Ridwan Adiguna, Orator Muda Dari Batam Pengagum Suryo Pranoto

Ridwan Adiguna, Orator Muda Dari Batam Pengagum Suryo Pranoto

Batam,KPonline – Hati bergetar mendengar orasi sang orator muda di gedung Graha Kepri pada aksi tuntutan SK UMSK dari Gubernur Kepulauan Riau pada tanggal 7/5/2018 dan 15/5/2018 lalu.

Nama lengkap sang orator muda yang pemberani itu adalah Ridwan Adiguna, panggilan akrabnya Iwang. Lahir di Bandung 4/8/1986. Saat ini dia adalah ketua PUK PT. SIIX sudah berjalan tiga tahun. Sebelum menjadi ketua dia dulunya adalah sekretaris di PUK PT. SIIX.

Iwang sosok pemimpin muda yang inovatif, kreatif, berkarya dan pemberani. Ia melakukan blokade jalan di pagi hari sebanyak dua kali ketika aksi UMSK. Keberanian dan semangat Iwang dan anggota pengurusnya ini layak dicontoh oleh PUK-PUK lain.

Iwang dan pengurus PUK PT. SIIX melakukan aksi jalan kaki dari pendakian Daeng sampai ke simpang Panbil. Meskipun dengan masa yang tidak begitu banyak, ia berhasil membuat jalan macet di pagi hari.

Team Media Perdjoengan sempat mewawancarai Iwang perihal blokade jalan tersebut. Apa alasanya dan apakah ia tidak takut karena masanya cuma sedikit.

“Karena kecewa saja kepada gubernur, dan juga ini menyangkut amanah dari anggota PUK yang pasti mayoritas sedang menunggu UMSK tersebut. Takut pasti ada, hanya saja karena kawan-kawan di PUK PT. SIIX ketika saya ajak, memperlihatkan semangat yang besar. Kita mah cuma berfikir bagaimana supaya dapat perhatian dari pemerintah”, Papar Iwang menjelaskan.

Tidak sampai disitu, di gedung Graha Kepri ia berorasi dengan semangat yang membara. Kata-katanya menggetarkan hati dengan harapan agar Gubernur mendengar dan tersentuh hatinya untuk berpihak kepada rakyat.

Iwang membuka orasinya dengan sedikit bercerita tentang sejarah. Dimana pada tahun 1900 Suryo Pranoto telah melakukan pemogokan berkaitan masalah upah. Saat itu Indonesia dijajah oleh Belanda. Dan saat ini Indonesia telah merdeka masalah upah belum juga selesai.

“Percuma kita taat pajak, tetapi kita tetap saja dipaksa mengemis untuk mendapatkan hak-hak kita” ungkap Iwang dalam orasinya.

Lalu Iwang mengungkapkan bahwa memang Gubernur Nurdin Basirun adalah Gubernur yang mendapatkan durian runtuh. Yang menjabat dikarenakan Gubernur sebelumnya Muhammad Sani meninggal dimasa jabatannya. Dan tidak lupa Iwang menekankan bahwa Gubernur Muhammad Sani adalah Bapak UMSK karna beliaulah yang berani menandatangani UMSK pada masa jabatanya. Dan Iwang melanjutkan menghimbau masa aksi untuk mendo’akan almarhum Muhammad Sani agar diterima amal ibadahnya.

Tidak sampai disitu, Iwang dengan semangat berapi-api mengajak masa aksi yang berjumlah kurang lebih 2000 orang berdo’a untuk Gubernur Nurdin basirun.

“Hari ini kawan-kawan merasa terdzolimini tidak? Kalau orang terdzolimi do’anya mabrur, diijabah. Do’anya pengen apa buat Bapak Gubernur?” tanya Iwang kepada masa aksi.

“Mudah-mudahan diantara kita ada 40 orang sholeh yang do’anya di ijabah. Jadi mari kita aminkan bersama-sama do’a buat Bapak Gubernur kita Nurdin Basirun”, papar Iwang ketika mengajak berdo’a.

Do’a yang menggetarkan hatipun di mulai. Berikut bunyi do’a yang di aminkan oleh ribuan masa aksi tersebut.
“Ya Allah, mudah-mudahan Bapak Gubernur di beri hidayah untuk men SK kan UMSK Ya Allah. Bilamana UMSK tidak di SK kan pecatlah ia oleh Bapak Jokowi, tidak terpilihlah ia tahun 2021 ya Allah. Tidak disenangkanlah hidupnya karena dia telah mendzolimi kita. Dan masukanlah dia kedalam neraka ya Allah”.

Ribuan buruh yang ada di Graha Kepri mengaminkan do’a tersebut. Belum lagi buruh yang ada di pabrik yang tidak bisa ikut bergabung aksi yang menyaksikan video livenya tentu juga akan tergetar hatinya untuk mengaminkan do’a tersebut.

“Semoga hati Gubernur Nurdin Basirun tergerak hatinya untuk mengambil kebijakan yang pro ke buruh bukan pengusaha. Sesuai janjinya, setelah berunding kembali antara pengusaha dan pekerja hari ini, jumat 18/5/2018 apapun hasilnya Gubernur akan mengambil sikap dan dua minggu sebelum hari raya sudah ada keputusan”, ungkap sang orator yang lagi gemar membaca biografi Suryo Pranoto ini.

(Maryam Nusaibah)

Facebook Comments

Comments are closed.