“Batu Batu Bersuara”, Langkah Besut Jajah Deso Milangkori di Mojokerto

“Batu Batu Bersuara”, Langkah Besut Jajah Deso Milangkori di Mojokerto

Mojokerto, KPonline – Di bawah naungan Gedung Nuswantara, Universitas Islam Majapahit (UNIM) Mojokerto, sebuah pesan besar tentang kemanusiaan dan alam menggema melalui pementasan Ludruk Garingan “Besut Jajah Deso Milangkori”. Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan sebuah seni budaya yang mempersatukan, sebuah medium yang meneruskan spirit pembawa pesan moral bagi masyarakat modern.

 

Bacaan Lainnya

Mengusung tema “Batu-batu Bersuara”, sang maestro Meimura mengajak kita menyelami kearifan lokal Mojokerto yang kian hari kian tergerus. Di atas panggung, dialektika pecah antara tokoh Man Jamino ( diperankan Taufiq Hidayat) dan Sumo Gambar (diperankan Kukun Triyoga) tentang eksploitasi penambangan batu dan pasir. Pesannya jelas: alam bukan sekadar komoditas. Ketamakan tanpa pertimbangan keselamatan hanya akan melahirkan bencana.

 

Puncak emosi pementasan terjadi saat Dr. Wawan Hermawan, Dekan FKIP UNIM, ditarik naik ke atas panggung untuk menerima “sampur”. Sebagai seorang akademisi dan pemimpin, ia memberikan “fatwa” budaya: bahwa menjaga lingkungan adalah kewajiban moral yang tak bisa ditawar. Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang sadar akan keberlanjutan hidup anak cucu kelak.

 

“Jajah Deso Milangkori” membuktikan bahwa kesenian tradisi adalah entitas yang tangguh. Ludruk tidak butuh panggung megah atau gamelan lengkap untuk menyentuh sanubari. Ia bisa hadir di mana saja, menjadi ruang diskusi interaktif yang membedah fakta sejarah yang kerap disamarkan.

 

Seperti ditegaskan oleh Ki Bagong Sinukarto dan Akhmad Fatoni dalam diskusi usai pentas, tokoh seperti Sarip dan Sakerah adalah representasi pahlawan rakyat. Ludruk adalah sarana perlawanan melalui budaya. Ia adalah simbol hidup yang terus dimaknai ulang agar bangsa ini tidak menjadi bangsa yang “kabotan jeneng” (keberatan beban nama besar) namun kehilangan ruh perjuangannya.

 

Kehadiran mahasiswa dalam perayaan kebudayaan ini menjadi angin segar. Dr. Wawan mengingatkan bahwa pendidikan dan kebudayaan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Mengutip semangat Bung Karno, ia menegaskan:

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya. Spanduk acara boleh dilipat, tetapi kesadaran budaya jangan sampai ikut terlipat.

 

Pementasan yang ditutup secara khidmat dengan lagu “Bagimu Negeri” ini menjadi pengingat bagi mahasiswa, dan seluruh lapisan masyarakat: bahwa menjadi pemimpin yang militan berarti harus berani berdiri tegak di atas akar identitas sendiri.

 

Besut Jajah Deso Milangkori telah mengajarkan kita bahwa ketika budaya hidup, peradaban pun bernapas. Merawat tradisi adalah cara kita menghormati masa lalu sekaligus membentengi masa depan dari gerusan globalisasi. Lestarikan, atau kehilangan nyawa bangsa!

Pos terkait