Disaat Pekerja Mulai Memilih Work-Life Balance, Apakah Dunia Kerja Harus Berubah?

Disaat Pekerja Mulai Memilih Work-Life Balance, Apakah Dunia Kerja Harus Berubah?

Purwakarta, KPonline-Ada yang beranggapan bahwa dunia kerja saat ini sedang mengalami perubahan. Dan salah satu perubahan yang semakin terasa adalah munculnya cara pandang baru di kalangan pekerja, dimana bekerja bukan lagi sekadar tentang berapa lama seseorang berada di tempat kerja, tetapi tentang bagaimana pekerjaan dapat berjalan seimbang dengan kehidupan.

Istilah work-life balance? Bagi sebagian pekerja, memiliki waktu untuk keluarga, kesehatan, kehidupan sosial, beristirahat, dan mengembangkan diri mulai dianggap sama pentingnya dengan mendapatkan penghasilan.

Bacaan Lainnya

Perubahan ini tentu bukan berarti pekerja menjadi malas atau tidak memiliki semangat bekerja. Justru sebaliknya, semakin banyak pekerja yang mulai menyadari bahwa hidup tidak boleh sepenuhnya dihabiskan untuk bekerja.

Dahulu, ukuran seorang pekerja yang dianggap loyal sering kali dikaitkan dengan kesediaannya bekerja lembur, menerima tambahan beban kerja, atau datang lebih awal dan pulang lebih larut. Bahkan, tidak jarang kehidupan pribadi harus dikorbankan demi mengejar target perusahaan.

Namun kini pertanyaannya mulai berubah. Apakah bekerja keras harus selalu berarti bekerja lebih lama? Bisa jadi tidak.

Pekerja hari ini mulai melihat bahwa produktivitas tidak semata-mata ditentukan oleh panjangnya jam kerja. Kondisi fisik, kesehatan mental, hubungan keluarga, lingkungan kerja, hingga kesempatan untuk memiliki kehidupan di luar pekerjaan juga dapat memengaruhi kualitas seseorang dalam bekerja.

Seorang pekerja yang setiap hari pulang dalam kondisi kelelahan, kehilangan waktu bersama keluarga, dan tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat tentu pada akhirnya dapat mengalami penurunan produktivitas. Sebaliknya, pekerja yang mendapatkan waktu istirahat yang cukup dan memiliki kehidupan yang lebih seimbang berpotensi datang ke tempat kerja dengan kondisi fisik dan pikiran yang lebih baik.

Karena itu, work-life balance seharusnya tidak dipandang sebagai tuntutan generasi pekerja yang ingin enak-enakan. Ia merupakan bagian dari perubahan paradigma dalam hubungan industrial.

Perusahaan pun dituntut untuk mulai memahami bahwa pekerja bukan sekadar angka dalam laporan produksi. Di balik setiap target, ada manusia yang memiliki keluarga, kebutuhan sosial, cita-cita, dan kehidupan pribadi.

Tentu, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan tidak berarti seluruh tuntutan perusahaan harus dikurangi. Dunia industri tetap membutuhkan produktivitas, disiplin, target dan tanggung jawab. Tetapi hubungan tersebut harus dibangun secara adil.

Perusahaan membutuhkan produktivitas pekerja, sementara pekerja membutuhkan pekerjaan yang mampu memberikan kehidupan yang layak.

Disinilah peran serikat pekerja menjadi penting. Karena Perjuangan serikat pekerja tidak hanya berbicara tentang kenaikan upah atau persoalan PHK.

Kedepan, isu mengenai jam kerja yang manusiawi, hak istirahat, cuti, kesehatan dan keselamatan kerja, kesehatan mental, fleksibilitas kerja, serta keseimbangan kehidupan dan pekerjaan juga harus lebih masif lagi disuarakan menjadi bagian dari isu perjuangan.

Sebab, tujuan akhir dari bekerja bukan sekadar bertahan hidup sampai hari gajian.

“Bekerja seharusnya menjadi jalan untuk meningkatkan kualitas kehidupan”

Jika pekerja mulai memilih work-life balance, mungkin bukan pekerjanya yang berubah menjadi kurang loyal. Bisa jadi justru definisi tentang loyalitas, produktivitas, dan keberhasilan dalam dunia kerja yang memang sudah waktunya berubah.

Perusahaan yang mampu membaca perubahan zaman akan melihat work-life balance bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai investasi jangka panjang. Sebab pekerja yang merasa dihargai sebagai manusia akan memiliki alasan yang lebih kuat untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan.

Pada akhirnya, dunia kerja membutuhkan sebuah keseimbangan. Perusahaan tidak boleh hanya bertanya, “Berapa banyak yang bisa diberikan pekerja kepada perusahaan?”

Tetapi juga harus bertanya:

“Seberapa jauh perusahaan mampu memberikan kehidupan yang layak bagi pekerjanya?”

Karena dibalik setiap seragam kerja, setiap mesin yang beroperasi, dan setiap target produksi yang tercapai, ada manusia yang juga ingin pulang tepat waktu, berkumpul dengan keluarga, menikmati hidup, dan menjadi dirinya sendiri.

Dan mungkin, inilah wajah baru dunia kerja yaitu bekerja untuk hidup, bukan hidup hanya untuk bekerja.

Pos terkait