Nani Kusmaeni: Jangan Jual Perjuangan Buruh Demi Kepentingan Pribadi, Organisasi Harus Tetap Militan

Nani Kusmaeni: Jangan Jual Perjuangan Buruh Demi Kepentingan Pribadi, Organisasi Harus Tetap Militan

Pekanbaru, KPonline- Ketua Umum Pimpinan Pusat Serikat Pekerja Perkebunan dan Kehutanan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PP SPPK-FSPMI), Nani Kusnaeni, menyerukan kepada seluruh kader dan anggota SPPK-FSPMI agar tetap menjaga militansi, loyalitas, serta integritas dalam memperjuangkan hak-hak kaum buruh. Seruan tersebut disampaikannya dalam agenda Konsolidasi DPW FSPMI Riau yang berlangsung di Hotel Ameera, Pekanbaru, Selasa (4/8/2026).

Di hadapan para pengurus PUK, PC, dan DPW, Nani menegaskan bahwa tidak semua pekerja memiliki keberanian untuk terlibat dalam perjuangan serikat pekerja. Dari jutaan buruh yang bekerja di berbagai sektor, hanya sebagian kecil yang bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk memperjuangkan kepentingan bersama.

“Menjadi aktivis serikat pekerja bukan sekadar pilihan organisasi, tetapi juga amanah. Tidak semua orang mau mengambil jalan ini. Karena itu, mereka yang memilih berjuang harus menjaga komitmennya sampai akhir,” tegas Nani.

Menurutnya, jalan perjuangan tidak pernah mudah. Tekanan dari perusahaan, keterbatasan ekonomi, hingga berbagai tantangan di lapangan merupakan bagian dari konsekuensi yang harus dihadapi oleh setiap pejuang buruh. Namun, semua itu tidak boleh mematahkan semangat perjuangan.

Nani mengingatkan bahwa pendidikan dan pelatihan yang diberikan organisasi bertujuan mencetak kader-kader yang mampu membela kepentingan pekerja, bukan justru berpihak kepada pihak yang merugikan buruh.

“Jangan sampai sudah dididik organisasi, sudah dibesarkan organisasi, tetapi ketika memiliki pengetahuan justru menjadi lawan organisasi dan membela kepentingan pengusaha. Itu adalah pengkhianatan terhadap perjuangan buruh,” katanya dengan tegas.

Dalam kesempatan tersebut, Nani juga menyoroti sikap anggota yang memilih menyelesaikan persoalan ketenagakerjaan secara diam-diam dengan perusahaan tanpa berkoordinasi dengan organisasi. Menurutnya, tindakan seperti itu dapat melemahkan perjuangan bersama yang sedang dibangun oleh serikat pekerja.

Ia menegaskan bahwa apabila seorang anggota diberhentikan karena aktivitas berserikat, maka organisasi akan memperjuangkan agar pekerja tersebut dapat kembali bekerja, bukan sekadar menerima uang pesangon.

“Bagi SPPK-FSPMI, kemenangan bukan ketika anggota menerima uang pesangon. Kemenangan adalah ketika anggota kembali bekerja, memperoleh penghasilan yang berkelanjutan, tetap mendapatkan jaminan sosial, dan mampu menghidupi keluarganya dengan layak. Jangan sampai perjuangan organisasi berakhir hanya karena tergiur penyelesaian sesaat,” ujarnya.

Nani menilai penyelesaian yang hanya berorientasi pada pesangon sering kali justru menjerumuskan pekerja ke dalam persoalan ekonomi baru. Setelah dana pesangon habis, pekerja kehilangan pekerjaan, kehilangan perlindungan jaminan sosial, dan harus memulai kembali dari awal.

Oleh karena itu, ia meminta seluruh anggota untuk selalu mempercayakan proses advokasi kepada organisasi dan tidak mengambil keputusan sepihak yang dapat merugikan perjuangan bersama.

Selain memperkuat advokasi, Nani juga mengajak seluruh pengurus agar terus memperbesar organisasi dengan merekrut anggota baru di setiap perusahaan. Menurutnya, semakin besar jumlah anggota, semakin kuat pula posisi tawar serikat pekerja dalam memperjuangkan hak-hak buruh.

Ia juga menekankan pentingnya disiplin membayar iuran organisasi. Baginya, iuran merupakan wujud kemandirian organisasi sekaligus sumber kekuatan untuk menjalankan pendidikan, advokasi, konsolidasi, hingga aksi perjuangan.

“Organisasi yang kuat adalah organisasi yang mandiri. Jangan berharap perjuangan besar dapat dilakukan apabila organisasinya tidak memiliki kekuatan dan kemandirian,” tegasnya.

Menutup orasinya, Nani mengingatkan seluruh kader agar tidak pernah menjadikan perjuangan sebagai alat mencari keuntungan pribadi ataupun mendekat kepada kekuasaan demi kepentingan sesaat.

“Jangan pernah menjual diri kepada pengusaha, jangan pernah menjual diri kepada kekuasaan, dan jangan pernah menggadaikan perjuangan kaum buruh demi kepentingan pribadi. Kita hadir untuk menjadi alat perjuangan, menjaga martabat pekerja, dan memperjuangkan keadilan bagi seluruh kaum buruh Indonesia. Selama kita tetap bersatu, menjaga solidaritas, dan setia kepada organisasi, saya yakin SPPK-FSPMI akan semakin besar dan semakin kuat dalam memperjuangkan hak-hak buruh,” pungkasnya disambut tepuk tangan seluruh peserta konsolidasi.