RUU Omnibus Law Terus Bergulir di DPR, Pekerja Muda SPAMK FSPMI : Omnibus Law Harus Dicabut

  • Whatsapp

Jepara, KPonline – RUU Omnibus Law Cipta Kerja masih menjadi isu polemik di kalangan masyarakat khususnya buruh, Rabu (22/7/2020).

Buruh sendiri telah menyatakan sikapnya dengan menolak adanya RUU Omnibus Law Cipta Kerja tersebut yang berpotensi akan menyengsarakan buruh apabila benar disahkan adanya.

Bacaan Lainnya

Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh buruh dalam beberapa waktu terakhir tampaknya menjadi bukti nyata penolakan buruh terhadap RUU tersebut.

Menurut informasi yang dihimpun oleh Koran Perdjoeangan.com, beberapa hari lalu sempat diadakan pertemuan antara KSPI, KSPSI (AGN), KSPSI (YORIS), FSP LEM SPSI, FSPI, GOBSI, PPMI, Forum Honorer, dan berbagai elemen yang lain. Dalam kesempatan tersebut mereka sepakat untuk menolak RUU Omnibus Law Cipta Kerja.

Perihal penolakan terhadap RUU Omnibus Law Cipta Kerja, Ketua Pekerja Muda Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPAMK FSPMI) Tri Agung Setiawan turut merespon.

Tri Agung Setiawan mewakili Pekerja Muda SPAMK FSPMI menyatakan sikap menolak RUU Omnibus Law Cipta Kerja.

“Kita Pekerja Muda jelas menolak. Dari awal munculnya draft RUU tersebut tidak ada pelibatan dari unsur pekerja. Padahal kebijakan akan berimbas pada pekerja atau buruh. Awalnya memang draft tersebut memiliki tujuan untuk memperbaiki dan menciptakan iklim investasi ke arah yang lebih baik. Tapi realitanya justru menciptakan polemik di masyarakat dan buruh khususnya,” ucap Tri Agung.

“RUU Omnibus Law Ketenagakerjaan harus dicabut karena jelas merugikan buruh, terutama bagi generasi muda di masa yang akan datang. Semakin sulit untuk mendapatkan pekerjaan tetap dan hidup yang layak,” imbuh Tri Agung.

Seluruh Pekerja Muda SPAMK FSPMI juga bertekad siap untuk terlibat langsung dalam gelombang aksi unjuk rasa penolakan RUU Omnibus Law yang akan dilakukan di seluruh daerah di Indonesia sesuai dengan instruksi organisasi.

“Pergerakan perlawanan adalah kunci perubahan terhadap kebijakan. Tatap dengan yakin asa itu masih ada. Mari bersiap. Hidup Buruh !” pungkas Tri Agung. (Ded)

Pos terkait