Jakarta, KPonline-Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Suparno, secara resmi membuka kegiatan Sekolah Ideologi Dasar (Seida) Gelombang I Tahun 2026 yang diselenggarakan di Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) FSPMI, Jakarta Timur. Kamis, (30/7/2026).
Agenda ini dikhususkan bagi kader perempuan FSPMI. Dalam sambutannya, Suparno menegaskan bahwa pendidikan ideologi merupakan fondasi utama untuk membangun organisasi yang kuat, solid, dan mampu menghadapi berbagai tantangan gerakan buruh di masa depan.
Di hadapan para peserta, pengurus pusat, serta jajaran bidang perempuan, Suparno mengingatkan bahwa setiap kader harus memiliki rasa memiliki (sense of belonging) terhadap organisasi. Menuru Suparno, sejarah panjang perjuangan FSPMI tidak dibangun dengan mudah sehingga wajib dipahami oleh seluruh anggota, khususnya generasi muda dan kader perempuan.
“Tujuan utama Sekolah Ideologi Dasar adalah menanamkan dalam hati bahwa FSPMI adalah rumah kita. Ketika rasa memiliki itu tumbuh, maka apa pun persoalan yang terjadi di organisasi tidak akan membuat kita meninggalkan FSPMI,” ujarnya.
Suparno mengakui bahwa dinamika internal merupakan hal yang lazim terjadi dalam organisasi besar. Sejak berdiri pada tahun 1999, setiap kongres FSPMI selalu diwarnai perbedaan pandangan maupun pergantian kepemimpinan. Namun demikian, ia menegaskan bahwa seluruh dinamika tersebut tidak pernah menggoyahkan eksistensi FSPMI.
Ia juga menyinggung adanya pihak-pihak yang memilih mendirikan organisasi baru setelah keluar dari FSPMI. Menurutnya, hal tersebut merupakan hak setiap individu, tetapi FSPMI akan tetap berdiri sebagai organisasi yang memiliki sejarah panjang dan legitimasi kuat, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Perbedaan pendapat itu wajar. Berdebat juga wajar. Tetapi jangan sampai perbedaan cara membuat organisasi terpecah. Yang terpenting tujuan kita tetap sama, yaitu membesarkan FSPMI,” tegasnya.
Lebih lanjut, Suparno memberikan perhatian khusus kepada kader perempuan yang dinilainya memiliki potensi besar menjadi pemimpin organisasi di masa depan. Ia berharap setiap kader yang memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan, pelatihan, maupun forum internasional mampu mengembalikan ilmu dan pengalamannya untuk memperkuat organisasi.
Karena, kata Suparno, keberhasilan seseorang dalam organisasi bukan semata-mata karena kemampuan pribadi, melainkan karena dukungan dan proses kaderisasi yang dibangun oleh FSPMI.
“Saya bisa dikenal banyak orang bukan karena Suparno hebat, tetapi karena FSPMI. Karena itu jangan pernah lupa terhadap organisasi yang telah membesarkan kita,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa dalam kepemimpinannya sebagai Presiden FSPMI, aspek loyalitas akan menjadi pertimbangan utama dalam proses kaderisasi.
“Sepintar apa pun seseorang, apabila loyalitas terhadap FSPMI rendah, saya tidak akan mengorbitkannya. Organisasi membutuhkan kader yang memiliki kapasitas sekaligus kesetiaan,” ujarnya.
Suparno turut mengingatkan peserta agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi yang beredar di media sosial. Menurutnya, banyak opini yang sengaja dibangun untuk memecah belah organisasi melalui penyebaran informasi yang belum tentu benar.
Ia menilai perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), membuat penyebaran hoaks semakin mudah sehingga kader FSPMI harus mampu berpikir kritis sebelum mempercayai suatu informasi.
“Kita jangan mudah termakan isu di media sosial. Banyak informasi yang belum tentu fakta. Jangan sampai kita diadu domba oleh opini yang dibangun pihak-pihak tertentu,” pesannya.
Selain memperkuat ideologi organisasi, Suparno mendorong seluruh kader perempuan untuk terus meningkatkan kemampuan diri melalui pendidikan formal maupun pelatihan keterampilan.
Ia mencontohkan banyak kader FSPMI yang berhasil menjadi hakim ad hoc hubungan industrial, melanjutkan pendidikan tinggi, hingga mengikuti berbagai pelatihan internasional sebagai hasil dari proses kaderisasi organisasi.
Menurutnya, peningkatan kapasitas akan membuat kader serikat pekerja semakin percaya diri dalam memperjuangkan hak-hak pekerja sekaligus menghadapi perubahan dunia industri.
Kemudian, Suparno juga menegaskan komitmen FSPMI untuk terus mendorong implementasi Konvensi ILO Nomor 190 mengenai penghapusan kekerasan dan pelecehan di dunia kerja. Isu tersebut, menurutnya, menjadi salah satu fokus perjuangan FSPMI ke depan, khususnya dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan bermartabat bagi pekerja perempuan.
Mengakhiri sambutan, Suparno mengajak seluruh peserta untuk mengikuti proses pembelajaran dengan sungguh-sungguh serta menjadikan Sekolah Ideologi Dasar sebagai momentum memperkuat semangat perjuangan, solidaritas, dan loyalitas terhadap organisasi.
“Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim,” Presiden FSPMI secara resmi membuka Sekolah Ideologi Dasar (Seida) Gelombang I Tahun 2026 bagi kader perempuan FSPMI pada 30 Juli 2026.
Melalui kegiatan ini, Presiden FSPMI tersebut berharap lahir kader-kader perempuan yang memiliki pemahaman ideologi organisasi yang kuat, kapasitas kepemimpinan yang baik, serta mampu menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan hak-hak pekerja dan memperkuat gerakan serikat buruh Indonesia.



