Outsourcing Mesin Penghisap Darah Buruh

Outsourcing Mesin Penghisap Darah Buruh

Medan,KPonline, – Katanya outsourcing diciptakan demi efisiensi. Lucu memang kedengarannya.

Yang paling efisien ternyata bukan proses produksinya, melainkan cara memeras tenaga buruh semurah mungkin tanpa harus memikul tanggung jawab terhadap hidupnya beserta keluarganya

Outsourcing telah menjelma menjadi mesin legal penghisap darah buruh. Keringat buruh diperas sampai tetes terakhir, nilai kerja mereka dipanen, sementara yang kembali kepada mereka hanyalah upah pas-pasan, kontrak yang rapuh, dan masa depan yang digantung tanpa kepastian.

Di tempat kerja, buruh bekerja dengan mesin yang sama, target yang sama, risiko yang sama, bahkan menghasilkan keuntungan yang sama.

Namun ketika hak dibagikan, mereka tiba-tiba dianggap berbeda. Ada buruh yang dihargai sebagai manusia, ada pula yang diperlakukan seperti barang sewaan yang bisa dikembalikan kapan saja.

Mereka menyebutnya fleksibilitas. Buruh menyebutnya ketidakpastian hidup.

Mereka menyebutnya efisiensi. Buruh merasakannya sebagai eksploitasi yang dilegalkan.

Mereka menyebutnya investasi. Buruh membayarnya dengan masa depan anak-anaknya.

Sungguh ironis. Perusahaan gemar berkhotbah tentang profesionalisme, integritas, dan nilai-nilai kemanusiaan. Tetapi kepada buruh outsourcing, yang terlihat justru wajah asli kapitalisme yang paling rakus, manusia dihitung sebatas biaya produksi, bukan sebagai manusia yang memiliki kehidupan.

Ketika permintaan pasar naik, buruh dicari siang dan malam, saat laba menurun, buruh dibuang tanpa beban. Seolah hidup seseorang bisa dihapus dengan satu lembar surat pemutusan kontrak.

Dalam praktik yang disalahgunakan, outsourcing bukan lagi sekadar sistem kerja. Ia berubah menjadi rantai bisnis penderitaan.

Perusahaan pengguna menikmati hasil kerja buruh. Perusahaan penyedia menikmati potongan keuntungan. Yang tersisa bagi buruh hanyalah ketidakpastian, kecemasan, dan harapan yang terus dipotong seperti gaji mereka.

Negeri ini tidak akan pernah benar-benar disebut maju apabila gedung-gedung megah dibangun di atas tulang punggung buruh yang dipatahkan. Tidak ada kemajuan dalam sebuah sistem yang membuat segelintir orang hidup mewah dari keringat banyak orang.

Lalu mengapa outsourcing begitu sulit dihapuskan?

Karena ia telah menjadi industri yang sangat menguntungkan. Terlalu banyak kepentingan yang hidup dari sistem ini. Terlalu banyak pihak yang menikmati keuntungan dari selisih nilai kerja buruh. Selama masih ada pihak yang memperoleh laba dari murahnya tenaga kerja dan rapuhnya status buruh, selalu akan ada alasan untuk mempertahankan outsourcing, meski harus mengorbankan keadilan.

Sudah saatnya buruh berhenti diam. Hak tidak pernah turun dari langit sebagai hadiah. Hak selalu lahir dari kesadaran, keberanian, persatuan, dan perjuangan. Selama outsourcing masih dijadikan alat untuk menekan upah, menghilangkan kepastian kerja, dan melemahkan posisi tawar buruh, maka memperjuangkan perubahan bukan sekadar tuntutan ekonomi,melainkan perjuangan mempertahankan martabat manusia.

Buruh bukan mesin. Buruh bukan komoditas. Buruh bukan angka di laporan keuangan.

Dan satu hal yang harus diingat oleh siapa pun yang menikmati hasil kerja mereka:

Jangan pernah membangun istana kemewahan dengan darah buruh. Sebab setiap tetes keringat yang diperas atas nama keuntungan akan selalu menjadi catatan sejarah tentang siapa yang bekerja, dan siapa yang menghisap hasil kerjanya.