Mencari Negeri Surga

  • Whatsapp

Tulisan dari teman yang dikirim 24 Juni 2020, yang sangat menyentuh hati kita, jika dibaca dan di pahami secara mendalam. Sayang kalau tidak dibagikan.

Dulu orang-orang “kiri” mendambakan suatu negeri dimana kaum proletar berkuasa, tidak ada buruh yang menderita, tidak ada perbedaan kaya dan miskin, semua sama.

Nyatanya, kehidupan di Uni Soviet (tahun 50-80an) tidak seindah yang dicita-citakan. Rakyat juga tidak puas, daerah-daerah tidak puas. Uni Soviet ambruk berkeping-keping.

Korea Utara penganut Komunis tulen, juga bukan surga. Rakyat dijadikan robot, ditekan hak-hak kemanusiaannya, memang tidak ada perbedaan kaya dan miskin karena semua warga miskin, kecuali Sang Tiran Kim Jong Un dan kroninya. Ternyata negara Komunis juga bukan surga.

Orang-orang liberal pendamba kebebasan mengidolakan negeri Amerika Serikat sebagai negara surga. Mereka mencontoh Amerika sebagai acuan bernegara yang ideal. Tiap orang bebas mencari kekayaan sebesar-besarnya, orang bebas ngomong apa saja, berperilaku suka-suka.Tetapi kenyataan tidak seindah angan-angan. Kebebasan yang tanpa batas, menyebabkan Si Kuat menguasai semua, merampas semua, dan memiliki semua. Rakyat kecil hanya disisakan remah-remah. Hak asasi memang ada, tapi hak kapitalis yang super kaya jauh lebih besar lagi.

Lalu, demokrasi menjadi jalan tol bagi yang mampu berlari cepat dan bermodal besar. Di Amerika orang yang tidak punya rumah dan makan dari mengais sisa sampah restoran masih cukup banyak, tapi orang orang yang kekayaannya bisa membeli negara juga tidak sedikit.

Orang kaya bebas membeli senjata dan menyewa bodyguard sebanyak mungkin untuk melindungi harta dan nyawanya. Orang miskin harus survive bertahan di jalanan dan kolong jembatan. Diskriminasi dan rasisme terhadap orang kulit hitam, Indian dan kulit berwarna disembunyikan dibawah karpet Demokrasi. Ternyata Amerika Serikat juga bukan negeri idaman.

Di satu sisi, anak-anak muda Indonesia sangat mengidolakan Korea. Barang-barang Korea, kosmetik Korea, operasi plastik Korea, film Korea, makanan Korea, musik Korea, dan artis-artis Korea. Segala sesuatu yang berlabel Korea adalah idaman dan hebat.

Sementara generasi muda Korea melihat kehidupan dan negeri Indonesia dengan takjub. Di mata mereka Indonesia adalah surga yang mereka dambakan. Negeri indah, manusia-manusia ramah, kehidupan santai tanpa tekanan dan stress, makanan-makanan enak, buah buahan berlimpah sepanjang musim, dan semua serba murah buat mereka.

Di negaranya mereka selalu stres karena dituntut harus berprestasi, sehingga mereka yang tidak kuat banyak melakukan bunuh diri.

Sebagian masyarakat kita sangat mengidolakan semua yang berbau Arab dan Timur Tengah. Karena semua yg berbau Arab dikonotasikan ‘dekat dengan Nabi’. Buah-buahan Arab, pakaian ala Arab, jenggot harus seperti orang Arab, minyak wangi Arab, makanan Arab, musik gambus Arab dan gaya ngomong ala Arab, semua itu dipandang lebih “bergengsi” dan bahkan dianggap lebih alim, saleh, dan syar’i.

Mereka baru melek ketika menjadi TKI dan TKW, ternyata di Arab masih banyak juga yang perilakunya lebih dekat ke Abu Jahal dan Abu Lahab ketimbang meniru perilaku Nabi.

Padahal sebaliknya orang orang Arab/Timur Tengah begitu terpesona melihat keindahan negeri dan kedamaian yang ada di Nusantara. Negeri serpihan surga, kata mereka.

Ada sungai mengalir di mana-mana, berbagai jenis buah buahan, pepohonan rindang, gunung-gunung tinggi menjulang, makanan beragam citarasa, pemandangan indah, banyak tempat sejuk, tidak ada perang, tidak ada bom dan tidak ada saling bunuh, dan yang terpenting banyak yang geulis-geulis.

Sebagian warga kita juga sangat memuji-muji kehidupan bahagia, sejahtera dan harmoni di negara-negara Skandinavia.

Sementara orang-orang Skandinavia mendambakan hidup di Indonesia, negara dengan sinar matahari sepanjang tahun, harga-harga murah, dan yang terpenting negara dengan pajak pendapatan yang jauh lebih rendah dari negaranya (di negara mereka pajak penghasilan pribadi sekitar 50%-60%). Masih pengen hidup di Belanda dan Denmark? (Yanto)