Ribuan Buruh Tangerang Ikut Geruduk Istana

Tangerang, KPonline- Ribuan buruh yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Tangerang Raya hari ini, Selasa (01/05/2018) bersiap bertolak ke Jakarta, untuk ikut aksi dalam rangka memperingati hari buruh internasional (Mayday).

Bacaan Lainnya

Hari buruh Sedunia adalah momentum dari puncaknya sebuah perjuangan buruh, dimana seharusnya kaum buruh diseluruh dunia ikut turun kejalan untuk memperingati hari buruh, sambil menyuarakan aspirasinya, mengangkat isu – isu tentang dunia perburuhan.

Jadi tidak ada lagi alasan bagi kita para buruh bisa bersenang – senang atau berleha – leha, apalagi ketika pemerintah menetapkan tanggal 1 Mei sebagai hari libur Nasional. Seharusnya para buruh bisa hadir dan turun ke jalan secara optimal.

Dengan mengerahkan sekitar 90 armada bus, dan 32 mobil mini bus/ pribadi, serta 62 sepeda motor, para buruh dari FSPMI bergerak menuju Jakarta.

Disana mereka akan bergabung dengan anggota FSPMI – KSPI dari daerah yang lainnya, seperti Jabodetabek, kerawang, Purwakarta, Subang, Serang, dan Cilegon, serta dengan serikat buruh, Federasi serta Konfederasi yang lainnya, untuk bersama – sama melakukan aksi demonstrasi ke Istana negara Jakarta.

Adapun tuntutan disuarakan oleh kaum buruh diantaranya adalah,
• Wujudkan Negara Sejahtera (walfare state)
• Akhiri Kerakusan Korporasi
•Tolak Upah Murah & cabut PP 78 Tahun 2015
• Turunkan harga beras & Tarif dasar listrik
• Pilih Capres 2019 yang Pro buruh & Pro rakyat.

Menurut pendapat Sarjono, Pangkorda Garda Metal Tangerang Raya, sekaligus koordinator aksi dari FSPMI Tangerang menjelaskan bahwa, “Saya yakin dan saya pastikan untuk setiap tanggal 1 Mei di kalender negara Indonesia, yang ditetapkan sebagai hari libur Nasional oleh pemerintah itu bukan karena hadiah cuma – cuma dari pemerintah, dan bukan pula karena belas kasihan dari pemerintah.

Tetapi karena berkat perjuangan kaum buruh di Indonesia, sehingga bisa dijadikan hari libur Nasional. Tepatnya keberhasilan perjuangan kaum buruh di Indonesia pada saat akan berakhirnya pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Yang ke dua, karena berbagai persoalan yang ada negara terkait banyaknya kebijakan – kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan kaum buruh, maka tidak ada alasan lagi untuk kita sebagai kaum buruh, untuk tidak berjuang turun kejalan lagi disaat Mayday.

Sarjono pun menambahkan bahwa, “Semakin pergerakan kami (kaum buruh) di bendung, maka kami semakin berfikir kritis dan tertantang untuk terus melawan dan memperjuangkan hak – hak kami sebagai buruh, serta masyarakat, rakyat Indonesia pada umumnya.” Ungkapnya.

Sementara itu, menurut ketua konsulat Cabang FSPMI Tangerang, Akhmad Jumali menegaskan bahwa, “Mayday bukanlah hari libur atau lembur, tetapi hari dimana buruh bersatu untuk bersama – sama turun kejalan demi sebuah perubahan.”

“Perlu diketahui berama bahwa kebijakan yang dibuat dan sah kan oleh pemerintah, khususnya yang bersinggungan langsung dengan kepentingan kaum buruh, dinilai sangat merugikan serta menyengsarakan kaum buruh, hal ini sangat terbukti jelas dengan lahir dan diberlakukannya PP 78/2015.”

Akhmad Jumali pun menambahkan berupa pesan untuk mengingatkan pemerintah daerah juga aparat yang terkait bahwa, “Sebaiknya kalau mau mengadakan acara seperti perlombaan mancing berhadiah, servis motor juga ganti oli gratis, jangan memilih waktu yang bertepatan dengan hari Buruh Internasional. Karena pada hari ini, para buruh yang sadar akan pentingnya arti perjuangan, mereka akan tetap ikut turun kejalan, berjuang demi kesejahteraannya.”

“Jika memang pemerintah juga aparat terkait masih perduli juga ingin memberikan apresiasi, seperti memberikan hiburan atupun perlombaan berhadiah untuk buruh, bisa diselenggarakan di banyak waktu juga kesempatan hari yang lain.” Tegasnya. ( RD Rizal N.)

Daftar Sekarang

Pos terkait