Surabaya, KPonline – Ada satu pertanyaan yang sering muncul di media sosial yang berbunyi “Kenapa sih para Buruh itu kok seneng demonstrasi, kan semua bisa dibicarakan dengan baik bersama pemerintah? mungkin tulisan berikut bisa menjawabnya.
Kamis, 16 april 2026, dalam rangka menuju peringatan Hari Buruh Internasional, FSPMI Jawa Timur melakukan aksi demonstrasi dengan ribuan massa aksi, didalam salah satu tuntutannya menyebutkan bahwa Pemprov Jatim harus menjalankan kesepakatan antara Gubernur dan Serikat pekerja saat Mayday 2025.
Artinya meskipun sudah ada kesepakatan dan tertulis pun ternyata para pemangku kebijakan tersebut nyaris tidak menjalankan dengan baik bahkan cenderung mengabaikan.
Beberapa hal adalah terkait Perda Jaminan Pesangon, Perumahan bersubsidi untuk buruh, penerapan tenaga kerja alih daya yang sesuai aturan, pembentukan satgas pencegahan PHK, mengkaji kebijakan pajak kendaraan bermotor dan beberapa tuntutan lain.
Padahal dulu tertulis dan disampaikan kepada massa aksi pada saat saat berakhirnya demontrasi, itupun setelah satu tahun berjalan ternyata belum ada progress yang dijalankan. Jawaban para pejabat terkait justru berbeda dan melenceng dari yang seharusnya.
Sekarang bagaimana kalau tuntutan hanya di bicarakan saja, mereka bakal lebih santai dan lebih tidak menganggap tuntutan tersebut dan mereka akan santai saja, artinya suara kita, tuntutan kita hanya akan masuk tong sampah saja.
Maka demonstrasi harus tetap dilakukan, sehingga yang mengontrol adalah ribuan orang dan tidak hanya pimpinan buruh saja.
“Maka mau sebagus apapun konsep, tak kau kawal maka berakhir di tong sampah”, Seperti yang disampaikan oleh Pengurus DPW FSPMI Jawa Timur, Ardian Safendra.
(Khoirul Anam)



