Belum Ada Judul

Purwakarta,KPonline – Seringkali masyarakat awam memandang rendah profesi pengamen jalanan. Dengan pakaian seadanya dan kumal dan dekil, pengamen sering dicap miring dan negatif. Diusir dan caci maki adalah makanan sehari-hari mereka, disamping nasi bungkus yang dimakan secara keroyokan tentunya. Dikejar dan ditangkap Satpol PP merupakan pemandangan biasa yang sering kita saksikan di jalan-jalan raya kota.

Sebut saja, Lestareno yang sejak 2001 sudah menggeluti profesi sebagai pengamen. Bahkan jauh sebelum dia menjadi buruh pabrik di salah satu pabrik sepatu tertua di negri ini. Meskipun sudah menjadi buruh, yang notabene mempunyai pendapatan, Lestareno masih harus tetap “ngamen”. Lokasi mengamen pun berpindah ke cafe-cafe di seputaran Purwakarta dan sekitarnya.

Bacaan Lainnya

“Abang tahu sendiri kan, harga-harga kebutuhan pokok dari hari ke hari makin naik. Upah sebagai buruh pabrik sepatu kagak cukup Bang. Salah satu cara buat mensiasati hal tersebut, ane harus ngamen di cafe-cafe. Sekalian menyalurkan hobby juga sih Bang” dengan gaya khasnya, Lestareno mulai menceritakan kisah hidupnya di jalanan.

Bermusik bagi sebagian orang merupakan hobby yang mengasyikan, apalagi jika bisa menambah pundi penghasilan. Dengan bermusik dan mengamen, Lestareno mulai menikmati warna-warni hidup, karena dia tahu, kehidupan buruh yang serba kekurangan membuat dia mengerti, betapa keras hidup yang harus dijalani. Terlebih kehidupan di jalanan, keras dan tak kenal ampun bagi siapa saja yang lemah dan tak mau berusaha.

“Jalanan itu warna nyata kehidupan manusia, karena di jalanan kita bisa melihat secara jelas dan secara langsung sikap manusia terhadap manusia yang lain yang sesungguhnya. Terlebih-lebih tentang kepedulian sosial, kita orang jalanan bisa dengan cepat mengetahui di saat kita berhadapan langsung dengan orang lain. Akan terlihat dengan jelas, apakah orang tersebut benar-benar memliki rasa kepedulian yang tinggi atau tidak sama sekali.” Lestareno mulai menerawang dan mengenang masa-masa lalunya di jalanan

Di jalanan, di saat seorang pengamen jalanan berhadapan dengan orang yang tidak kita kenal, jika orang tersebut benar-benar peduli terhadap sesama, tentunya pasti orang tersebut akan memberi imbalan atas jerih payah lagu yang sudah dinyanyikan oleh pengamen tersebut. Akan tetapi, tidak jarang banyak orang yang nyinyir atas apa yang sudah dilakukan oleh para pengamen jalanan, bahkan mereka cenderung merasa tidak nyaman bila ada pengamen berada di dekat mereka.

Hidup dijalanan memang penuh dengan lika-liku, salah satu roman perjalanan hidup yang banyak dirasakan oleh orang-orang yang kurang beruntung diluar sana. Bahkan jalanan bisa menjadi salah satu kawah candra dimuka untuk menguji dan mengaji pribadi kita, sekaligus belajar sampai sejauh mana pribadi kita ditempa untuk bersikap saling peduli kepada sesama, yang kurang beruntung tentunya.

“Kehidupan jalanan itu keras Bang, memang betul itu, karena di jalanan kita tidak mengenal kompromi apalagi lobby.” sambil tertawa Lestareno berkisah tentang kerasnya kehidupan jalanan. Tersenyum dan tertawa adalah salah satu cara untuk meredam tekanan dari kerasnya kehidupan, terlebih kejamnya kehidupan di jalanan.

Sebagai buruh, Lestareno yang saat ini juga merupakan salah seorang punggawa di Media Perdjoeangan Nasional, juga memiliki impian, impian yang mungkin hampir sama dengan impian buruh-buruh yang lain. “Harapan ane kagak muluk-muluk banget sih Bang. Sebagai buruh, ane pengen nggak usah lagi mencari usaha tambahan diluar setelah bekerja seharian. Soalnya kasihan buruh Bang, abang tau sendiri kan, kerja udah capek bergelut dengan mesin-mesin produksi yang tentunya sangat menguras stamina. Bahkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga, anak dan istri pun pasti akan lebih sedikit.” jelas Lestareno kepada awak Media Perdjoeangan Bogor yang menghubunginya.

“Ada baiknya pemerintah pusat dan daerah menciptakan kebijakan yang berimbang, tidak terlalu pro kepada pengusaha melulu. Upah buruh pun seharusnya minimal disetarakan dengan kebutuhan hidup layak yang sesungguhnya. Kita bisa makan 3x sehari bersama keluarga, anak dan istri sesuai standar sehat dan angka kecukupan gizi yang baik, kita bisa menyekolahkan anak-anak kita ke jenjang perguruan tinggi dengan biaya yang murah dan semua buruh bisa tinggal dirumah sendiri tanpa harus mengontrak atau menyewa lagi.” dengan tegas dan jelas Lestareno memaparkan harapannya sambil menyanyikan lagi iwan fals kesukaannya

Pernah kita sama sama susah
Terperangkap didingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah lelap

Pos terkait