Jangan Pilih Cakades Jahat; Yang Kamu Lakukan Padaku Itu Jahat

cerita cinta

Jakarta, KPonline – Desa Bidara sedang mengadakan Pemilihan Kepada Desa (Pilkades). Karena hanya ada dua calon, masyarakat desa terbelah. Satu kelompok mendukung calon kepada desa (Cakades) yang dicitrakan merakyat. Namun ada juga yang mendukung Cakades yang satunya, yang dikesankan gagah perkasa sehingga mampu melayani rakyatnya dengan prima.

Di luar yang sudah memilih satu diantara dua calon, ada yang memilih untuk tidak memilih kedua-duanya.

Berbagai cara dilakukan untuk memenangkan dukungannya. Calon yang sudah sepuh akan didandani sedemikian rupa sehingga nampak kekinian. Ulama didekati untuk meraih simpati ummat. Dan yang paling beruntung adalah emak-emak, karena menjadi perhatian untuk meraih simpati.

Hal-hal seperti tidak membuat warga desa saling bertengkar. Berbeda adalah hal biasa. Nampaknya mereka sudah lebih dewasa. Tahu mana batu kali, mana berlian. Pengalaman bertahun-tahun membuat mereka belajar, untuk bisa membedakan pencitraan dan ketulusan.

Tetapi ketenangan warga desa terusik. Ketika di suatu pagi, di setiap sudut kota terpasang spanduk warna merah dengan tulisan yang gagah: JANGAN PILIH CAKADES JAHAT.

Tidak ada yang mengaku, siapa yang memasang spanduk tersebut. Masing-masing pendukung saling tuduh. Tetapi tetap saja tidak ketemu siapa sesungguhnya dalang dibalik semua itu.

Hansip, yang siang dan malam berjaga di pos ronda juga mengaku tidak tahu. Barangkali pemasangan itu dilakukan oleh orang yang sakti mandraguna. Tidak kasat mata. Ada yang menduga itu dilakukan makhluk gaib yang muncul dari kerak neraka, sehingga tidak lagi takut dosa ketika menebar teror bagi warga.

Ya, warga desa mengatakan itu teror. Gara-gara spanduk itu, desa yang permai itu akhirnya ramai dengan kasak-kusuk. Desas-desus. Bagaimanapun, dua Cakades — Calon Kepala Desa — yang sedang berlaga adalah putra terbaik desa. Dua-duanya adalah calon pemimpin, yang seharusnya dihormati oleh semua.

Ini sangat disesalkan oleh semua warga. Ini sama saja mempermalukan bangsa. Sebab pada saat yang sama, desa mereka sedang kedatangan tamu dari desa-desa lain. Kebetulan ada hajat bersama se-kecamatan, dan desa mereka ketiban giliran sebagai tuan rumah.

Dalam situasi seperti itu, orang yang terkenal paling kaya di desa itu mengadakan sayembara. Sebut saja, dia, Mantini. Perempuan paling tajir di desa ini.

“Bagi siapa saja yang bisa menemukan orang memerintahkan memasang spanduk itu; kalau laki-laki akan aku jadikan suami dan kalau perempuan aku jadikan saudara,” ujarnya di lapangan desa. Disaksikan segenap warga desa, tua-muda, miskin-kaya.

Semua orang tergiur dengan hadiah yang ditawarkan. Menikah dengan kembang desa yang kaya raya adalah impian semua pemuda desa. Sudah tak terhitung berapa banyak yang patah hati dibuatnya. Dan sekarang, tiba-tiba ia mengumumkan sesuatu yang selama ini diimpi-impikan banyak pemuda.

Satu hari, dua hari, belum ada yang datang. Nampaknya, memang, pemasang spanduk itu seperti menghilang ditelan bumi.

Hingga kemudian, pada hari kelima, seseorang datang. Ia mengaku siap memberikan kesaksian. Siapa Cakades Jahat, eh… Maksudnya, siapa orang di belakang pemasangan spanduk itu.

Namun, yang datang kepada Mantini bukan laki-laki. Ia juga berjenis kelamin perempuan.

“Lai-laki itu sendiri yang memintaku menikah dengannya,” kata si pemuda. Terdengar getir nada suaranya.

“Saya sudah bersiap. Baju pengantin sudah dijahit. Undangan sudah disebar.”

Setelah terdiam beberapa saat dia melanjutkan, “Lalu pada hari H, hanya selang beberapa jam sebelum ijab qabul dilakukan, dia membatalkan pernikahan.”

Perempuan itu menghela nafas panjang.

“Alasannya tidak masuk akal. Dia membatalkan pernikahan, hanya karena teman-temannya tidak merestui.”

“Saya tidak kecewa, hanya kaget saja. Kaget, karena dia membatalkan pernikahan dengan saya, hanya karena lebih percaya pada teman-temannya.”

Mantini mengernyitkan dahi. Tidak menduga jika seperti ini kejadian yang sebenarnya. Mantini tahu, perepuan itu kecewa. Tetapi demi harga dirinya, menabahkan diri. Bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa.

“Siapa laki-laki yang berjanji akan menikahimu itu?” Tanya Mantini. Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Karena calon kepala desa hanya ada dua, pastilah satu diantara keduanya. Tinggal saya cek ke warga, siapa yang memberi PHP kepada perempuan ini, pikir Martini.  Jika benar undangan sudah disebar, warga desa pasti sudah mengehatuinya.

“Itu tidak penting lagi. Aku sudah menganggapnya selesai. Tetapi jika kamu bertemu dengannya, tolong katakan padanya….” perempuan itu tak menyelesaikan kalimatnya.

“Mengatakan apa?” Tanya Martini

“Katakan padanya, apa yang kamu lakukan padaku itu jahat.

Martini termenung. Jadi, yang di spanduk itu….