Antara Kinipan dan Perjuangan Komunitas Sidoarjo Melawan Untuk Masyarakat Kedungbanteng

Antara Kinipan dan Perjuangan Komunitas Sidoarjo Melawan Untuk Masyarakat Kedungbanteng

Sidoarjo, KPonline – Satu Komunitas kaum muda Kota Delta bernama ” Sidoarjo Melawan”, malam ini Selasa,6 April 2021 mengadakan agenda Diskusi tentang sebuah daerah di Kalimantan dimana masyarakat nya sangat terdampak dengan adanya Industrialisasi serta nonton bareng kisahnya yang terekam dalam film dokumenter berjudul ” Kinipan ” yang merupakan karya Watchdoc .

Bacaan Lainnya

Agenda ini diselenggarakan di Angkringan Slasik Klasik yang berada di Candi,Sidoarjo , diikuti puluhan peserta yang mayoritas adalah aktivis mahasiswa.

Menyaksikan film tersebut benar benar membuka mata para peserta akan semakin parahnya alam Indonesia dan dibutuhkan orang orang yang berani melawan sistem yang mengeksploitasi alam hanya untuk meraup keuntungan.

Akibat adanya Industrialisasi di Kinipan nyatanya telah membuat ekosistem rusak,hewan hewan punah,hewan predator berkurang sehingga hama ladang seperti babi hutan berkembang pesat yang akhirnya merusak tanaman warga Kinipan.

Ditambah dengan adanya UU Cipta Kerja (Omnibuslaw) semakin mempermudah industrialisasi dan pada akhirnya Masyarakat Dayak lah yang merasakan dampak buruknya.

Lalu apa hubungannya dengan Komunitas Sidoarjo Melawan ?

Ternyata Komunitas Kaum muda ini sudah ada sejak sekitar tahun 2018 saat munculnya Pengeboran gas oleh PT Minarak Lapindo di desa Kedungbanteng .

Sebuah daerah yang tidak jauh dari Lapindo Porong ini juga merasakan dampak buruk atas pengeboran tersebut seperti Warga kehilangan sawah,Banjir yang tak kunjung surut bahkan hingga berbulan bulan.

Berawal dari kecintaan mereka terhadap daerahnya,mereka juga tidak ingin apa yang dialami warga Porong terulang kembali .

Upaya Sosial dan Advokasi mereka lakukan,saat terjadi banjir mereka membuat posko untuk penyaluran bantuan hingga membantu warga meninggikan lantai rumahnya agar bisa lebih tinggi dari permukaan air saat banjir.

Namun naas ,menurut sebuah kajian yang disampaikan oleh Ketua Tim Kajian ITS Surabaya lalu Amien Widodo pada Desember 2020 lalu mengatakan, beberapa tim diturunkan dalam penanganan genangan Desa Kedungbanteng dan Banjarasri. Diantaranya Tim Penurunan Tanah, Tim Pemetaan dengan drone, Tim Hydrologi, serta Tim Geofisika dan Tim Perencanaan Wilayah Kota. Tim itu yang melihat lebih jelas penyebab genangan yang kemudian akan dikeluarkan rekomendasi penanganannya.

Dari hasil kajiannya terdapat penuruan tanah di sebagaian wilayah yang tergenang. Bahkan disatu tempat ada penurunan tanah sampai 10 cm dalam waktu sebulan.

Teryata banyak faktor terjadinya penurunan tanah. Seperti pemompaan secara berlebihan dari Lapindo di sekitar wilayah itu. Namun dari laporan Kades Banjarpanji, saat ini aktifitas penyedotan air tanah sudah berhenti. ”Harusnya ada penambahan pengukuran sekali lagi sehingga kita bisa tahu rata-rata penurunannya atau bahkan penurunannya sudah berhenti,” ucapnya.

Perjuangan Komunitas Sidoarjo Melawan ini banyak mendapatkan halangan salah satunya adalah sikap Masyarakat sendiri yang sudah trauma terhadap LSM atau personal yang awalnya akan mengadvokasi ternyata justru memanfaatkan situasi untuk mendapatkan keuntungan sehingga saat Komunitas Sidoarjo Melawan masuk kesana mereka pun seperti tidak diterima .

Meski demikian hingga malam hari ini mereka masih tetap yakin akan perjuangan dan akan terus bersama Warga Kedung Banteng untuk melakukan advokasi .

Lanjut pada diskusi yang terjadi malam ini para pembicara yang memimpin Faizal,Haidar (Aktivis Jalanan) menyatakan bahwa setelah menyaksikan Film Dokumenter Kinipan membuat mereka mengetahui bahwa Perjuangan lingkungan hidup sangat sulit dan berat namun justru menguatkan semangat untuk berjuang sebuah kalimat terlontar yakni lebih baik kalah dalam keadaan berjuang dari pada kalah tapi tidak berbuat apa apa.

Diskusi pun berlanjut setelah pemutaran film Dokumenter Kinipan usai.(foto Anam)

Jika saat ini heboh tentang terorisme yang meledakkan sebuah gereja maka mereka yang melakukan perusakan terhadap alam juga masuk kategori Teroris .

Selanjutnya Ica (Aliansi Literasi Surabaya) yang turut hadir malam ini juga menyatakan bahwa UU Cipta Kerja sudah cacat sejak pembahasan nya dan setelah ditetapkan pada Oktober lalu,Dunia Perburuhan,Lingkungan dan Pendidikan sangat mengalami degradasi dan kemunduran.

Ica mengajak kaum muda Sidoarjo untuk bergabung dengan elemen masyarakat lain saat melakukan perlawanan terhadap UU Cipta Kerja seperti yang dilakukan oleh Aliansi Getol Jatim.

IA dan DN yang merupakan anggota Komunitas Sidoarjo Melawan menyampaikan bahwa secara tersirat apa yang terjadi di Kinipan juga terjadi di Sidoarjo meskipun dengan kultur budaya yang berbeda.

Perumahan dan Kawasan Industri di Kabupaten yang merupakan penyangga kota Surabaya ini sudah semakin menjamur sehingga area yang seharusnya menjadi lahan hijau semakin menipis.

Dampaknya banjir mulai menggenangi warga terlebih masyarakat kampung yang terdampak karena biasanya lahan perumahan akan diuruk tinggi,mereka menyesalkan pendapat masyarakat yang menyalahkan alam pada saat terjadi bencana padahal itu bersumber dari keserakahan Pemerintah dan Oknum Masyarakat itu sendiri.

Itulah alasan kenapa Diskusi dan Nobar Film Dokumenter Kinipan ini kami adakan malam ini,kami berharap agar masyarakat terutama generasi muda bisa sadar dan mulai turut serta dalam upaya pelestarian alam karena sebagai manusia tidak akan pernah lepas dari alam,jika kita menyakiti alam itu sama saja menyakiti diri kita sendiri.

Komunitas Sidoarjo Melawan juga menyatakan perlawanan nya terhadap UU 11 tahun 2020 (UU Cipta Kerja / Omnibuslaw) karena UU ini menjadi karpet merah atas kedatangan investor investor rakus yang tidak pernah memikirkan kelestarian alam dimana masyarakat lah yang akan menjadi korban dampak buruknya .

Forum diskusi malam ini tidak akan berhenti dan akan kita lanjutkan agar semakin banyak masyarakat yang mengetahui bagaimana gambaran masa depan alam dan dampak buruknya jika hari ini baik Pemerintah dan Masyarakat tidak sadar untuk mulai merawatnya.

“Diskusi ini adalah upaya kami untuk mengedukasi dan melindungi sedangkan upaya pencegahan ada ditangan penguasa ,Indonesia sangat krisis orang baik dan peduli “,pungkas IA dan DN.

Satu catatan menarik dari diskusi malam ini adalah “Budaya Agraris adalah budaya Gotong royong sedangkan Budaya Industri adalah Individual dan Omnibuslaw sangat merubah Agraris menjadi Industri”.

Khoirul Anam