Saat “Besut” Menjala Sampah: Sindiran Pedas Lewat Ludruk untuk Warga Gunung Anyar

Saat “Besut” Menjala Sampah: Sindiran Pedas Lewat Ludruk untuk Warga Gunung Anyar

Surabaya, KPonline – Apa jadinya jika seorang nelayan menebar jala, namun bukannya ikan yang didapat, malah televisi bekas dan tumpukan popok bayi? Pemandangan miris sekaligus menggelitik itulah yang tersaji dalam pementasan Ludruk Garingan “Besutan” di Balai RW 8 Gunung Anyar Emas, Surabaya, Sabtu (4/4).

Lewat lakon yang dibawakan seniman kawakan Meimura, persoalan lingkungan yang pelik disulap menjadi tontonan yang segar namun penuh tamparan bagi kesadaran masyarakat.

Pesan Lingkungan di Balik Gelak Tawa
Dalam pertunjukan tersebut, Meimura yang memerankan tokoh Besut, dikisahkan tengah melaut di kawasan Gunung Anyar yang memang berdekatan dengan pantai. Namun, laut tak lagi ramah. Jala Besut justru “memanen” aneka limbah: mulai dari botol plastik, ban mobil, tikar, hingga perangkat elektronik.

Aksi ini memicu perdebatan panas antara dua tokoh senior lainnya, Hengky Kusuma (sebagai Sumo Gambar) yang murka melihat pencemaran tersebut, dan Cak Puryadi (sebagai Jamino) yang mencoba bersikap sabar. Konflik teatrikal ini berhasil memotret realita sosial: bahwa kesadaran menjaga sungai dan laut di tengah masyarakat memang masih menjadi “pekerjaan rumah” yang besar.

“Sabar, itu semua pertanda belum komplitnya kesadaran dan pemahaman arti pentingnya sungai dan laut,” celetuk Jamino di tengah panggung, yang disambut tawa getir penonton.

Pementasan ini bukan sekadar hiburan semalam. Ini adalah titik awal dari rangkaian roadshow bertajuk “Jajah Desa Milangkori” yang akan menyisir 10 kota di Jawa Timur.

Hadir langsung dari Jakarta, Direktur Pelindungan Kebudayaan, Dr. Restu Gunawan, M.Hum, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini. Menurutnya, mengembalikan ludruk ke akarnya—yakni balai RW dan kampung-kampung—adalah langkah krusial.

“Dulu ludruk memang tumbuh dari desa ke desa. Bahkan tadi sempat mati listrik, ya itulah seni tradisi, tidak perlu kecil hati. Pelestarian budaya ini harus gotong royong, tidak bisa hanya pemerintah saja,” ujar Restu.

Salah satu pemandangan menarik malam itu adalah banyaknya anak-anak yang memadati barisan depan. Meski tampak asyik bermain, kehadiran mereka dinilai sebagai investasi masa depan.
“Harapannya, nilai-nilai ini tertanam di memori mereka. Saat dewasa nanti, merekalah yang akan menjadi penggerak pelestarian tradisi dan penjaga lingkungan,” tambah Restu optimistis.

Acara yang berlangsung gayeng ini ditutup dengan sarasehan budaya yang menghadirkan pengamat budaya Henri Nurcahyo dan Imam Ghozali, dipandu oleh moderator Ribut Wijoto. Melalui kolaborasi seni dan diskusi, pesan yang dibawa sangat jelas: menjaga bumi dan merawat tradisi adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Mari kita mulai dari kampung sendiri.