Regenerasi Tak Sekadar Pergantian: Ketua FSPMI Purwakarta Tekankan Keseimbangan Keberanian dan Kebijakan

Regenerasi Tak Sekadar Pergantian: Ketua FSPMI Purwakarta Tekankan Keseimbangan Keberanian dan Kebijakan
Fuad BM, Ketua Konsulat Cabang FSPMI Purwakarta saat menyampaikan kata sambutannya dalam Musnik V PUK SPAI FSPMI PT Indopoly Swakarsa Industry Tbk yang diselenggarakan di Kantor Konsulat Cabang FSPMI Purwakarta

Purwakarta, KPonline-Ketua Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Purwakarta, Fuad BM, menyampaikan pesan penting terkait kepemimpinan dan regenerasi dalam berorganisasi di Musyawarah Unit Kerja (Musnik) V Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Aneka Industri (SPAI) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) PT Indopoly Swakarsa Industry Tbk.

Dalam sambutannya, Fuad menekankan bahwa regenerasi kepemimpinan dalam serikat pekerja bukan sekadar pergantian figur, melainkan proses strategis yang menentukan arah masa depan organisasi dan kesejahteraan anggotanya.

“Regenerasi itu tidak selalu berarti lebih baik. Semua tergantung tujuan dan bagaimana kepemimpinan itu dijalankan,” tegasnya di hadapan peserta Musnik.

Ia menyoroti pentingnya keseimbangan antara keberanian dan kebijakan dalam diri seorang pemimpin. Menurutnya, keberanian tanpa kebijaksanaan justru dapat menimbulkan dampak buruk, tidak hanya bagi organisasi tetapi juga bagi kehidupan para pekerja dan keluarganya.

Fuad mengingatkan bahwa kesalahan dalam menempatkan amanah kepemimpinan dapat berujung fatal. Ia mencontohkan banyak kasus dimana keputusan yang tidak bijak dari pemimpin serikat justru berkontribusi pada tekanan kerja hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Risiko dari keputusan pemimpin itu bukan hanya ditanggung pekerja, tapi juga keluarga (istri dan anaknya). Ini yang harus menjadi bahan renungan,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Oleh karena itu, setiap pemimpin dituntut untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan, sekaligus tidak ragu dalam bertindak.

“Kalau takut dikritik atau disalahkan, jangan jadi pemimpin. Tapi kalau sudah jadi pemimpin, jangan ragu mengambil keputusan. Keraguan justru menciptakan ketidakpastian bagi anggota,” tambahnya.

Dalam konteks organisasi, Fuad juga mengingatkan agar proses regenerasi tidak dilakukan secara terburu-buru. Menurutnya, pergantian kepemimpinan yang terlalu cepat berpotensi menghambat proses transfer ilmu dan pengalaman, bahkan bisa memicu konflik internal.

Ia menyinggung contoh dinamika organisasi yang mengalami gejolak setelah pergantian kepemimpinan, yang pada akhirnya melemahkan posisi serikat di hadapan perusahaan.

“Ketika organisasi pecah, maka kekuatan buruh ikut melemah. Bahkan bisa berujung PHK terhadap pengurus sebelumnya. Ini jelas bukan kondisi yang kita harapkan,” katanya.

Selain itu, Fuad juga mengajak seluruh anggota untuk memandang kepemimpinan sebagai warisan, bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga nilai, ilmu, dan keteladanan. Ia mengingatkan bahwa warisan yang buruk dari seorang pemimpin dapat berdampak panjang terhadap organisasi.

“Warisan itu tidak selalu harta. Bisa juga berupa ilmu dan nilai. Kalau yang ditinggalkan buruk, dampaknya juga buruk bagi generasi berikutnya,” jelasnya.

Menutup sambutannya, Fuad kembali menegaskan bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu menyeimbangkan keberanian, solidaritas, dan kebijaksanaan. Ia berharap hasil Musnik V ini dapat melahirkan pemimpin yang tidak hanya kuat secara organisasi, tetapi juga matang dalam mengambil keputusan.

“Pemimpin itu kalau benar akan dimuliakan, tapi kalau salah akan sangat terlihat. Karena itu, berhati-hatilah dalam memegang amanah,” pungkasnya.