Mojokerto, KPonline – Suasana di halaman Mess PT Pabrik Kertas Indonesia (PT Pakerin) di desa Bangun Kec Pungging Mojokerto pada Sabtu (20/6/2026) mendadak memanas. Lebih dari 500 massa yang tergabung dalam Pimpinan Unit Kerja (PUK) PT Pakerin memenuhi area tersebut untuk menggelar rapat internal. Agenda utamanya: mendesak kejelasan pembayaran upah dan Tunjangan Hari Raya (THR) 2026 yang hingga kini masih menggantung.
Ratusan pekerja yang mengikuti rapat tersebut merupakan anggota Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI). Mereka mengaku sudah berbulan-bulan menanti hak finansial yang seharusnya menjadi nafkah keluarga. Berdasarkan informasi yang dihimpun, tunggakan yang dimaksud mencakup upah periode Januari, Februari, dan Maret 2026, serta THR Idulfitri 2026.
Sebelumnya, beredar kabar bahwa Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah mencairkan dana talangan sebesar sekitar Rp82 miliar ke rekening PT Pakerin menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026. Dana itu diklaim diperuntukkan bagi pembayaran upah pekerja periode Oktober, November, dan Desember 2025, serta Januari dan Februari 2026 berikut THR.
Namun, harapan itu belum sepenuhnya terwujud. Moch Sareh, salah satu pekerja yang turut hadir dalam rapat tersebut, mengungkapkan bahwa realisasi pembayaran baru mencakup gaji bulan Oktober hingga Desember 2025. Sementara itu, upah Januari dan Februari 2026 serta THR hingga kini masih tertahan.
“Kami sebagai pekerja perempuan di PT Pakerin sangat berharap agar gaji dan THR kami segera dibayarkan. Itu adalah hak kami dan sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari,” ujar Sareh dengan nada lirih namun penuh harap.
Tak hanya menuntut kejelasan pembayaran, para pekerja juga menyampaikan doa dan harapan agar perusahaan yang telah menjadi ladang rezeki mereka selama bertahun-tahun itu dapat segera pulih. Mereka menginginkan agar roda produksi kembali bergerak normal, sehingga seluruh karyawan bisa kembali bekerja dengan tenang dan memperoleh penghasilan layak.
“Kami ingin PT Pakerin bisa beroperasi kembali. Perusahaan ini adalah tempat kami menggantungkan hidup. Kami berharap perusahaan dapat bangkit, dan kami semua bisa bekerja seperti sediakala,” tambah Sareh.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PT Pakerin belum memberikan tanggapan resmi terkait tuntutan para pekerja. Sementara itu, suasana di lokasi rapat internal berlangsung kondusif, meski diwarnai dengan tensi tinggi. Para pekerja berharap ada solusi segera agar hak-hak mereka tidak terus terabaikan.



