Jangan Karena Kebodohan dan Pujian, Tenggelam Dalam Penindasan

Jangan Karena Kebodohan dan Pujian, Tenggelam Dalam Penindasan

Medan,KPonline, – Buruh yang paling mudah ditindas bukanlah buruh yang miskin,tetapi buruh yang malas berpikir.

Kemiskinan masih bisa dilawan dengan perjuangan, kebodohan yang dipelihara, akan berubah menjadi rantai yang dipasang di kaki sendiri.

Hari ini banyak buruh tidak lagi dibungkam dengan cambuk, tetapi dibungkam dengan pujian.

Dipuji sedikit, lalu lupa haknya.
Ditepuk pundaknya sedikit, lalu merasa paling istimewa.
Diberi seragam, jabatan kecil, atau kedekatan dengan atasan, mulai memusuhi para buruh yang tidak lain rekannya sendiri.

Akibatnya timbul perpecahan, hilang rasa solidaritas dan soliditas, yang merupakan sebuah kondisi yang diinginkan oleh pengusaha.

Buruh tidak pernah menyadari dimata kapitalis buruh bukan mitrakerjanya, buruh tetaplah alat produksi.
Selama tenaga masih bisa diperas, maka akan selalu diperas, selama bisa ditindas akan terus ditindas.
Ketika tidak lagi berguna, akan dibuang seperti onderdil rusak.

Tetapi masih saja ada buruh yang tidak pernah sadar, merasa bangga dipuji dan menjadi penjilat kekuasaan.Mereka menyerang kawan sendiri demi mendapat senyum atasan.

Mereka membela ketidakadilan demi dianggap loyal.
Mereka rela melihat upah ditekan, hak dipangkas, dan masa depan dihancurkan, asal dirinya masih diberi posisi aman.

Inilah bentuk penindasan paling berbahaya:
“ketika korban ikut menjaga sistem yang menindasnya”

Penjajah paling kejam bukan selalu yang memukul tetapi yang berhasil membuat kita merasa nyaman menikmati kebodohan dan perbudakan.

Buruh harusnya sadar, bahwa pujian yang berwujud ucapan, selembar kertas piagam yang katanya sebagai buruh terbaik tidak selalu sebagai tanda penghargaan, tetapi hal itu hanya umpan agar buruh tetap jinak.

Agar tidak kritis.
Agar takut melawan.
Agar terus bekerja menggali produksi
Agar sibuk mencari muka daripada memperjuangkan hak bersama.

Dalam banyak catatan sejarah telah menuliskan bahwa, banyak kaum tertindas hancur bukan karena kekuatan penguasa, tetapi karena kebodohan rakyatnya sendiri.

Mudah dipecah, lebih suka dipuji daripada dihormati, lebih takut kehilangan kenyamanan kecil daripada kehilangan masa depan anak-anaknya.

Buruh yang cerdas tidak mudah mabuk pujian, tetapi buruh yang kritis dan selalu bertanya:

“Kenapa perusahaan untung besar, tetapi upah tetap kecil?”

“Kenapa produktivitas naik, tetapi kesejahteraan buruh jalan di tempat?”

“Kenapa buruh yang kritis dianggap ancaman, sementara penjilat dipelihara?”

Kesadaran adalah musuh terbesar penindasan, sehingga jangan heran jika ada saja yang sengaja membuat buruh tetap bodoh dan berada dalam ketakutan:

‘Takut membaca.
Takut belajar hukum.
Takut memahami politik perburuhan.
Takut berserikat dengan benar.”

Pengusaha culas berikut antek-anteknya, sangat mengetahui dan paham, bahwa,
buruh yang berpikir, sulit diperbudak, sulit diajak kompromi, sulit ditindas.

Dan satu hal yang pasti, buruh yang cerdas sangat mengetahui dan memahami, bahwa “perusahaan bisa terus hidup, tumbuh, dan berkembang bukan ditentukan semata oleh owner, Direksi, tenaga ahli, dan bukan dari hasil-hasil rapat-rapat manajemen.Penentu sesungguhnya adalah buruh dan produktivitasnya”

“Tidak ada mesin yang berjalan sendiri.”

“Tidak ada target produksi yang tercapai dengan rapat dan pidato”

“Tidak ada keuntungan perusahaan yang lahir dari jas mahal dan ruang ber-AC.”

Jangan tenggelam dalam penindasan hanya karena haus pujian,tepuk tangan atasan tidak akan menyelamatkan hidupmu ketika diputus hubungan kerja (PHK).

Senyuman manis dari manajemen tidak akan bisa membayar sekolah anakmu, loyalitas tanpa harga diri hanya akan melahirkan generasi buruh yang terus diwarisi ketakutan.

Sudah saatnya buruh berhenti menjadi alat produksi, alat untuk mengadu domba sesama buruh, dan alat untuk menaikkan posisi tawar pengurus serikat.Mulailah menjadi manusia yang sadar.

‘Sebab, buruh yang bodoh akan diperalat.”
“Buruh yang takut akan terus diinjak.”