Mencatat Demo Terbesar Yang Pernah Ada di Indonesia

  • Whatsapp

Jakarta, KPonline – Dibandingkan dengan kawan-kawan Gerakan Pekerja Indonesia (GPI) yang lain, saya termasuk yang datang belakangan. Jika mereka sudah berkumpul di dekat patung kuda sejak pagi, saya justru berangkat dari rumah agak siang, naik kereta.

Di kereta, banyak orang yang nampaknya juga akan mengikuti aksi. Hampir semuanya memilih turun di stasiun Juanda, yang paling dekat dengan Istiqlal. Saya membayangkan, Istiqlal akan penuh dengan lautan manusia. Karena itu, saya memilih turun di stasiun Sudirman. Pikir saya, dari sini saya akan naik Trans Jakarta dan turun di halte Monas. Sehingga sebelum rombongan dari Istiqlal datang saya sudah berada di sana. Ini yang sering saya lakukan, ketika element buruh melakukan aksi di Istana Negara.

Bacaan Lainnya

Tetapi perkiraan saya salah. Sesampainya di stasiun Sudirman, saya makan siang terlebih dulu. Baru kemudian menuju halte terdekat. Ternyata jalan sudah ditutup. Trans Jakarta arah monas sudah tidak lagi tersedia. Pilihannya kemudian jatuh pada metromini, melalui jalur pintas dan turun di belakang Sarinah.

Gelombang massa. Demo terbesar yang pernah ada di Indonesia.
Gelombang massa. Demo terbesar yang pernah ada di Indonesia.

Depan Sarinah sudah penuh dengan massa aksi yang bergerak ke arah Istana. Barulah saya menyadari, massa yang mengikuti aksi ini besar sekali. Massa yang bergerak ini bukan dari titik kumpul utama. Itu pun sudah sedemikian banyaknya.

Di patung kuda, saya menyaksikan para presidium GPI melakukan orasi di mokom FSPASI. Mokom utama dari GNPF MUI belum datang, sehingga mokom ini menjadi alternatif. Saya sempat mendengar Amien Rais dan Eggi Sudjana beroperasi melalui mokom ini GPI. Namun karena dikelilingi lautan manusia, saya tidak bisa mendekat. Sementara seperti gelombang, massa terus berdatangan dari arah Balaikota.

Massa aksi dari Gerakan Pekerja Indonesia (GPI).
Massa aksi dari Gerakan Pekerja Indonesia (GPI).

 

Bendera GPI berkibar di tengah luatan massa.
Bendera GPI berkibar di tengah luatan massa.

Dari sini, massa bergerak ke Istana. Jumlahnya tidak kurang dari 2 juta. Bahkan ada yang menyebut mencapai 3 juta.

Jika anda pernah mengorganisir massa dalam sebuah demonstrasi, anda akan tahu bagaimana sulitnya memobilisasi. Apalagi dengan jumlah massa yang fantastis seperti itu. Tetapi yang membuat saya salut, setidaknya hingga pukul 18.00, aksi berjalan damai.

Sebagian massa menjaga taman agar tidak rusah terinjak-injak. Ada yang membagikan makanan dan minuman. Sebagian yang lain, sukarela membersihkan sampah yang berserakan. Bahkan ketika ada yang mencoba melakukan provokasi, massa mencegah dengan sekuat tenaga.

Menjaga taman agar tidak terinjak-injak oleh massa.
Menjaga taman agar tidak terinjak-injak oleh massa.

 

Mengamalkan ajaran, bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.
Mengamalkan ajaran, bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.

Ini terlihat ketika ada provokasi. Dimana Sejumlah orang dengan pakaian yang berbeda dengan massa aksinya pada umumnya, mulai melempari petugas dengan batu dan botol bekas.

Melihat kondisi seperti ini, laskar Front Pembela Islam (FPI) memasang pagar betis dan memberikan perlindungan kepada para polisi. Mereka meminta massa untuk tetap tenang dan tidak bertindak anarkis.

Entah memiliki agenda apa, kelompok ini terus melakukan provokasi. Saya curiga, kelompok ini sengaja merusak citra aksi damai. Dorong-dorongan dan pemukulan barikade polisi dengan kayu pun terjadi di ruas jalan yang berbeda. Barikade yang dibuat FPI akhirnya jebol. Apa yang dilakukan FPI dengan melindungi Polisi dari serangan, mendapat pujian dari banyak orang. Ini membuktikan jika ada kesungguhan dari massa, untuk menjaga agar aksi tetap berjalan damai.

Saat waktu sholat tiba, polisi membantu memegang air minum kemasan untuk berwudhu pendemo. Suasana tertib sekali.

Sekali lagi, hal-hal seperti ini membuktikan, bahwa massa yang berasal dari berbagai element masyarakat datang dengan membawa cinta.

Hingga kemudian, setelah adzan Isya berkumandang, di depan Istana Merdeka dimulai oleh tembakan (gas air mata atau peluru karet) aparat yang membubarkan kerumunan dengan paksa. Massa bereaksi dan rusuh tak terhindarkan.

Jika kita mencermati video rekaman langsung yang diunggah massa aksi, terdengar jelas jika massa diminta tenang. Dalam video itu, sebagian besar massa di barisan depan juga tengah duduk di jalan. Tetapi sesaat kemudian, tembakan aparat melesat ke tengah kerumunan, suara letusan menyulut takbir, lalu gas air mata membubung. Beberapa orang, termasuk para ulama, terluka dan amarah massa Muslim tak bisa diredam lagi. Ricuh pecah diujung takbir.

Ada provokasi dari mereka yang tak menghendaki aksi berlangsung damai.
Ada provokasi dari mereka yang tak menghendaki aksi berlangsung damai.

Saat terjadi penembakan gas air mata, sebenarnya tengah terjadi diskusi antara sejumlah perwakilan massa dengan pemerintah di Istana Negara. Wakil Presiden, Menkopolhukam, Kapolri, dan Panglima TNI kaget saat mendengar adanya bentrok antara massa dan aparat.

Panglima TNI dan Kapolri langsung ke lokasi instruksikan hentikan tembakan, tapi tidak digubris. Dalam kondisi itu, para ulama meminta pada massa yang ditembaki gas air mata itu untuk tidak melawan dan memegang komitmennya untuk melakukan aksi damai. Namun, saat itu, polisi malah terus memberondong massa menggunakan gas air mata dan juga peluru karet.

Ada apa sebenarnya? Sehingga aparat penegak hukum itu tidak mengikuti perintah Kapolri dan Panglima TNI untuk menghentikan tembakan.Tembakan justru semakin deras menghujani massa aksi.

Satu hal yang membuat saya salut, dengan cepat amarah bisa diredam. Ketika para pimpinan demo yang terdiri dari para ustad dan ulama memerintahkan mereka untuk mundur dan bergerak menuju Patung Kuda, mereka pun menurut. Massa dengan cepat bisa dikendalikan. Semacam bukti, bahwa kerusahan ini bukanlah mereka yang menghendaki.

Musuk kami bukan polisi, tetapi keadilan yang terbeli.
Musuh kami bukan polisi, tetapi keadilan yang telah terbeli.

Ada kabar, wilayah lain bergejolak. Di Pluit dan Penjaringan, kerusuhan pecah. Sebuah minimarket dijarah. Mobil-mobil dicegat dan dihancurkan. Beberapa media berusaha menghubungkan kerusuhan ini dengan aksi di Istana. Belakangan Polisi menegaskan, massa rusuh di Penjaringan adalah kriminal biasa. Tidak berhubungan dengan aksi  di Istana. Bahkan dari segi atribut, isu yang dibangun di tengah massa, dan cara aksinya sama sekali tak identik dengan massa Muslim yang bergerak dari Istiqlal.

Dari sini, massa bergerak ke gedung DPR RI. Sebagian besar dengan berjalan kaki. Dengan jumlah massa yang masih terbilang fantastis untuk sebuah aksi unjuk rasa. Saya sendiri berjalan bersama Muhammad Rusdi dan beberapa kawan yang lain dari GPI. Sebagai orang yang sering mengikuti demonstrasi, kesetiaan massa dalam menjaga barisan dalam aksi 411 ini terbilang keren.

Ketika beristirahat di tengah perjalanan menuju DPR, saya disamperin seseorang. Ternyata dia kawan dari Aceh, yang jauh-jauh datang hanya untuk ikut aksi. Hati saya bergetar, ketika dia mengaku datang ke Jakarta karena panggilan hati. Tidak ada yang membiayai.

Di DPR, orasi masih terus dilakukan. Pada pukul 03.00 dinihari delegasi GNPF diterima oleh Komisi 3 DPR dan Ketua DPR, setelah beberapa kali berunding. Komisi III DPR RI kemudian memberikan jaminan akan menekan pemerintah pusat untuk memenuhi janjinya di depan massa Aksi Damai.

Dari Istana, massa aksi bergerak ke gedung DPR RI.
Dari Istana, massa aksi bergerak ke gedung DPR RI.

Pada pukul 04.05 tanggal 5 Nov 2016 secara resmi GNPF MUI membubarkan Aksi Bela Islam II yang ditutup oleh Ketua GNPF MUI Ust. Bachtiar Nasir.

“Alhamdulillah aksi damai berlangsung dengan maksimal meski ditekan, ditembaki, dipukuli tapi kita bersabar dan tidak membalas, tidak melawan, karena niat awal kita adalah aksi damai,” katanya saat memberikan sambutan penutupan. Pembina GNPF MUI Habib Rizieq Syihab pun menegaskan bahwa “Sebenernya kita bisa saja melawan, perang, tapi kita ini aksi damai, kita tidak boleh diadu domba melawan Polisi dan TNI, mereka saudara kita juga, kita fokus pada kasus penistaan Al Quran oleh Ahok”.

Saya meninggalkan depan Gedung DPR RI pukul 5 pagi, dengan satu kesan. Bahwa hari ini saya menjadi saksi adanya demo terbesar yang pernah ada di Indonesia. (*)

Pos terkait