FSPMI Beri Bantuan Untuk Korban Penggusuran Tambakrejo

 

Semarang, KPonline – Pilu dirasakan sejumlah warga di kampung nelayan Tambakrejo Semarang, bagaimana tidak? Saat masih menjalankan ibadah puasa atau sehabis santap sahur, warga tiba-tiba dikejutkan dengan derap langkah ratusan petugas Satpol PP yang ingin mengusur tempat tinggalnya karena terdampak proyek normalisasi Banjir Kanal Timur (BKT), beberapa alat berat meluluh lantakkan rumah mereka rata dengan tanah.

Sekitar 97 Kepala Keluarga (KK) bertahan di tenda darurat, mereka menolak untuk dipindahkan ke Rusun Kudu karena dirasa jauh dengan mata pencaharian mereka.

Berbagai seruan solidaritas muncul dari berbagai pihak, baik pegiat seni, mahasiswa, LBH dan tak ketinggalan FSPMI pun ikut ambil bagian untuk menyerukan solidaritas bagi korban penggusuran. Tagar rakyat bantu rakyat semakin meluas dan menyentuh berbagai elemen.

Supriyono, salah satu buruh di perusahaan otomotif di Kota Semarang yang juga sebagai Sekretaris Media Perdjoeangan FSPMI Jawa Tengah berinisiatif menggetuk hati rekan rekannya. Di bantu beberapa kawannya, Supri menggalang dana bantuan untuk membantu para korban penggusuran.

“Sekitar dua minggu kami tak lelah menyebarkan informasi ini dan melakukan penggalangan dana, meski awalnya banyak yang tidak merespon, tapi hingga batas akhir pengumpulan donasi, hasilnya diluar dugaan kami,” ujar pria yang akrab dipanggil Papi ini.

Bantuan pun berdatangan dari anggota, bahkan dari Jepara dan Cilacap pun ikut memberikan kontribusinya. Seluruh bantuan yang berwujud benda dikumpulkan di kantor sekretariat KC FSPMI Semarang Raya yang oleh Supri digunakan sebagai Posko Bantuan. Tercatat ada beberapa dus pakaian pantas pakai, mukena bersih, peralatan mandi, pakaian bayi, jilbab dan lain sebagainya menumpuk di posko.

“Donasi yang berbentuk uang kami belanjakan beras, mie instant, popok, pembalut dan pakaian dalam,” tambah Supri.

Distribusi bantuan dilaksanakan pada hari Minggu (26/5/2019) kemarin dengan menggunakan Mobil Komando dan didampingi rekan dari LBH Semarang.

Sesampai di lokasi tenda darurat, FSPMI disambut hangat warga dan selanjutnya membawa seluruh barang bantuan ke posko bantuan. Disana telah ada relawan yang membantu pendataan seluruh bantuan yang masuk. Sembari mendata, relawan dari FSPMI berbincang bincang dengan warga.

“Kami minta untuk tetap di lokasi ini karena pekerjaan kami mayoritas nelayan. Kalau harus tinggal jauh dari lokasi, bagaimana nasib kami,” ujar Rahmadi selaku Ketua RT 05 RW XVI Tambakrejo.

Rumah susun yang ditawarkan Pemerintah memang jaraknya cukup jauh dari lokasi. Hal inilah yang membuat warga menolak untuk dipindahkan.

Rahmadi mewakili warga Tambakrejo yang menjadi korban penggusuran mengaku sangat mengapresiasi bantuan dari buruh anggota FSPMI.

“Kami ucapkan banyak terimakasih atas bantuan teman-teman dari FSPMI yang telah memberikan perhatiannya kepada kami, solidaritas ini menguatkan kami,” tutupnya seraya ijin kepada kami untuk mengumandangkan adzan Dzuhur.

(Afg)