Bekasi, KPonline-Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Presiden Partai Buruh, sekaligus Penasehat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, mengajak para kader Serikat Pekerja Elektronik Elektrik (SPEE) FSPMI untuk tidak melupakan akar sejarah perjuangan organisasi dalam pidatonya pada acara seremonial pelantikan Pengurus Pimpinan Pusat (PP) Serikat Pekerja Elektronik Elektrik (SPEE) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Periode 2026-2031 di Swiss Belinn Hotel, Cikarang, Kabupaten Bekasi. Kamis (11/6/2026).
Dikesempatan tersebut, Said Iqbal pun mengenang masa-masa awal perjuangan gerakan buruh modern Indonesia pada era 1990-an. Ia menegaskan bahwa perjalanan panjang yang melahirkan gerakan serikat pekerja FSPMI tidak lahir secara instan, melainkan melalui diskusi, pengorbanan, dan perjuangan yang dilakukan oleh para aktivis buruh dari sektor elektronik yang menjadi embrio lahirnya SPEE.
“Perjalanan sejarah hari ini sangat penting. Ini mengingatkan saya pada sekitar masa tahun 1997-1998 ketika bersama almarhum Endang Thamrin, yang saat itu menjabat Sekretaris Jenderal SP LEM. Saya bersama Endang Thamrin melakukan perjalanan rutin dari Gedung Chandra (sekarang gedung Bawaslu), depan Sarinah. Endang Thamrin turun di UKI ( Universitas Kristen Indonesia) dan berlanjut ke Bandung, karena rumahnya disana. Kemudian, saya turun di pasar rebo. Dan di rutinitas tersebut kita selalu membicarakan masa depan gerakan buruh,” ungkap Said Iqbal.
Menurutnya, perjalanan menggunakan bus Mayasari yang dilakukan berkali-kali setiap minggu justru menjadi ruang diskusi yang melahirkan gagasan besar untuk mereformasi gerakan serikat pekerja Indonesia yang saat itu masih berada dalam bayang-bayang sistem ketenagakerjaan era Orde Baru.
Ia menggambarkan bagaimana dirinya bersama tokoh buruh Endang Thamrin, dimana seorang Endang Thamrin yang harus menempuh perjalanan panjang menggunakan bus dari Jakarta menuju Bandung. Di momen itulah lahir berbagai gagasan tentang pentingnya membangun organisasi pekerja yang lebih demokratis, mandiri, dan mampu memperjuangkan kepentingan buruh secara nyata.
“Kadang kami berdiri di dalam bus karena penuh. Tapi justru di perjalanan-perjalanan itulah lahir cita-cita untuk melakukan reformasi terhadap gerakan serikat pekerja,” katanya.
Lebih lanjut dalam pidatonya, Said Iqbal memberikan penekanan khusus terhadap peran sektor elektronik yang kemudian berkembang menjadi SPEE FSPMI. Karena, kata Said Iqbal, sejarah sering kali hanya mencatat organisasi besar yang berkembang saat ini, namun melupakan kelompok-kelompok kecil yang menjadi perintis awal.
Ia pun kembali menegaskan bahwa sektor pekerja elektronik merupakan salah satu kekuatan pertama yang mendorong lahirnya gerakan reformasi serikat pekerja yang kemudian berkembang menjadi Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI).
“Saya ingin menyampaikan fakta sejarah. Pelopor pertama lahirnya SPEE dan gerakan awal FSPMI berasal dari sektor pekerja elektronik. Mereka yang pertama bergerak, mereka yang pertama berani mengambil langkah perubahan. Kalau gak ada SPEE, gak ada FSPMI,” tegasnya.
Sejarah mencatat bahwa gerakan serikat pekerja independen mulai berkembang pesat menjelang runtuhnya Orde Baru pada 1998. Sebelum reformasi, kebebasan berserikat sangat terbatas karena sistem hubungan industrial lebih banyak dikendalikan negara melalui wadah tunggal SPSI. Setelah reformasi politik, ruang demokrasi yang lebih terbuka memungkinkan lahirnya berbagai federasi dan konfederasi serikat pekerja independen.
Perubahan tersebut diperkuat melalui lahirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh yang menjamin kebebasan pekerja untuk membentuk dan bergabung dalam organisasi serikat pekerja tanpa campur tangan pihak mana pun. Regulasi ini menjadi tonggak penting berkembangnya gerakan buruh modern di Indonesia.
Dalam konteks itulah, organisasi-organisasi yang kemudian berhimpun dalam FSPMI memainkan peran penting dalam membangun tradisi perjuangan buruh yang lebih independen dan demokratis.
Selain mengenang perjalanan organisasi, Said Iqbal juga mengajak seluruh kader SPEE FSPMI untuk menghormati jasa para pendiri dan perintis yang telah meletakkan fondasi organisasi.
Menurutnya, generasi saat ini menikmati organisasi yang lebih besar, lebih kuat, dan memiliki pengaruh nasional karena hasil kerja keras para aktivis generasi sebelumnya yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan karier mereka demi membangun gerakan buruh.
“Jangan pernah melupakan sejarah. Organisasi besar yang kita lihat hari ini dibangun oleh orang-orang yang dulu berjuang dengan segala keterbatasan. Mereka adalah fondasi yang membuat kita bisa berdiri tegak hari ini,” ujarnya.
Pada akhir pidatonya, Said Iqbal menegaskan bahwa SPEE harus terus mempertahankan identitasnya sebagai organisasi pelopor. Menurutnya, tantangan dunia kerja saat ini jauh berbeda dibandingkan era ketika organisasi tersebut pertama kali lahir.
Digitalisasi industri, otomatisasi, kecerdasan buatan, hingga perubahan pola hubungan kerja menuntut serikat pekerja untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan semangat perjuangan.
Ia berharap kepengurusan baru SPEE FSPMI periode 2026–2031 mampu melanjutkan warisan perjuangan para pendiri dengan memperkuat organisasi, meningkatkan kualitas kader, serta tetap menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan kesejahteraan buruh Indonesia.
“Kalau ingin melihat siapa yang melahirkan bayi bernama SPEE dan FSPMI pada masa-masa awal, maka lihatlah sejarah perjuangan para pekerja elektronik. Mereka adalah bagian penting dari lahirnya gerakan besar yang hari ini kita banggakan bersama,” tutup Said Iqbal.