Presiden FSPMI yang juga Presiden KSPI, Said Iqbal./Okezone

Presiden FSPMI yang juga Presiden KSPI, Said Iqbal./Okezone

Mengenal Said Iqbal, Presiden Buruh yang Jadi Pembicara di 25 Negara

Jakarta, KPonline – Said Iqbal lahir di Jakarta, tanggal 5 Juli 1968. Iqbal mempunyai seorang istri Ika Liviana Gumay SE dan seorang anak yang bernama Syarifah Soraya, SKed.

Kiprah Said Iqbal sebagai pemimpin buruh berawal dari tahun 1992. Dimulai dari tingkat pabrik, cabang kabupaten, wilayah provinsi, hingga tingkat nasional, dan internasional. Dia juga bekerja di sebuah perusahaan elektronik multinasional di Bekasi dengan jabatan terakhir sebagai Manager pada tahun 2018.

Posisi yang pernah dan sedang dijabat Said Iqbal adalah ketua serikat pekerja tingkat pabrik selama hampir 18 tahun, pimpinan serikat pekerja di tingkat cabang, tingkat wilayah provinsi, Sekretaris jenderal DPP FSPMI, Central Comittee Serikat Buruh Metal Sedunia (IMF) yang berkedudukan di Geneva Swiss, Wakil Presiden Serikat Pekerja ASEAN (ATUC) berkantor di Singapura, General Council Konfederasi Serikat Buruh Sedunia (ITUC) berkedudukan di Brussel Belgia, Presiden DPP FSPMI, Presiden KSPI, dan pengurus pusat ILO Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (International Labour Organization Governing Body) berkantor di Geneva, Swiss.

Pria yang menamatkan pendidikan Master Ekonomi (S2) di Universitas Indonesia ini selalu menjadi juara umum dan menerima bea siswa selama bersekolah di SD, SMP, dan SMA. Said Iqbal menempuh pendidikan di SDN 02 Balekambang Jakarta, SMPN 150 Jakarta, SMAN 51 Jakarta, Politeknik UI, Teknik Mesin Universitas Jayabaya, dan Master Ekonomi UI.

Berbagai penghargaan dan sertifikat berskala nasional dan internasional sudah diterima oleh Said Iqbal. Untuk tingkat nasional antara lain sebagai nara sumber di beberapa fraksi DPR RI, kementerian, organisasi serikat pekerja se-Indonesia, lembaga kemahasiswaan universitas, dan organisasi kepemudaan, tim kecil beberapa undang-undang, dan institusi lainnya. Sedangkan di tingkat internasional antara lain mendapatkan sertifikat UNESCO badan PBB (saat SD), sertifikat pelatihan dari Universitas Geneva Swiss UOG, dan penghargaan internasional Febe Elizabeth Velasquez Award dari FNV Belanda.

Beberapa Negara dimana Said Iqbal pernah menjadi pembicara di forum-forum internasional antara lain di Negara Singapura, Malaysia, Philipina, Thailand, Kamboja, Vietnam, Hongkong, Jepang, Korea Selatan, Jordania, Australia, Afrika Selatan, Jerman, Austria, Belgia, Turki, Perancis, Swiss, Finlandia, Inggris, Swedia, Denmark, Belanda, Amerika Serikat, Brazil, dan beberapa Negara lainnya. Atas undangan ITUC dan IndustriALL, Said Iqbal juga pernah diikutsertakan sebagai delegasi peserta ITUC untuk berbicara dalam forum-forum international seperti pertemuan Negara G 20 di Melbourne, sidang WTO di Geneva, Konferensi ILO di Geneva, sidang Bank Dunia dan IMF di Washington, dan salah satu pembicara di World Economic Forum di Jakarta.

Said Iqbal banyak mengisi acara talk show dan nara sumber di beberapa televisi, radio, koran, dan media online nasional. Dia juga pernah mengisi sebagai nara sumber dan pembicara di beberapa media internasional seperti majalah Financial Times Inggris, koran Strait Times Singapura, radio dan online BBC, kantor berita Reuter, koran Volkstrand dan Telegraph Belanda, televisi international Aljazeera, televisi internasional DW Jerman, televisi News Asia Chanel Singapura, televisi NHK Jepang, koran Nikkei Shinbun Jepang, televisi Rusia, televisi Bloomberg Indonesia, Arte Televisi Perancis, majalah Pro Finlandia, majalah Metal IndustriALL Swiss, radio Australia, dan beberapa media internasional lainnya.

Said Iqbal merasa terpanggil bilamana berbicara tentang keadilan, nilai persamaan, dan nilai kemanusiaan terhadap buruh dan rakyat Indonesia. Para buruh dan rakyat kecil sebenarnya tidak pernah menuntut upah yang tinggi, tetapi sekedar hidup layak, memiliki masa depan yang jelas tanpa outsourcing, dan mempunyai jaminan sosial. Hal ini, karena, separuh dari total penduduk Indonesia adalah buruh, tetapi kehidupan mereka tidak pernah mengalami perubahan nasib. Tetap miskin atau near poor di tengah pertumbuhan ekonomi yang dicapai pemerintah.

Beberapa buku yang telah ditulis oleh Said Iqbal (dan diantaranya ditulis bersama Kahar S. Cahyono) antara lain buku berjudul: Buku Sepultura: Sebuah Cita-Cita Perjuangan tahun 2015; Buku Gagasan Besar Serikat Buruh bagian I tahun 2015 edisi bahasa Indonesia dan Inggris sudah cetakan ketiga; Buku Pemerintah Gagal Menyejahterakan Buruh – Catatan Kritis Perburuhan Tahun 2017; Buku Kerja Layak Upah Layak dan Hidup Layak Gagal Diwujudkan – Catatan Kritis Perburuhan Tahun 2018. Kali ini, Said Iqbal menulis Buku putih KAJS yang berjudul BPJS Kesehatan Dalam Pusaran Kekuasaan tahun 2019.

Facebook Comments

Comments are closed.