Jakarta, KPonline – Hari ini, 33 tahun lalu, Marsinah, buruh perempuan dan aktivis PT. Catur Putra Surya, Sidoarjo, ditemukan meninggal dunia pada 8 Mei 1993. Kematian Marsinah menjadi salah satu catatan kelam dalam sejarah perburuhan Indonesia dan menjadikannya simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.
Marsinah lahir di Nganjuk, 10 April 1969. Ia bekerja sebagai buruh di PT. CPS, pabrik arloji di Porong, Sidoarjo. Marsinah aktif menyuarakan hak buruh. Pada 3–4 Mei 1993, ia ikut memimpin aksi mogok menuntut kenaikan upah sesuai Surat Edaran Gubernur Jatim, dari Rp1.700 menjadi Rp2.250 per hari, serta pembubaran SPSI bentukan perusahaan.
Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, Marsinah hilang pada 5 Mei 1993 setelah aksi. Tiga hari kemudian, 8 Mei 1993, jenazahnya ditemukan di hutan Dusun Jegong, Nganjuk, dengan tanda-tanda kekerasan.
Kasus Marsinah sempat disidangkan pada 1994–1995. Sejumlah terdakwa diadili, namun akhirnya dibebaskan di tingkat kasasi Mahkamah Agung. Hingga kini, dalang dan pelaku utama pembunuhan Marsinah belum terungkap secara tuntas. Komnas HAM menyatakan kasus ini sebagai pelanggaran HAM berat.
Setiap 8 Mei, buruh, mahasiswa, dan aktivis HAM menggelar aksi tabur bunga, diskusi, hingga panggung rakyat untuk mengenang Marsinah. Marsinah dianugerahi pahlawan nasional oleh presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025 bertepatan dengan hari pahlawan.
Selain itu juga dibangun museum yang menyimpan berbagai barang kenangan milik Marsinah, termasuk sepeda ontel yang pernah ia gunakan serta blazer yang ia kenakan saat acara pernikahan.
Selain berfungsi sebagai ruang sejarah dan edukasi mengenai hak-hak pekerja, museum ini juga direncanakan menjadi rumah singgah bagi kaum buruh.
Pembangunan museum ini bertujuan untuk menjaga semangat perlawanan dan keberanian kaum buruh dalam memperjuangkan hak-haknya di Indonesia.
Bagi gerakan buruh, Marsinah bukan sekadar nama. Ia jadi pengingat bahwa upah layak, kebebasan berserikat, dan keselamatan kerja masih harus terus diperjuangkan.
“Marsinah dibunuh karena berani bersuara. 33 tahun berlalu, PR kita masih sama hapus upah murah, stop union busting, lawan kekerasan terhadap aktivis buruh,” ujar Supriyanto, Ketua Umum PP SPLP FSPMI di Jakarta, Kamis, 8 Mei 2026.
Di tengah maraknya isu outsourcing, PHK sepihak, dan lemahnya perlindungan kerja, semangat Marsinah relevan. Ia membuktikan bahwa satu suara buruh bisa mengguncang kekuasaan, meski nyawa jadi taruhannya.
Selanjutnya di ketahui di Sidoarjo, buruh dan aktivis menggelar doa bersama di makam Marsinah, Desa Nglundo, Nganjuk. Di Jakarta, KSPI dan sejumlah elemen menggelar mimbar bebas bertema “33 Tahun Marsinah: Lawan Upah Murah, Tolak Perbudakan Modern”.
33 tahun sudah Marsinah pergi. Tapi perjuangannya hidup di tiap pabrik, di tiap aksi, di tiap buruh yang berani bilang “tidak” pada penindasan. Marsinah tidak mati. Ia hidup dalam perlawanan. (Yanto)