Doktrinisasi “Cari Kerja Sulit”: Cara Halus Membungkam Buruh

Doktrinisasi “Cari Kerja Sulit”: Cara Halus Membungkam Buruh

Medan,KPonline, – Setiap hari buruh dicekoki kalimat yang sama: “Sekarang cari kerja susah.”, “Kalau melawan perusahaan, nanti dipecat.”, “Masih untung punya kerja.” “Di luar sana banyak pengangguran.” “Jangan tanya yang diberikan perusahaan padamu, tapi tanyalah dirimu apa yang sudah kau berikan kepada perusahaan”

Kalimat-kalimat itu terdengar biasa. bahkan terdengar “ sangat bijaksana”.

Padahal sesungguhnya kalimat itu adalah alat doktrin.Alat untuk menanamkan rasa takut.Alat untuk membuat buruh tunduk. Alat untuk membunuh keberanian melawan ketidakadilan. Buruh dibuat percaya bahwa kehilangan pekerjaan adalah kiamat.

Akibatnya, banyak buruh memilih diam meski dihina, ditindas, diperas tenaga dan waktunya.

Inilah bentuk penjajahan modern yang paling berbahaya:
“bukan rantai di kaki, tetapi rantai di pikiran.”

Buruh sengaja dipelihara dalam ketakutan dan ketika buruh takut kehilangan pekerjaan, maka perusahaan tidak perlu banyak kekerasan. Cukup dengan ancaman halus. “Kalau tidak suka, silakan keluar masih banyak yang mau menggantikan” Kalimat itu sering lebih menakutkan daripada cambuk.

Pengusaha berhasil membuat sistem untuk menciptakan mental buruh yang merasa:
“perusahaan adalah penyelamat hidupnya,
gaji adalah belas kasihan, dan pekerjaan adalah hadiah, bukan hasil dari tenaga yang mereka jual.”

Sementara bila buruh menggunakan pikiran dan kecerdasannya, maka buruh akan melihat kenyataannya yang terbalik.
“Perusahaan bisa hidup dan berlangsung karena kerja buruh. Mesin tidak bergerak sendiri,gudang tidak berjalan sendiri. Produksi tidak lahir dari ruang kosong. Keuntungan miliaran tidak turun dari langit. Buruhlah yang menciptakan nilai.
Buruhlah yang menghidupkan industri.
Tetapi anehnya, justru buruh yang dibuat merasa paling lemah.

Doktrin “Jangan Sampai Kehilangan Pekerjaan” Adalah Senjata Kekuasaan Doktrin ini sangat efektif untuk: membungkam protes, melemahkan serikat, menghancurkan solidaritas, dan membuat buruh menerima ketidakadilan sebagai nasib.

“Jangan tanya yang diberikan perusahaan padamu, tapi tanyalah dirimu apa yang sudah kau berikan kepada perusahaan” adalah sebuah doktrin agar buruh bisa terus patuh, yang akhirnya. Banyak buruh yang ikhlas dibayar dengan upah murah, yang penting bisa tetap bekerja. Banyak buruh rela kerja lembur tanpa upah lembur, kalaupun dibayar hanya ala kadarnya saja.

Banyak buruh tidak menolak hubungan kerjanya berdasarkan kontrak, meski dia tahu tidak dibenarkan, yang penting bisa terus bekerja. Buruh tidak pernah bertanya tentang target kerja yang tidak manusiawi, dan tetap berusaha mencapainya.

Tetap pasrah diintimidasi atasan,dizolimi
bahkan dihina martabatnya sebagai manusia. Semua diterima dengan satu alasan: “Yang penting bisa terus bekerja, jangan sampai dipecat.” Inilah kemenangan terbesar sistem:

“ketika buruh berada dalam ketakutan untuk memperjuangkan haknya sendiri.”

Ketakutan buruh untuk menuntut haknya sendiri adalah tambang emas bagi pengusaha rakus, culas dan curang. Karena buruh yang takut akan mudah dikendalikan: “Buruh tidak akan kritis,tidak berani bersuara,tidak berani berserikat, dan tidak berani melawan.”

Buruh yang takut biasanya akan saling menjatuhkan sesama buruh demi mempertahankan posisi. Maka lahirlah budaya: “menjilat atasan, mengkhianati kawan, memfitnah sesama buruh,dan memusuhi aktivis buruh.” Sistem berhasil mengubah buruh menjadi alat untuk menindas buruh lainnya.

Buruh harusnya sadar, dan paham bahwa pekerjaan bukan sedekah. Perusahaan mempekerjakan buruh bukan karena kasihan,tetapi karena perusahaan membutuhkan tenaga buruh untuk menghasilkan produksi dan keuntungan.

Hubungan kerja adalah hubungan kepentingan, bukan hubungan feodal antara tuan dan budak.Buruh tidak boleh hidup dengan mental pengemis pekerjaan. Kalau buruh terus dididik untuk takut kehilangan pekerjaan, maka selamanya buruh akan mudah diperas. Yang harus ditakuti bukan kehilangan pekerjaan, tetapi kehilangan harga diri. Apa gunanya bekerja puluhan tahun kalau: hak diinjak, kesehatan hancur, keluarga terabaikan, pikiran tertekan.

Apa artinya “bertahan kerja” jika hidup dijalani dalam ketakutan setiap hari?

Buruh bukan mesin produksi.
Buruh adalah manusia yang memiliki martabat, hak, dan kehormatan.

Sejarah mencatat dan membuktikan:”
tidak ada hak buruh yang lahir dari rasa takut. Semua lahir dari keberanian melawan. Jam kerja manusiawi lahir dari perlawanan. Upah minimum lahir dari perlawanan. Hak cuti lahir dari perlawanan. Jaminan sosial lahir dari perlawanan. Kebebasan berserikat lahir dari perlawanan. Bukan dari diam.
Bukan dari tunduk. Bukan dari mental “asal jangan dipecat”.Buruh harus Mengubah pola pikir berhenti mewarisi mental ketakutan. Karena selama buruh takut kehilangan pekerjaan, selama itu pula pengusaha rakus dan kekuasaan anti-buruh akan terus menang. Yang dibutuhkan buruh hari ini bukan hanya tenaga kuat, tetapi: kesadaran, keberanian, solidaritas, pengetahuan hukum, dan organisasi yang kuat.

Buruh yang sadar tidak mudah ditakut-takuti. Buruh yang bersatu tidak mudah diinjak. Sebab perusahaan sering terlihat besar bukan karena mereka kuat,
tetapi karena buruh tercerai-berai dan ketakutan.

Doktrin “cari kerja sulit, jangan sampai kehilangan pekerjaan” telah terlalu lama dijadikan alat untuk melumpuhkan keberanian buruh. Sudah waktunya buruh berhenti hidup dalam ketakutan yang dipelihara sistem. Karena ketika buruh terus takut kehilangan pekerjaan, maka yang sebenarnya hilang lebih dulu adalah: keberanian,

harga diri, dan masa depan kelas pekerja itu sendiri.

Dan satu yang perlu diingat “PHK bukan berarti kiamatnya dunia dan hilangnya seluruh rezeki”

Bagi buruh yang beragama taat beribadah percaya akan adanya Tuhan, dia tidak akan pernah menjadikan pengusaha sebagai Tuhan keduanya, dan percaya kalau rezeki itu Tuhan yang mengaturnya, dan dia tidak akan takut di PHK.