Cerpen : Octa, Buruh Tangguh Pemecah Mitos

  • Whatsapp

Pagi ini mendung, sepertinya akan turun hujan. Batamindo Muka Kuning gelap karena langit di tutup awan. Tapi di sana sudah ada seorang perempuan berdiri lengkap dengan seragam karatenya dengan sabuk hitam di pinggangnya. Namanya Octa, perempuan berdarah Palembang. Salah satu perempuan hebat yang saya kenal dan kisahnya singgah dicatatan saya.

Tak lama ternyata hujan turun juga membuat tubuh terasa dingin. Murid yang ditunggu Octa belum datang. “Kemungkinan mereka terjebak hujan dan berteduh” gumam Octa dalam hati.
Hujan masih deras. Dingin menusuk tulang. Lalu rasa rindu mengusik pikiran. Hujan memang seringkali mendatangkan rindu. Entah itu rindu pada mantan atau masa lalu yang penuh kenangan. Yah, dua hal yang selalu terkenang, entah itu indah atau bukan, yang pasti selalu bisa dijadikan pelajaran.

Ingatanya melayang pada tahun 1998. Waktu itu pelatihnya datang kerumahnya untuk meminta Ibunya agar menyiapkan uang untuk mengambil DAN I di Jakarta. Butuh biaya sekitar lima ratus ribu. Pada jaman itu uang segitu sangatlah banyak. Tapi karna memang dia sudah bertekad untuk bisa mengikuti ujian DAN I, akhirnya ia berhasil meyakinkan Ibunya agar bisa mengusahakan uang tersebut.

Saat itu bapaknya sudah wafat dan Octa menjadi anak yatim semenjak tahun 1994. Abang Octa yang selalu mendukungnya untuk mengikuti pelatihan karate juga sedang sakit pada waktu itu hingga menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1997. Sehingga ibunyalah satu-satunya tulang punggung untuk membiayai hidupnya.

Pada tahun 1996 Octa sudah tamat SMA. Tapi ia baru merantau ke Kota Batam pada tahun 1999. Karena Octa masih ingin membantu ibunya merawat kakaknya yang sakit dan juga menyelesaikan pelajaran karate yang ia tekuni.

Karate sepertinya sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Walau dia seorang perempuan, tetapi ia membuktikan bahwa ia mampu melakukanya. Terbukti memang, di saat ia mengikuti ujian DAN I di kota Jakarta, ia lulus dengan nilai terbaik. Dan dia satu-satunya peserta perempuan dari Palembang disaat itu.

Kegiatan karate ini berlanjut sampai ia di kota Batam. Ia meneruskan bakatnya ini dan mengambil ujian DAN II pada tahun 2014. Dilanjutkan dengan ujian DAN III pada tahun 2018. Dan sekarang Octa sudah menjadi “Senpai” yang melatih anak-anak dan juga remaja. Bahkan juga ada orang dewasa dari serikat pekerja yang di latih olehnya dengan tujuan untuk kebutuhan bela diri karna seringnya pulang malam dan rawan kejahatan. Murid dia yang ini tergolong special, karena mereka sudah tergolong orang dewasa. Dan murid special yang inilah yang sedang ia tunggu saat ini di bawah hujan yang semakin lebat saja.

“Sepertinya hujan makin deras saja, mungkin tidak ada lagi yang datang. Kita lanjut saja latihanya ya” Octa berucap pada dua orang muridnya yang tadi sudah sempat datang duluan.
“Baik senpai” jawab mereka sambil membuka tangan yang di pangku sedari tadi karena kedinginan. Walaupun cuma dua orang yang datang, senpai Octa tetap melatih mereka dengan semangat. Dibawah atap dom Batamindo blok O mereka berlatih di bawah rintik hujan yang masih setia menemani.

Octa adalah perempuan hebat dan tangguh. Dia adalah wanita yang bekerja di sebuah perusahaan ternama di kota Batam, yaitu Panasonic atau sering di kenal dengan Sincom. Selain bekerja dia juga memiliki segudang kegiatan di luar. Salah satunya yaitu melatih murid-muridnya karate sebagai wujud pengamalan ilmu yang ia punya. Selain itu dia juga aktif di dalam organisasi serikat pekerja FSPMI. Di organisasi dia bergabung dengan garda metal dan juga mengurus bidang pemberdayaan perempuan di PUK tempat ia bekerja.

Dengan segudang kegiatan tersebut tentulah ia sangat sulit membagi waktu antara bekerja, mengurus anak dan suami dan juga kegiatan ekstra dia di luar. Tapi alhamdulillah Octa bisa melewati semuanya. Tentunya itu semua tidak lepas dari dukungan suami tercinta yang selalu mendampinginya dalam suka maupun duka. Yang menjadi imamnya dan membimbing jalan hidupnya ke jalan yang diredhoi Allah.

Laki-laki pendamping hidupnya itu bernama Jhon. Berdarah Minang Sumatra Barat. Dulu Jhon bekerja di sebuah perusahaan galangan kapal yang ada di Tanjung Uncang. Pada masa Tanjung Uncang masih jaya.

Sebenarnya Jhon adalah kakak dari sahabat karib Octa yang tinggal di Dom. Namanya Sari. Jadi ceritanya, Octa sering main ke rumah Sari yang orang tuanya memang tinggal di Batam. Lalu, Ibu Sari suka melihat Octa walaupun agak tomboi. Terjadilah perjodohan itu dan di atur pertemuan Octa dan Jhon kakak Sari.

Awalnya Octa agak malu dan kurang nyaman.
“Masa jaman udah modern masih pake di jodoh-jodohkan”. Pikirnya . Tapi karena Octa menghargai Ibu Sari yang sudah di anggap seperti orang tua sendiri, akhirnya Octa datang menemui Jhon. Dan pertemuan itu tidak berhenti disitu saja. Masih berlanjut karena Ibunya menyuruh Jhon mengantar Octa pulang ke Dom karena hari sudah malam.

Tidak banyak mereka bercerita di perjalanan. Mungkin karena sama-sama masih malu. Tapi sepertinya mulai ada getaran yang mengusik hati mereka berdua. Getaran-getaran cinta yang mulai tumbuh yang di saksikan malam yang indah dengan langit penuh bintang. Ditambah lagi keindahan kawasan Batamindo Muka Kuning dengan taman dan lampu yang menghiasinya menambah lengkap keindahan malam yang menjadi saksi bertumbuhnya cinta baru bagi dua insan pada malam itu.

Selanjutnya, pertemuan kedua mereka terjadi seminggu setelah pertemuan itu. Tepatnya malam minggu di lapangan Batamindo yang dikenal dengan lapangan seribu janji tempat nongkrong muda-mudi.

Malam itu Jhon langsung bicara pada Octa tentang keseriusanya.
“Maukah kau menikah denganku?” tanya Jhon pada Octa.

Octa kaget karena langsung di ajak menikah. Biasanya kebanyakan laki-laki ngajak pacaran dulu. Tapi karena Octa juga tidak mau pacaran, maunya kalau ketemu jodoh ya langsung menikah. Akhirnya mereka berdua sepakat untuk menikah dan mengabadikan momen tersebut pada tanggal 26-6-2006.

Dan pada tahun 2007 mereka dikaruniai seorang anak. Walaupun Octa seorang pecinta olahraga berat karate, tapi ia tidak ada kesulitan untuk memiliki anak. Jadi,

Octa, Senpai Pemecah Mitos. mitos yang katanya kalau olahraga berat akan menyebabkan mandul itu sudah terpatahkan.

Saat ini Octa sudah memiliki 3 orang anak, dua putri dan satu putra. Anak-anaknya semua mengikuti jejaknya, pecinta karate. Yang sulung sudah bisa membantu Octa melatih karna sudah bersabuk coklat.

Sekarang suami Octa sudah tidak bekerja di perusahaan lagi. Semenjak Tanjung Uncang tutup suaminya beralih ke berdagang. Awalnya dagang mainan di pasar avriari second. Tapi kurang laris dan tidak ada kemajuan. Akhirnya sekarang beralih dagang minuman dan makanan ringan drngan gerobak motor di Jembatan Barelang. Alhamdulillah jualanya laris dan bisa membantu ekonomi keluarga sehingga Octa tidak menjadi “single fighter” lagi dalam mencari nafkah untuk keluarga.

(Maryam Ete)