Ketika Pengusaha Lupa Cara Memanusiakan Pekerja

Ketika Pengusaha Lupa Cara Memanusiakan Pekerja
Foto ilustrasi

Purwakarta, KPonline-Ada ironi yang terus berulang di dunia kerja. Banyak perusahaan berlomba membeli mesin terbaru, membangun gedung pabrik, memasang slogan motivasi di setiap sudut pabrik, bahkan menggelar pelatihan tentang budaya kerja modern. Namun di saat yang sama, sebagian pengusaha justru lupa satu hal paling mendasar. Bagaimana caranya memanusiakan manusia yang bekerja untuk mereka.

Mungkin bagi sebagian pengusaha, pekerja hanyalah robot bernyawa yang mengisi ruang produksi. Mereka hadir setiap pagi, menekan tombol mesin, memenuhi target, lalu pulang. Besok datang lagi, dan begitu seterusnya. Seolah-olah kehidupan mereka berhenti tepat di gerbang pabrik.

Padahal pekerja bukan baut yang bisa diganti kapan saja. Mereka memiliki keluarga yang menunggu di rumah, anak yang harus sekolah, orang tua yang membutuhkan biaya berobat, serta mimpi-mimpi yang tidak pernah tercantum dalam laporan keuangan perusahaan.

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan secara jelas menyebut bahwa pembangunan ketenagakerjaan bertujuan memberdayakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi, memberikan perlindungan, serta meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keluarganya. Selain itu, pekerja juga berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha.

Namun dalam praktiknya, kata manusiawi terkadang hanya menjadi tulisan indah di atas kertas.

Ada pekerja yang diminta lembur terus-menerus tanpa memperhatikan kondisi fisiknya. Ada yang dipaksa mengejar target produksi yang bahkan mesin pun mungkin akan mengeluh jika bisa berbicara. Ada yang setiap hari dihantui ancaman kontrak tidak diperpanjang hanya karena berani bertanya tentang haknya.

Ironisnya, ketika pekerja mulai sakit, stres, atau kehilangan semangat kerja, sebagian pengusaha justru bertanya, “Kenapa produktivitas menurun?”

Pertanyaan itu mirip seperti seseorang yang terus memeras jeruk sampai kering, lalu marah karena tidak ada lagi air yang keluar.

Narasi besar yang sering digaungkan adalah efisiensi. Efisiensi biaya. Efisiensi tenaga kerja. Efisiensi operasional. Kata “efisiensi” seolah menjadi mantra sakti yang dapat membenarkan segala hal.

Tetapi ada yang terlupakan. Ketika efisiensi dijalankan tanpa kemanusiaan, yang lahir bukan perusahaan yang sehat, melainkan lingkungan kerja yang penuh ketakutan.

Singkatnya, sebagian pengusaha tampaknya ingin memiliki pekerja yang disiplin seperti robot, kuat seperti baja, loyal tanpa batas, bekerja lembur tanpa mengeluh, tetapi digaji seminimal mungkin. Jika bisa, mungkin mereka berharap pekerja tidak perlu makan, tidak perlu istirahat, dan tidak perlu memiliki kehidupan di luar pekerjaan.

Sayangnya, pekerja adalah manusia.

Mereka bukan mesin yang cukup diberi pelumas lalu bekerja tanpa henti. Mereka memiliki batas fisik dan mental.

Berbagai penelitian tentang hubungan industrial menunjukkan bahwa keadilan organisasi, kepemimpinan yang baik, dan penghargaan terhadap pekerja berkontribusi terhadap keterikatan kerja serta perilaku kerja yang lebih positif. Sebaliknya, lingkungan kerja yang tidak adil dapat memicu kelelahan dan menurunkan kualitas hubungan kerja.

Karena itu, memanusiakan pekerja sesungguhnya bukan sekadar kewajiban moral, tetapi juga kebutuhan bisnis.

Perusahaan yang menghormati pekerjanya biasanya mendapatkan loyalitas yang lebih tinggi. Pekerja yang merasa dihargai cenderung menjaga kualitas pekerjaan, berkontribusi lebih baik, dan membantu perusahaan berkembang.

Sebaliknya, perusahaan yang hanya melihat pekerja sebagai biaya produksi akan menuai konsekuensinya sendiri. Pergantian tenaga kerja meningkat, konflik hubungan industrial muncul, produktivitas menurun, dan kepercayaan pekerja menghilang.

Pada akhirnya, sejarah hubungan industrial selalu mengajarkan satu hal bahwa keuntungan perusahaan dan kesejahteraan pekerja bukanlah musuh yang harus saling mengalahkan. Keduanya justru harus berjalan beriringan.

Karena sebuah pabrik mungkin bisa berdiri dengan beton dan baja. Tetapi perusahaan tidak akan pernah tumbuh tanpa manusia yang menggerakkannya.

Maka ketika ada pengusaha yang lupa cara memanusiakan pekerja, barangkali ia perlu mengingat kembali satu kenyataan sederhana. Mesin hanya menghasilkan barang.bTetapi pekerjalah yang menghasilkan peradaban.