Jakarta, KPonline-Lampu kuning bagi perekonomian nasional dan kesejahteraan para pekerja di Indonesia sudah didepan mata. Dimana, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus merosot hingga menembus level psikologis baru yang sangat mengkhawatirkan. Kondisi ini mulai memicu alarm bahaya bagi sektor industri dalam negeri, dan kaum buruh pun menjadi kelompok yang paling rentan terkena dampak langsungnya.
Berdasarkan data resmi yang dihimpun Media Perdjoeangan, mata uang rupiah mencatatkan rekor penutupan terburuk sepanjang sejarah dengan bertengger di kisaran Rp17.640 hingga Rp17.667 per dolar AS. Pelemahan tajam ini dipicu oleh ketidakpastian suku bunga global, sentimen risiko makro ekonomi, serta konflik geopolitik internasional yang tak kunjung mereda.
Singkatnya, situasi ini mengirimkan sinyal bahaya bagi para pelaku usaha. Karena semakin melemah nilai tukar, pelaku usaha semakin khawatir terhadap kenaikan biaya impor bahan baku, impor mesin industri, sampai biaya logistik. Akibatnya, risiko operasional meningkat tajam.
Bagi sektor industri riil terutama manufaktur, tekstil, dan industri yang bergantung pada bahan baku impor, pelemahan mata uang ini adalah pukulan telak. Margin keuntungan perusahaan terkikis habis akibat lonjakan biaya produksi yang tidak sebanding dengan daya beli masyarakat.
Dampak dari anjloknya rupiah tidak berhenti sampai disitu. Masyarakat/Rakyat kelas pekerja kini bersiap menghadapi ancaman kehilangan pekerjaan.
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mencatat ada ratusan buruh yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Mei 2026. Belasan ribu buruh kehilangan pekerjaan sejak Januari 2026 lalu.
Wakil Presiden KSPI, Kahar S. Cahyono mengatakan, data ratusan buruh terkena PHK menjawab kekhawatiran adanya pengurangan pekerja di beberapa sektor industri. Menurutnya, ini juga menandai dampak nyata memanasnya perang Amerika Serikat (AS) dan Iran.
“Saat itu kami (KSPI) memperkirakan dalam tiga bulan ke depan akan terjadi PHK terhadap sekitar 9.000 pekerja di sedikitnya 10 perusahaan. Hari ini, ancaman itu bukan lagi prediksi. Gelombang PHK sudah nyata terjadi,” ungkap Kahar dalam konferensi pers daring, Selasa (19/5/2026).
Lebih lanjut, kata Kahar, KSPI mencatat sejumlah perusahaan yang telah melakukan PHK pada Mei 2026. Di Kabupaten Serang, PT Nikomas Gemilang melakukan PHK terhadap 279 pekerja, PT Parkland World Indonesia 2 terhadap 223 pekerja, dan PT Sinhwa Bis terhadap 176 pekerja. Di Jawa Timur, showroom dan bengkel Toyota Asri Motor (PT dan CV) juga dilaporkan melakukan PHK terhadap sekitar 200 pekerja.
Data ini memperkuat catatan Kementerian Ketenagakerjaan yang menunjukkan ada 15.425 pekerja ter-PHK sejak Januari-April 2026. Jumlah tersebut meningkat 83,9% dibandingkan data Januari-Maret 2026 yang tercatat sebanyak 8.389 orang.
Kahar pun mengungkapkan, ada dua faktor yang disebut jadi penyebab. Pertama, kenaikan tajam harga bahan bakar industri akibat perang yang menyebabkan biaya produksi meningkat. Kedua, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mengakibatkan harga bahan baku impor melonjak.
“Ketika ongkos produksi naik tajam, banyak perusahaan memilih jalan pintas berupa efisiensi melalui PHK. Yang menjadi korban adalah pekerja dan keluarganya,” tegas Kahar.