FSPMI Semarang melakukan aksi menuntut upah layak. (Foto: Tim Media Semarang)

FSPMI Semarang melakukan aksi menuntut upah layak. (Foto: Tim Media Semarang)

Surat Untuk Para Penerima UMSP atau UMSK

Posted by

Aku menuliskan ini dengan hati yang terbakar cemburu. Sama-sama buruh, tetapi kamu seperti memiliki kasta yang lebih tinggi, dan oleh karenanya berhak mendapatkan upah lebih tinggi.

Jika bisa memilih, aku juga ingin memilih bekerja di sektor industri seperti tempatmu bekerja. Tetapi hidup tidak menyediakan satu pilihan. Ada orang-orang yang kemudian ditakdirkan bekerja di perusahaan-perusahaan yang dianggap ecek-ecek, sehingga boleh dibayar lebih rendah.

Pabrik yang memproduksi kaleng rombeng memang tidak sama dengan pabrik dengan hasil produksi mentereng. Tetapi apa yang beda dengan buruh-buruhnya? Sama seperti kalian, kami juga ingin mendapat gaji yang besar.

Bukankah adanya sektor unggulan karena ada yang tak diunggulkan? Dalam hal ini, kita sebenarnya sama.

Sebelum membahas hal ini lebih jauh, baiklah, akan saya tegaskan posisi saya. Saya setuju dengan keberadaan UMSK dan UMSP. Saya tidak dalam posisi seperti orang-orang yang memandang buat apa ada upah sektoral — hanya karena tidak sanggup berjuang untuk mendapatkannya.

Sesuatu yang baik harus didukung. Apapun itu namanya. Bukankah jika tidak melalui kebijakan publik, di tingkat perusahaan pun kita akan berunding untuk mendapatkan yang lebih baik? Jadi tidak ada yang salah dengan upah sektoral. Terkutuklah jika ada aktivis buruh yang ingin agar upah sektoral dihilangkan.

Tentu saja, aku saya senang ketika perjuangan UMSK atau UMSP menang. Kami tidak iri, yang kemudian berharap agar apa yang kalian dapatkan dihilangkan. Lalu sama rasa sama rata, mendapatkan upah sebesar UMK — tanpa huruf ‘S’ di dalamnya.

Itulah sikap saya. Semoga kalian tidak salah paham jika akhirnya saya menuliskan surat ini.

Bahkan, bagi saya, upah sektoral adalah kemenangan kita. Kemenangan bersama.

Kalian tentu tahu, jika kita juga berada dalam barisan yang sama ketika menuntut upah layak. Hujan panas kita lalui bersama, meskipun kemudian hasil akhirnya berbeda.

Tidak apa-apa. Tetapi satu hal yang ingin saya sampaikan kepada kalian, bahwa dengan upah yang lebih baik, semestinya kalian mengambil tanggungjawab lebih.

Jangan seolah-olah perjuangan hanya dibebankan kepada mereka yang susah. Lalu kalian enak-enakkan di rumah menikmati hasilnya.

Bahwa kami yang masih mendapatkan upah minimum tanpa tunjangan apapun ini harus berjuang lebih keras, kami setuju. Tetapi bukankah kita berasal dari kelas yang sama? Mari berjuang bersama.

Sudah sering kami dengar, mereka yang mendapatkan lebih menjadi tidak lagi peduli. Mereka yang tadinya garang di medang juang mendadak hilang ingatan ketika hak normatif dan berbagai tunjangan sudah didapatkan.

Dengan disahkannya upah minimum sektoral, semestinya semakin meneguhkan keyakinan, bahwa itu didapat dari hasil perjuangan.

Tidak ada jaminan, bahwa apa yang kalian dapatkan sekarang akan tetap kalian dapatkan nanti. Jangan lengah…

Facebook Comments

Comments are closed.