Bekasi, KPonline – PUK SPLP FSPMI PT Marsol Abadi Indonesia memastikan akan turut serta dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 yang dipusatkan di Jakarta pada 1 Mei 2026. Kesiapan itu disampaikan langsung Ketua PUK SPLP FSPMI PT Marsol Abadi Indonesia, Budi Lahmudi, S.H., M.H., di sela kegiatan pelatihan wirausaha yang digelar di New Omah Buruh Bekasi, Sabtu, 18 April 2026.
Budi Lahmudi menyebut bahwa berdasarkan daftar yang diedarkan oleh bidang organisasi, saat ini sudah 70 anggota yang mendaftar untuk ikut dalam aksi May Day 2026. Jumlah tersebut dinilainya sebagai bukti bahwa semangat perjuangan di tingkat basis masih menyala.
“Dari list yang beredar, 70 anggota kita sudah siap berangkat ke Jakarta untuk May Day. Ini bukan sekadar angka, tapi komitmen bahwa anggota PT Marsol Abadi Indonesia konsisten mengawal isu perburuhan,” ujarnya.
Menurut Budi, koordinasi teknis keberangkatan mulai dimatangkan sejak awal April. Bidang organisasi PUK bertugas mendata peserta, menyiapkan armada, logistik, hingga atribut aksi seperti seragam, bendera, dan spanduk tuntutan. Selain itu, peserta juga akan dibekali pemahaman terkait substansi isu yang diusung pada May Day tahun ini.
“Tidak boleh berangkat kosong. Anggota harus paham kita turun ke jalan untuk apa. May Day bukan piknik tahunan. Ini panggung politik kelas pekerja untuk menagih hak,” tegas Budi di hadapan peserta pelatihan wirausaha yang sebagian besar juga terdaftar sebagai peserta May Day.
PUK SPLP FSPMI PT Marsol Abadi Indonesia akan bergabung dengan ribuan buruh FSPMI dari berbagai sektor dan daerah yang akan memadati Jakarta. Konsolidasi di tingkat PC dan PP terus dilakukan agar aksi berjalan tertib, terarah, dan membawa pesan yang jelas kepada pemerintah.
Budi menegaskan bahwa May Day 2026 tetap membawa isu utama yang belum tuntas, yaitu pencabutan Undang-Undang Cipta Kerja klaster ketenagakerjaan dan penghapusan sistem outsourcing. Selain itu, PUK juga menyoroti masalah upah layak, jaminan pensiun buruh, serta perlindungan kerja bagi pekerja di sektor padat karya.
“Kita berangkat dengan tuntutan yang sama, cabut UU Cipta Kerja yang merugikan buruh, sahkan undang-undang ketenaga kerjaan yang baru versi KS-PB, hapus outsourcing, berlakukan upah layak nasional. Itu harga mati perjuangan FSPMI,” kata Budi.
Ia juga mengingatkan bahwa perjuangan buruh tidak berhenti di jalanan. Kegiatan seperti pelatihan wirausaha yang digelar hari ini adalah bagian dari strategi penguatan anggota.
“Perjuangan di jalan harus seiring dengan perjuangan meningkatkan kualitas diri. Di pabrik kita melawan kebijakan yang tidak adil, di luar pabrik kita bekali anggota agar mandiri secara ekonomi. Itu baru kompak, kuat, hebat,” jelasnya.
Soliditas anggota terjaga tingginya animo anggota untuk ikut May Day disebut Budi sebagai buah dari kerja organisasi yang terus menjaga komunikasi dan pendidikan politik di basis. Setiap rapat anggota dan kegiatan PUK selalu disisipkan pembahasan isu nasional agar anggota tidak tercerabut dari realitas gerakan buruh.
“Anggota kita paham, kalau hari ini diam, besok kebijakan semakin menekan. Makanya 70 orang yang daftar ini datang dari kesadaran, bukan dimobilisasi. Mereka tahu persis untuk apa ke Jakarta,” tambah Budi.
PUK SPLP FSPMI PT Marsol Abadi Indonesia menargetkan seluruh peserta berangkat dalam kondisi siap secara fisik dan ideologis. Briefing akhir akan digelar sepekan sebelum 1 Mei untuk memastikan semua instruksi aksi dipahami.
“Target kita bukan cuma hadir, tapi pulang membawa hasil. Minimal pemerintah dan DPR dengar lagi suara buruh. Syukur-syukur ada kebijakan yang berubah,” pungkas Budi Lahmudi.
Dengan 70 anggota yang siap turun ke Jakarta, PUK SPLP FSPMI PT Marsol Abadi Indonesia optimistis bisa memberi kontribusi nyata dalam peringatan May Day 2026 sekaligus menjaga marwah FSPMI sebagai serikat yang konsisten di garis perjuangan. (Yanto)