Buruh Dan Exco Partai Buruh Kepulauan Riau Beri Masukan Kepada Wakil Rakyat Provinsi Kepulauan Riau

Batam,KPonline –Aliansi buruh di Kota Batam, Kepulauan Riau yang tergabung dalam Koalisi Rakyat Menolak Kenaikan Harga BBM hari ini (12/10) menggelar aksi unjuk rasa lanjutan perihal penolakan kenaikan harga BBM hingga UU Cipta Kerja, di Gedung Graha Kepri Batam.

Di Gedung Graha Kepri, saat ini, Rabu, (12/10), buruh di temui Wakil Ketua II DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Raden Hari Tjahyono dan Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kepulauan Riau Mangara. M. Simarmata. Sangat disayangkan, dalam awal pembicaraannya, sekali lagi Kadisnaker Provinsi Kepulauan Riau sudah mengatakan tidak dapat berbuat banyak atas tuntutan buruh-buruh dan hanya bisa meneruskan aspirasi dari buruh ke tingkat selanjutnya.

Bacaan Lainnya

 

Ketua Konsulat Cabang FSPMI Kota Batam, Yapet Ramon, menyampaikan aspirasi dari buruh Kota Batam yang hadir saat ini dengan beberapa aliansi serikat buruh lainnya.

Ramon menerangkan, keluhan tentang kenaikan ongkos transportasi massal efek dari kenaikan harga BBM. Yang hal ini berimbas pada kenaikan kebutuhan hidup yang lain. Dia berharap semua pihak, khususnya perwakilan rakyat dan pemerintah harus membantu rakyat secara riil, khususnya buruh. Efek dari kenaikan BBM dengan kondisi saat ini juga mengakibatkan banyak perusahaan melakukan efisiensi, salah satunya dengan PHK.

Sementara Alfitoni, Exco Partai Buruh Kepulauan Riau, menyampaikan subsidi atau pun bantuan yang diberikan pemerintah saat ini tidak tepat, karena hanya berlaku beberapa saat, padahal kenaikan harga kebutuhan bakalan berlaku seterusnya. Omnibus Law UU Cipta Kerja memperparah kondisi dengan pembatasan kenaikan upah.

Alfitoni berharap, agar kenaikan upah sesuai dengan kenaikan harga kebutuhan hidup yang dari hasil survei dilapangan menembus angka 4,6jt – 5jt dan kemungkinan akan merangkak naik terus. Ketua Exco Partai Buruh Kepri ini berharap, wakil rakyat atau pun pemerintah lakukan survei kebutuhan hidup saat ini dilapangan, agar mengetahui kesulitan yang dihadapi rakyat, khususnya buruh-buruh Kota Batam.

Dia berharap 10%-13% kenaikan upah akan bisa menyesuaikan kebutuhan hidup saat ini. Dia membandingkan dengan Singapura yang rata-rata buruhnya bergaji 11jt, dengan kondisi inflasi yang juga sangat tinggi disana. Tapi keadaan itu justru membuat pemerintahnya malah untung dengan kuatnya daya beli masyarakat. Sekali lagi dia berharap, dengan kenaikan upah yang sesuai, akan menghilangkan demo-demo menuntut kenaikan upah karena buruh-buruh bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.

(Dion)

Pos terkait