Kami Tak Memblokade, Justru Mereka, Ribuan Buruh FSPMI Kepung PT Pakerin, Truk Raksasa Halangi Akses di Tengah Tuntutan THR dan Upah

Kami Tak Memblokade, Justru Mereka, Ribuan Buruh FSPMI Kepung PT Pakerin, Truk Raksasa Halangi Akses di Tengah Tuntutan THR dan Upah

Mojokerto, KPonline — Sekitar seribu pekerja yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kabupaten Mojokerto menggelar unjuk rasa damai di depan PT Pakerin yang berlokasi di Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, Senin (22/6/2026).

Sejak pukul 08.00 WIB, massa mulai memadati kawasan depan pabrik untuk menyuarakan sejumlah tuntutan krusial. Di antaranya adalah pembayaran upah dan Tunjangan Hari Raya (THR) tahun 2026 yang hingga kini belum juga dibayarkan oleh pihak perusahaan.

Namun, aksi yang semula berlangsung tertib itu memanas setelah massa mendapati dua unit truk besar diparkir melintang tepat di tengah gerbang utama pabrik. Pekerja menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pemblokadean yang dilakukan pihak manajemen untuk menghalangi akses mereka menyampaikan aspirasi.

“Kami datang sejak pukul delapan pagi dengan niat menyampaikan tuntutan secara damai sesuai arahan pimpinan. Tapi justru pihak perusahaan yang sejak semalam sudah memarkir dua truk besar di tengah gerbang,” ujar seorang perwakilan massa yang akrab disapa bubdas

Ia menegaskan bahwa massa aksi sama sekali tidak berniat menutup akses jalan pabrik. “Kami tidak memblokade, tapi karena truk itu berada tepat di tengah gerbang, otomatis massa meluber hingga ke jalan raya,” tambahnya.

Selain persoalan upah dan THR, massa juga menyoroti isu lain yang tak kalah serius, yakni dugaan pihak PT Pakerin akan menjual sejumlah aset atau mesin produksi secara diam-diam. Kekhawatiran ini semakin memperkuat desakan mereka agar manajemen segera membuka ruang dialog dan memberikan kejelasan.

Hingga siang hari, massa masih bertahan di lokasi dan mengancam akan mendirikan tenda juang serta menginap di depan pabrik jika tuntutan mereka tidak direspons. Bahkan, tak menutup kemungkinan massa akan melakukan aksi serupa di pabrik-pabrik lain yang memiliki afiliasi dengan PT Pakerin.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PT Pakerin belum ada tanggapan resmi terkait tuntutan pekerja maupun isu penjualan aset. Ratusan anggota serikat pekerja kini terus menunggu sikap nyata dan komitmen perusahaan agar hak-hak mereka tidak terus terabaikan.

Pantauan KPonline di lokasi menunjukkan suasana aksi masih terkendali dengan pengawalan aparat kepolisian. Para pekerja berharap pemerintah daerah turut mengambil peran dalam mediasi antara buruh dan manajemen demi terciptanya solusi yang adil bagi kedua belah pihak.