Selamat Jalan Babeh Murtadho, Kami Semua Akan Selalu Merindukanmu

  • Whatsapp

Bogor, KPonline – “Kalo mao warna laen juga ada Bang,” kata Murtadho kepadaku melalui percakapan di kolom komentar di status Facebook miliknya.

“Kalo diambil sendiri 250 ribu. Kalo dianter 300 ribu,” lanjutnya.

Bacaan Lainnya

Sajadah therapy adalah barang dagangan yang sedang ia jual. Entah apa manfaat dan kegunaan sajadah therapy tersebut, selain digunakan sebagai alas sujud disaat sholat. Aku tak pernah memikirkannya. Dan tak pernah aku tanyakan juga hingga saat ini. Yang aku ingat, pesan Ustadz Sholihin, salah seorang guru ngajiku disaat aku remaja dahulu.

“Beli saja, apapun yang sahabatmu jual. Nanti kalian akan mengerti dengan sendirinya. Kenapa kita harus membeli barang dagangan sahabat kita.”

 

“Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Telah meninggal dunia Babeh Murtadho, sahabat kita, kawan seperjuangan kita dan panutan bagi kita semua,” sepenggal pesan Whatsapp tersebut seakan-akan menyentak jiwaku.

“Tak mungkin. Baru beberapa hari yang lalu..” Kumulai menerawang laki-laki yang mulai terlihat senja tersebut. Badannya yang kekar dan terlihat keras, ternyata menyimpan rapat-rapat perihal penyakitnya.

Almarhum anfal diatas kereta api Commuter Line yang membawa dirinya kembali menuju Bogor, setelah mengantarkan barang pesanan seseorang di Jakarta. Sempat dibawa ke RSUD Budi Asih, Jakarta, namun takdir berkata lain. Dia harus menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Laki-laki berdarah Betawi tersebut meninggalkan istri yang sedang hamil tua. Calon bayi yang sedang dikandung oleh istrinya sekitar 8 bulan usianya.

Bisa kubayangkan, betapa berat jalan kehidupan yang akan dijalani oleh istri almarhum. Apa yang akan dikatakan oleh istri almarhum, jika nanti sang anak menanyakan perihal sang Ayah?

“Nak..kamu sudah menjadi yatim sebelum kamu lahir”. Bayangkan, dan rasakan apa yang akan dirasakan oleh sang Anak.

Akankah kita sebagai sahabat dan kawan seperjuangan akan mampu menjawab pertanyaan tersebut? Aku ? Tak akan mampu menjawab pertanyaan tersebut. Mungkin tetesan air mataku akan menjadi jawaban bagi pertanyaannya.

Empang pemancingan yang ramai dikunjungi oleh kawan-kawan buruh, adalah satu dari sekian cita-cita almarhum. Hobi memancing, kebun, dan menyatu dengan alam, yang menjadi keinginan almarhum selama ini. Sesuatu hal yang lumrah, bagi seseorang yang menuju waktu mendekati senja.

Sebagai anggota Garda Metal, banyak yang menjadikan almarhum sebagai panutan. Tegas, bersahabat dan humoris adalah sifat-sifat almarhum yang menjadikannya dikenal banyak orang dan akan dikenang hingga nanti.

Selamat jalan Babeh Murtadho, pengabdianmu untuk organisasi tak akan lekang oleh waktu hingga saatnya nanti. Selamat jalan Abang Murtadho, akan kami lanjutkan perjuanganmu.

Pos terkait