Menginjakkan Kaki di Singapura, Belajar Kemandirian Ekonomi

Singapura, KPonline – Kejutan yang tak terduga dimulai dari Changi Internasional Airport.

Pesawat mendarat dengan mulus pada pukul 10:42. Penerbangan dengan pesawat terbang Boeing 737-900 ER kali ini membuat kantuk saya semakin menjadi-jadi. Bagaimana tidak, setelah keluar dari kabin pesawat dan menuruni eskalator, hawa dingin dari gedung Changi Internasional Airport yang megah dan nyaman, kami harus mengantri di Immigration and Checkpoints Authority.

Bacaan Lainnya

Antrian panjang dan rasa kantuk yang mendera menambah “penderitaan” yang saya rasakan. Formulir isian dan tiket bagi para pelancong dan turis sudah terselip diantara lembaran passport yang saya bawa. Akhirnya, saya lolos melewati bagian keimigrasian Negeri Singa yang terkenal dengan ketatnya aturan yang mereka terapkan.

Setelah semua anggota rombongan berhasil melewati bagian keimigrasian, kami pun segera keluar. Tak saya sangka, rombongan kami ternyata sudah ditunggu sejak dari tadi oleh seseorang yang sangat terkenal dilingkungan para aktivis buruh. Beliau adalah legenda bagi saya dan anak-anak muda FSPMI khususnya di wilayah Bekasi. Ada Bung Vonny Diananto di pintu keluar bandara, dengan senyum khasnya menyambut kami.

Menanyakan kabar masing-masing, kami semua berjabatan tangan. Salah satu pendiri FSPMI yang saat ini menjadi perwakilan IndustriALL Global Union yang berkantor di Singapura. Tanpa komando, kubidik lensa kamera ke arah kawan-kawan yang sedang melepas rindu.

Abang, begitulah kami memanggilnya, karena akan terasa lebih akrab terdengar. Rasa kekeluargaan semakin terasa disaat kami berfoto bersama di pintu keluar bandara, disebuah lorong megah yang menghubungkan antara Changi Internasional Airport dengan Singapore Mass Rapid Transportation (SMRT). Sebuah terobosan dan inovasi teknologi tinggi yang sudah dilakukan oleh pihak pemerintah Singapura dalam moda transportasi massal yang terjangkau, efektif dan efisien.

Menuruni eskalator yang cukup tinggi buat saya agar sampai ke stasiun SMRT. Konsep yang cukup baik dan tertata dengan rapi, sehingga memudahkan masyarakat Singapura dan para pelancong di negeri ini.

Vonny pun mengarahkan kami agar membeli Pass Card di loket SMRT (saya menyebutnya dengan kartu pas; karena saya agak kesulitan mencari redaksional-nya karena “keunikan” dari kartu tersebut).

“Kartu ini bisa digunakan untuk melakukan transaksi pembayaran di SMRT dan bus lohh,” seraya menjelaskan Bung Vonny pun menjelaskan lebih lanjut kelebihan-kelebihan dari kartu tersebut.

Dari stasiun SMRT Changi Internasional Airport, kami bergerak ke Stasiun Tanah Merah dan melanjutkan dengan bus tingkat ke daerah Bedok South dimana Bung Vonny tinggal selama 5 tahun.

Sudah lama rasanya tidak menaiki bus tingkat, dan ada selembar kenangan waktu zaman sekolah dulu. Terngiang ingatan zaman 90-an waktu STM pulang-pergi naik bus tingkat jurusan Cililitan-Tanjung Priok. Dan ternyata bus tingkat yang kami naiki sangat menyenangkan, sambil ngobrol “ngalor-ngidul” kami disuguhkan pemandangan kota yang tertata rapi dan bersih.

Hanya 15 menit waktu yang kami tempuh dari stasiun SMRT Tanah Merah untuk sampai di halte bus Bedok South Road terdekat dengan apartemen Bung Vonny. Super-Blok yang saya lihat didepan mata saya, dan buat saya pribadi, seharusnya hal-hal baik dari negeri ini patut dicontoh dan diterapkan di negara kita, khususnya kota-kota besar yang ada di Indonesia.

Naik lift menuju lantai 12 dan akhirnya sampai juga di apartemen Bung Vonny. Dan ternyata ada kejutan lain yang menunggu kami. Istri dari Bung Vonny, yaitu Bunda Eka, sudah menunggu kedatangan kami sedari tadi di pintu masuk apartemen. Dengan senyuman yang “sumringah”, Bunda Eka menyapa kami satu per satu. Begitu senangnya beliau dengan kedatangan kami.

“Jarang-jarang ketemu dengan rombongan orang-orang Indonesia, apalagi buruh-buruh yang masih keluarga besar FSPMI,” ucap Bunda Eka.

Ramah-tamah pun terjadi beberapa menit kemudian. Bung Vonny pun menawarkan diri untuk mengajak kami untuk berkeliling Singapura. Naik dan turun bus, naik dan turun eskalator dan juga naik dan turun SMRT. Yaa naik dan turun. Karena ada begitu banyak stasiun kereta bawah tanah dan beberapa jalur kereta. Sehingga memudahkan para turis dan pelancong untuk meng-explore apa saja yang ada di negara ini.

Malam semakin larut. Lelah terasa menghinggapi sekujur tubuh. Bung Vonny pun memutuskan untuk mengajak kami semua untuk kembali ke apartemen. Istirahat. Yaa kami membutuhkan istirahat yang cukup. Agar besok kami tidak telat untuk memenuhi undangan dari pihak NTUC Singapore. Tak sabar rasanya untuk menyambut hari besar (buat kami tentunya) esok hari.

Sebelum tidur, kami pun menyempatkan berbincang-bincang seputar aktivitas perburuhan di Indonesia. Canda dan tawa terselip diantara obrolan yang menurut saya pribadi cukup penting. Dan tak ketinggalan pula, beberapa gelas kopi hitam menemani kami dalam bincang-bincang tersebut.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 01:22 waktu Singapura, itu artinya 1 jam lebih cepat dari Waktu Indonesia bagian Barat. Rasa kantuk semakin menjadi – jadi. Dan saya sudah tak kuasa.

Sambil merapihkan beberapa barang bawaan, saya beranjak ke ranjang. Dan sebelum memejamkan mata saya berdoa, juga mendoakan untuk hari esok. Karena esok adalah hari yang besar buat kami.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.