal yang akan mengatasi permasalahan super berat bak super hero.

Yang masuk akal jaman sekarang dalam menterjemahkan kemunculan Ratu Adil, Sabdo Palon Noyo Genggong adalah kemunculan gerakan secara bersama yang bisa mengimbangi segala kekuatan jahat.

Bisa jadi mengejawantah pada kumpulan buruh yang baik dalam gerakan buruh. Bisa juga mengejawantah dari mahasiswa, kelompok – kelompok masyarakat. Bisa juga mengejawantah dari semua golongan itu dan bersatu. Yaitu golongan orang – orang baik yang logikanya adalah mayoritas, yang adalah kumpulan orang – orang baik, yang punya keberanian melawan orang – orang yang jahat yang kini berkuasa.

Coba kalian pikir, jika rakyat yang selama ini dijahati kemudian bersatu, kekuatan mana yang akan bisa membendung? Apakah partai politik? Apakah tentara? Apakah Polisi? Apakah kekuatan preman yang bisa membendung mereka?

Sadarlah…

Ratu Adil itu ada dalam dirimu, rakyat Indonesia yang memiliki jiwa merdeka. Sabdo Palon itu adalah kamu yang, orang yang masih mau memikirkan kemanusiaan. Noyogenggong itu adalah rakyat yang hatinya bergemuruh ketika ada penindasan.

Seberapa kuat kepercayaan diri kita mewujudkan semua itu? (*)

Sidorajo, 24 Maret 2015