Mempersiapkan Pengganti Jokowi

Jakarta, KPonline – Gerakan #2019GantiPresiden semakin ramai. Apalagi setelah Presiden Joko Widodo ikut-ikutan mengomentari gerakan ini.

“Sekarang isunya ganti lagi, isu kaus. #2019GantiPresiden di kaus,” ujar Jokowi. “Kalau rakyat berkehendak bisa. Masak pakai kaos itu bisa ganti presiden? Nggak bisa.” Pernyataan ini disampaikan Presiden Joko Widodo dalam acara Konvensi Nasional 2018 di Puri Begawan, Kota Bogor, Sabtu (7/4/2018).

Bacaan Lainnya

Tahun 2019 adalah tahun dimana pemilihan presiden akan diselenggarakan. Maka, sah-sah saja jika ada yang menyuarakan ganti presiden. Termasuk menyuarakan agar Joko Widodo dipilih kembali untuk kedua kalinya.

Namanya juga pemilihan presiden. Maka memang harus memilih. Kecuali jika kita memilih untuk tidak memilih.

Dalam konteks #2019GantiPresiden, siapa Calon Presiden yang digadang-gadang akan menggantikan Joko Widodo? Nampaknya para pengusung gerakan ini belum satu suara. Setidaknya, hingga saat ini, belum ada satu pun yang secara resmi menantang Jokowi dalam Pilpres 2019.

Beberapa nama memang sudah dimunculkan. Ada Prabowo Subianto, yang tahun 2014 juga mencalonkan diri. Ada Rizal Ramli yang dalam Rakernas FSPMI pada bulan Februari 2018 lalu menyatakan kesiapannya untuk maju. Sosok Anis Matta yang balihonya mulai ramai menghiasi pelosok negeri. Termasuk Mardani Alisera, yang disebut-sebut sebagai orang yang mula-mula mempopulerkan gerakan ini.

Selain nama-nama di atas, tentu saja masih ada sejumlah nama lain.

Namun demikian, saya ingin menyampaikan satu hal. Gerakan #2019GantiPresiden harus segera memunculkan sosok yang siap untuk menggantikan Jokowi pada Pileg 2019 nanti.

Apa alasannya?

Pertama, gerakan ini memiliki trend terus membesar. Setidaknya ia memberikan sugesti kepada banyak orang, bahwa Joko Widodo bisa dikalahkan. Apalagi penjelasan mengenai sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai “gagal” mulai bisa diterima oleh sebagian masyarakat.

Oleh karena itu, pilihannya adalah segera menyampaikan alternatif baru sebagai pemimpin yang memiliki visi lebih baik tentang Indonesia. Tidak seperti yang sudah-sudah, calon muncul di ujung waktu. Saat injury time. Sehingga rakyat seperti disodorkan pada pilihan sulit tanpa alternatif.

Memunculkan sosok alternatif sejak dini baik untuk pendidikan politik di masyarakat. Menumbuhkan kesadaran sejak dini, bahwa presiden dipilih oleh rakyat. Jika rakyat merasa 5 (lima) tahun ini tidak puas dengan kinerja pemerintah, maka ia memiliki  kuasa untuk mengganti dengan pemimpin yang baru saat Pemilu. Pemimpin yang memberikan harapan bagi masa depan.

Kedua, sosok yang akan menggantikan Presiden dalam Pemilu 2019 harus sudah mengerucut pada siapa. Tidak lagi abstrak atau sekedar ilusi. Dengan demikian, masyarakat bisa menilai, apakah sosok yang dimaksud benar-benar menjadi harapan rakyat sebagai pengganti.

Karena itulah, tepat sekali jika kemudian Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengukuhkan sosok tersebut dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada akhir bulan April 2018 ini.

Tidak masalah, misalnya, jika belum ada Partai Politik yang secara resmi mencalonkan sosok yang didukung KSPI. Justru ini adalah sebagai upaya untuk memunculkan nama dari elemen masyarakat. Sebagai organisasi yang independen, KSPI tidak perlu menunggu Partai Politik untuk menyampaikan sikapnya terhadap Calon Presiden.

 

Pos terkait