Dari Survei Pasar, Pemerintah Tertuduh atas Nasib Pedagang yang Sepi Pembeli

  • Whatsapp

Mojokerto, KPonline – Disela-sela tugas sebagai Tim Survey Pasar FSPMI, kami mencoba menggali keluh kesah para pedagang di pasar Legi Citra Niaga, Jombang.

Hampir semua pedagang yang kami data mengeluh lesunya minat pembeli di pasar ini. Hal ini hampir di keluhkan oleh seluruh pedagang hasil industri, pakaian, perabot rumah tangga dan lainnya. Rata-rata mereka tidak mengetahui faktor apa yang melatar belakangi lesunya minat belanja pada produk yang mereka jual akhir akhir ini.

Seorang pedagang ia menuturkan, sudah hampir 4 tahunan ini minat belanja penduduk sekitar pasar legi menurun. Tapi anehnya, menurut pedagang pakaian sebut saja namanya pak Alim, bahwa dua tahun terakhir ini malah banyak pedagang baru yang bermunculan di pasar tersebut. Walau rata-rata pedagang baru itu hanya sebagai pedagang musiman dan pedagang kaki lima.

“Di tengah lesunya penjualan atau menurunnya minat beli masyarakat, kok malah bermunculan pedagang baru, ini kan aneh to mas,“ keluh pak Alim kepada kami.

Bisa saja mereka itu (pedagang baru) berusaha mencari peruntungan karena mereka sudah tidak ada kerjaan atau hanya untuk mencari tambahan penghasilan.

“Lahh…, ini kan akan lebih memperburuk keadaan kami to mas, sebagai pedagang lama di pasar ini,” Imbuh pak Alim lagi.

Senada dengan pak Alim seorang pedagang ketan sambel yang mangkal di depan tokok pak Alim menyahut, “Yah mas, sekarang jualan sepi beda dengan masa pemerintahan sebelumnya. Dulu mas dagang itu harganya stabil, saya ini sudah merasakan 7 kali pergantian presiden, hanya di era presiden Soeharto, BJ Habibie dan Gus dur yang saya rasakan mengenakkan nasib kami mas, ” ujarnya kepada kami.

Disebelah agak jauh sedikit dari toko pak Alim, pedagang perabot rumah tangga juga mengeluh kepada kami akan lesunya penjualan akhir-akhir ini. Menurut dia untuk menjaga agar bisa tetap berjualan terpaksa dia menurunkan nilai keuntungannya, karena kalau dia tetap menjual dengan keuntungan yang normal bisa bias malah tidak laku untuk dijual.

Entah mengapa dia kok malah curhat kepada kami, “mas Mbok ya Kami dibantu, nitip pesan Kepada yang di atas sana Mbok ya memikirkan nasib kami pedagang kecil kayak kami, kalau kami pada tutup terus yang menjualkan hasil produk sampean yang kerja di pabrik siapa?? kalau sudah tidak terjual terus sampean-sampean gajiannya dari mana??, ” Tanyanya sambil memelas.

Hampir senada dengan pedagang​ tadi, para penjual sayur mayur, ikan, tahu dan tempe juga mengeluhkan ketidak stabilan harga. Menurut mereka harga barang dagangan itu tergantung sepenuhnya akan stok ketersedian barang dari petani dan peternak. Satu contoh kenaikan harga telur akhir akhir ini karena kurangnya stok telur dari peternak.

Di akhir perbincangan kami dengan pedagang, kami sempatkan untuk bertanya. Apakah harapan-harapan mereka di tahun mendatang khusunya kepada pemerintah. Mereka sepakat agar terjadinya perubahan pemerintah bahkan bila perlu pergantian pimpinan yang lebih baik. (Slamet Gondrong)