Satu Peristiwa, Banyak Sudut Pandang ‘Angle’ : Seni Mengembangkan Berita dalam Jurnalistik

Satu Peristiwa, Banyak Sudut Pandang ‘Angle’ : Seni Mengembangkan Berita dalam Jurnalistik
Dokumentasi saat peserta pelatihan dasar jurnalistik memotret para pengurus Media Perdjoeangan Bekasi (18/10/2026) Fotografer : Kusnandar

Bekasi, KPonline – Satu peristiwa bisa melahirkan banyak tulisan. Kuncinya bukan mencari peristiwa yang berbeda, melainkan menemukan sudut pandang atau ‘angle’ yang berbeda dari peristiwa yang sama.

Dalam dunia jurnalistik, seorang penulis tidak cukup hanya mencatat apa yang terjadi, siapa yang terlibat, kapan dan di mana peristiwa berlangsung. Lebih dari itu, seorang jurnalis harus mampu melihat berbagai sisi yang memiliki nilai berita.

Sebuah kegiatan organisasi, misalnya, bisa menghasilkan sejumlah berita dengan fokus yang berbeda. Mulai dari jalannya kegiatan, pesan yang disampaikan tokoh, perjuangan peserta, peran perempuan, hingga dampak kegiatan bagi organisasi dan anggotanya.

Ambil contoh kegiatan Pelatihan Dasar Jurnalistik Media Perdjoeangan Bekasi yang dilaksanakan pada Minggu, 18 Oktober 2026.

Dari satu kegiatan tersebut, setidaknya ada beberapa sudut pandang yang bisa dikembangkan menjadi tulisan berbeda. Berikut tujuh Angel berita dari satu peristiwa :

1. Angle Kegiatan – Mengulas jalannya acara, tujuan, peserta, dan hasil kegiatan.
2. Angle Narasumber – Mengangkat pernyataan, gagasan, atau pesan penting dari tokoh.
3. Angle Perjuangan Organisasi – Menyoroti kaitan peristiwa dengan perjuangan dan kepentingan organisasi.
4. Angle Peserta – Menggali pengalaman, antusiasme, dan harapan peserta.
5. Angle Tokoh Perempuan – Mengangkat peran, kontribusi, dan pemikiran perempuan.
6. Angle Pendidikan – Menyoroti proses pembelajaran, peningkatan pengetahuan, dan pengembangan keterampilan.
7. Angle Human Interest – Mengangkat kisah personal, sisi kemanusiaan, dan pengalaman inspiratif di balik peristiwa.

Selanjutnya untuk menghasilkan banyak tulisan dari satu peristiwa, seorang jurnalis dapat menggunakan langkah sederhana.

Pertama, kumpulkan seluruh fakta dan informasi. Catat siapa saja yang hadir, apa yang disampaikan, bagaimana kegiatan berlangsung, serta persoalan apa yang muncul.

Kedua, tentukan fokus setiap tulisan. Jangan sampai beberapa berita hanya berbeda judul, tetapi isi dan gagasan utamanya sama.

Ketiga, gali informasi dari berbagai narasumber. Panitia, peserta, pemateri, tokoh organisasi, dan pihak yang terdampak bisa memberikan perspektif berbeda.

Keempat, susun judul dan teras berita sesuai angle yang dipilih. Jika fokusnya perjuangan buruh, tonjolkan relevansi kegiatan terhadap perjuangan. Jika fokusnya tokoh, gali pemikiran, pengalaman, dan kontribusinya.

Kelima, pastikan setiap tulisan memiliki nilai tambah. Jangan memaksakan banyak berita jika informasinya belum cukup. Setiap artikel harus memiliki fakta yang jelas, sudut pandang yang kuat, dan tidak mengulang isi berita lain.

Kemampuan mengembangkan satu peristiwa menjadi banyak tulisan merupakan keterampilan penting bagi kontributor Media Perdjoeangan. Namun, produktivitas tidak boleh mengalahkan akurasi.

Satu peristiwa memang dapat melahirkan banyak berita, tetapi setiap berita harus menjawab pertanyaan yang berbeda dan memberikan informasi baru kepada pembaca.

Di sinilah kreativitas seorang jurnalis diuji. Ia tidak hanya melihat apa yang tampak di permukaan, tetapi juga menggali makna, perjuangan, gagasan, dan dampak di balik sebuah peristiwa.

“Satu peristiwa menyediakan bahan. Banyaknya sudut pandang melahirkan beragam tulisan. Ketajaman jurnalis menentukan seberapa jauh fakta itu bisa dikembangkan menjadi berita yang bermakna”