Informasi Baik, Menularkan Energi Baik

  • Whatsapp

“Perjuangan tanpa didasari pengetahuan atas apa yang sedang kita perjuangkan, membuat gerakan tak memiliki daya tahan menghadapi gempuran.”

Ini yang sering saya katakan, ketika menyampaikan betapa penting setiap orang yang terlibat dalam gerakan dibekali dengan informasi terkait apa yang sedang diperjuangkan.

Bacaan Lainnya

Pengetahuan ibarat lentera yang menerangi kegelapan. Mencerahkan. Menguatkan.

Bayangkan bila seorang peserta demonstrasi menjawab tidak tahu dan sekedar ikut-ikutan ketika ditanya tentang apa yang sedang dituntut dalam unjuk rasa tersebut. Dengan seketika, narasi yang sedang kita bangun akan runtuh. Bahkan menjadi pukulan balik bagi kita.

Ada banyak cara untuk mentransfer pengetahuan. Dengan obrolan santai, diskusi, rapat akbar, atau menulis status di media sosial seperti ini.

Ya, jangan abaikan media sosial. Di sini, informasi bukan lagi monopoli para taipan pemilik media.

Tak jarang, di Fb atau IG, saya mendapat pesan dari seseorang yang tak dikenal menanyakan perihal serikat pekerja. Beberapa di antaranya berkonsultasi mengenai perselisihan hubungan industrial yang mereka hadapi.

Mereka bercerita, banyak mendapatkan informasi dan mengetahui gerakan serikat pekerja dari video serta foto-foto yang diunggah ke media.

Jika tidak ada yang mempublikasikan apa yang dilakukan serikat, orang-orang di luar sana akan menganggap serikat pekerja tidak melakukan apa-apa. Lebih ironis jika ada yang berpendapat bahwa serikat sudah tidak ada.

Publikasi bukan untuk pamer. Tetapi sebuah ikhtiar untuk menularkan energi baik.

Percayalah ini. Informasi baik akan menularkan kebaikan. Informasi buruk akan menyebarkan keburukan.

Dengan demikian, kita memiliki satu pilihan: tularkan kebaikan. Stop mengipasi bara api kebencian dan permusuhan.

Hal lain yang harus kita pahami, media hanyalah alat untuk menyampaikan informasi. Tetapi yang menjadi substansi adalah informasi itu sendiri. Konten.

Kalaulah media sosial sebagai palagan, maka tulisan, gambar, foto, dan video adalah senjata andalan.

Dan persis di sini, setiap konten terkait erat dengan cara pandang kita menilai sesuatu. Juga kepada siapa keberpihakan kita.

Bagi gerakan buruh, misalnya, UU Cipta Kerja hanya akan menciptakan petaka. Tetapi bagi kapitalis, beleid itu akan memberikan keuntungan yang berlipat ganda.

Mengapa ada perbedaan pandangan? Karena ada perbedaan persepsi.

Agar persepsi kita lebih unggul, pada akhirnya kita dituntut untuk terus belajar. Agar pengetahuan kita tidak tertinggal di belakang. Sebab tak jarang, narasi yang kita sampaikan sudah usang sehingga mudah dipatahkan.

(Kahar S Cahyono)

Pos terkait