Mayday, FSPMI Jepara Turun ke Jalan

  • Whatsapp

Jepara, KPonline – Have fun, dangdutan dan mendapatkan doorprice atau turun ke jalan panas-panasan menuntut kesejahteraan saat MayDay? Jika kita sebagai buruh, apa yang akan kita pilih dari kedua opsi tersebut?

FSPMI sebagai salah satu serikat pekerja buruh menjawab tegas untuk memilih turun ke jalan menuju gedung Gubernur Jawa Tengah. Aksi ini dilakukan,  dengan alasan bahwa buruh belum sejahtera dan sungguh tidak pantas jika dirayakan dengan dangdutan atau bersenang senang. Mengingat tentang perjuangan besar yang telah dilakukan oleh kaum buruh terdahulu yang sampai saat ini masih kita rasakan.

Bacaan Lainnya

Yohanes Sri Giyanto selaku penanggung jawab aksi dalam sesi wawancara menyampaikan, “Makna MayDay 2018 pekerja FSPMI Jawa Tengah menghimbau kepada para masyarakat terurama Buruh secara keseluruhan jangan salah mengartikan May Fay dari arti yang sesungguhnya. May Day ada karena perjuangan para buruh terdahulu demi memperjuangkan jam kerja dari 19-20 jam kerja menjadi 8 jam kerja saja yang sampai sekarang masih kita nikmati.

“Bagaimana anspirasi kita tersampaikan kepada para wakil masyarakat jika hari buruh ini di gunakan untuk berjoget ria dan berpiknik serta duduk santai saja”.

Oleh karena itu FSPMI Jepara benar-benar turun ke jalan pada Selasa, 01 Mei 2018. Mereka turun ke jalan tidak lain untuk menuntut kesejahteraan dan mengajukan berkas tuntutan issue terkait dengan masalah industrial di berbagai pabrik di Jawa Tengah.

Bertitik kumpul di depan lokasi PT. MAS Jepara, berjumlah 600 orang buruh bersatu rasa untuk melaksanakan MayDay. Mereka berangkat pukul 08.00 WIB menuju ke Kantor Gubernur Jawa Tengah dengan menggunakan transportasi motor dan 5 bus.

Mereka ke Gubernur dengan membawa 7 tuntutan :

1. Tolak Upah Murah & Cabut PP.78/2015.
2. Turunkan Harga Beras dan Tarif Dasar listrik, Bangun Kedaulatan Pangan dan Energi.
3. Pilih Capres 2019 yang Pro Buruh & Rakyat.
4. Tolak Tenaga Kerja Asing Ilegal
5. Berlakukan UMSK.
6. Hapuskan perpanjangan Jam Kerja tanpa digaji.
7. Penerapan Struktur Skala Upah.

Setelah berpanas panasan di depan kantor Gubernur akhirnya diterima untuk melakukan audiensi. Perwakilan serikat buruh dari berbagai sektor melakukan pertemuan dan berdiskusi. Dengan PLT Asisten Kepemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Heru, bersama Yohanes Sri Giyanto perwakilan dari SPAMK FSPMI Jepara, Sumartono dari SPAMK FSPMI Semarang, perwakian dari DPC Kahutindo (organisasi yang bergerak di meubel dan perkayuan) Semarang.

Dalam audiensi disampaikan beberapa permasalahan ketenagakerjaan kepada Kesejahteraan rakyat Bapak Heru, dan beliau menaggapi dengan antusias dan berjanji akan menyelesaikan masalah-masalah yang di sampaikan secara parsial dalam kurun waktu satu bulan.

Dalam pertemuan siang tadi dengan Heru selaku asisten Kesejahteraan Rakyat dan perwakilan serikat buruh FSPMI Jepara juga mengkritik masalah kinerja Dewan pengupahan Kabupaten Jepara yang tidak ada pergerakan dan terkesan seperti “ghoib” dan itu sangat di sayangkan.

Semoga dengaan aksi kita hari ini, akan muncul membara semangat perjuangan untuk terus demi kesejahteraan.

(Dedi Agus S)

Pos terkait