Asam Manis Gugatan Upah Sektoral Jawa Timur

Surabaya, KPonline – Dunia perburuhan Indonesia‚Äč tengah mengalami euforia sistem pengupahan. Seiring pembangunan infrastruktur yang digenjot, pertumbuhan ekonomi yang meroket, inflasi yang begitu terjaga serta kesejahteraan yang meningkat.

Euforia itu begitu “menenangkan” kaum buruh bahkan hingga mabuk kepayang.
Satire yang menohok.

Bacaan Lainnya

Hanya bagi mereka yang masih waras dan melek saja, yang tetap sadar dan tidak sampai lupa diri, bahwasanya manisnya racikan‚Äč formula PP 78 dicampur Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja, bisa menyebabkan kelumpuhan gerak perjuangan. Impoten akut! Sebuah kepahitan ekonomi tak terhingga.

Ironisnya, itu baru bahas upah minimum, jaring pengaman yang tidak aman sama sekali. Belum lagi ngomong upah sektoral. Sebuah kemewahan langka yang tidak semua buruh mampu mencicipinya. Tak terkecuali kaum buruh di Jawa Timur.

Siang itu tanpa mendung, matahari begitu terik dengan jalanan padat merayap, ternyata tidak mampu menghalangi ratusan buruh Jawa Timur untuk berjejal-jejal di depan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya di jalan Ir.Juanda Sidoarjo.(25/10/2018)

Kedatangan mereka tidak lain dan tidak bukan untuk memastikan, seuprit kemewahan yang tersisa di era berlakunya Peraturan Pemerintah No.78 itu tidak hilang. Upah sektoral Jawa Timur tengah digugat oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).

Keringat, daki yang bercampur bau badan yang asam legit, mengiringi kesetiaan mereka memperjuangkan haknya. Mereka tergerak agar kehidupannya tidak menjadi semakin pahit disaat harga-harga perlahan lahan mencekik.

Beberapa buruh perempuan sambil bergurau begitu menikmati suasana siang perjuangan itu. Dengan mengiris buah-buahan yang sedari tadi dibawa dari rumah, mereka mencoba merayakan manis asamnya perjuangan diatas kertas bungkus bertaburkan sambal pedas.

“Alhamdulillah, majelis hakim memutuskan menolak gugatan APINDO. Ini berita baik bagi kaum buruh Jawa Timur, semoga kedepannya upah sektoral tetap ada. Rujak legi ini adalah simbol perayaan kecil kita.” Kata buruh perempuan itu sambil mencolek sambal dengan buah segar kemudian mencicipinya.

Wajah cantiknya seketika merona merah merasakan sensasi pedas, asam dan manis yang bercampur menjadi satu di mulutnya. Seperti halnya kehidupan dan perjuangan yang tengah ia lakukan, meskipun selalu ada pahit getir, asam manisnya tetapi selalu ada sebuah komposisi yang tepat untuk menikmatinya. (Wiji Sekar Melur Sari)

Pos terkait