Sidoarjo, KPonline – Guratan lelah di wajah para buruh PT Kaleng Raya Indonesia (KRI) tak mampu menyembunyikan kobaran api perlawanan di mata mereka. Memasuki hari keempat aksi Mogok Kerja, Jumat (08/05/2026), suasana di depan gerbang pabrik justru semakin solid dan hangat meski hanya beralaskan terpal dan beratapkan tenda darurat.
Di bawah remang lampu yang bersumber dari genset Mobil Komando, pemandangan mengharukan tersaji. Dua orang anggota terlihat sibuk mengaduk mi instan dan menanak nasi hasil sumbangan sukarela. Saat hidangan siap, mereka makan bersama dalam satu nampan kesederhanaan—sebuah perjamuan perlawanan yang jauh lebih terhormat daripada kemewahan di atas penindasan.
Dukungan logistik dan moral terus mengalir deras. Dua Mobil Komando milik PC SPL FSPMI Sidoarjo dan Mobil Komando “Jalur Langit” milik PC SPAI FSPMI Sidoarjo terparkir berdampingan, seolah menjadi benteng pelindung bagi para buruh yang sedang mencari keadilan.

Gelombang solidaritas malam ini semakin kuat dengan hadirnya rombongan dari PC SPL FSPMI Surabaya, PC SPAI FSPMI Surabaya serta berbagai PUK FSPMI lainnya. Menariknya, mereka datang membawa bekal sendiri berupa kopi, roti, hingga ketela dan jagung rebus. Mereka sadar, “tuan rumah” sedang dalam keprihatinab, dan mereka hadir untuk meringankan beban, bukan menambahnya.
“Di sini, FSPMI kembali membuktikan bahwa semboyan Solidaritas Tanpa Batas, ‘Satu Sakit Semua Sakit’ bukan sekadar hiasan di baju seragam. Ini adalah denyut nadi yang nyata,” ujar Kukuh yang berada di lokasi.
Perlawanan terhadap Union Busting Terus Berlanjut
Obrolan di bawah tenda malam ini mengalir luas, mulai dari strategi advokasi hukum melawan pemberangusan serikat (union busting) hingga diskusi ringan tentang sepak bola sebagai pelepas penat. Namun, satu tujuan tetap menyatukan mereka: Kemenangan.
Hentikan Union Busting: Segera pekerjakan kembali 9 orang pengurus dan anggota yang di-PHK sepihak.
Bayar Hak Kami: Lunasi seluruh tunggakan upah yang menjadi hak dasar buruh.
Malam kian larut di Wonoayu, namun semangat para pejuang upah ini justru kian memuncak. Mereka yakin, selama solidaritas masih mengalir sesama buruh. Perjuangan ini belum usai, dan api itu masih menyala di depan gerbang PT KRI.



