Morowali, KPonline – Gerakan Persatuan Buruh Morowali atau GPBM resmi terbentuk. Aliansi ini terdiri dari tujuh serikat pekerja, yaitu SPLP FSPMI, F-SPIM, SPIS, SBIPE, NIKEUBA, SEBUMI, dan SBIMI.
Pembentukan GPBM merupakan respons atas berbagai persoalan ketenagakerjaan di Kabupaten Morowali, khususnya di kawasan industri. Tujuh serikat pekerja sepakat menyatukan kekuatan untuk memperjuangkan hak-hak buruh secara kolektif.
Dalam konsolidasi awal, GPBM bersepakat menggelar aksi di dua titik. Aksi pertama akan dilaksanakan pada Jum’at, 1 Mei 2026 di Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park, IMIP. Aksi kedua digelar pada Senin, 4 Mei 2026 di Kantor Pemda Kabupaten Morowali.
Presidium GPBM menyatakan aksi May Day 2026 membawa sejumlah tuntutan utama. Di antaranya penolakan terhadap praktik outsourcing yang merajalela di IMIP, penghapusan sistem kerja kontrak berkepanjangan untuk pekerjaan inti, penerapan upah layak, serta jaminan keselamatan dan kesehatan kerja.
“Masalah di Morowali tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri. Dengan bersatu dalam GPBM, suara buruh akan lebih kuat didengar oleh perusahaan dan pemerintah,” ujar salah satu perwakilan serikat.
GPBM juga mendesak Pemda Morowali untuk aktif melakukan pengawasan ketenagakerjaan di seluruh tenant IMIP dan memastikan tidak ada pelanggaran hak normatif pekerja. Isu peralihan pekerja antar perusahaan tanpa kejelasan status dan hilangnya hak pesangon menjadi sorotan khusus dalam rencana aksi 4 Mei.
Seluruh elemen GPBM mulai melakukan konsolidasi di tingkat basis dan sosialisasi ke anggota masing-masing. Garda pengamanan aksi dan tim advokasi juga telah dibentuk untuk memastikan aksi berjalan tertib dan terukur.
GPBM menegaskan aksi yang dilakukan adalah aksi damai dan konstitusional sebagai bagian dari peringatan Hari Buruh Internasional 2026.
Penulis : Syukur
Editor : Yanto