Probolinggo, KPonline–Suasana dingin kawasan Bromo menjadi saksi konsolidasi puluhan jurnalis yang tergabung dalam Media Perjoeangan FSPMI Jawa Timur pada Sabtu-Minggu (23-24/5/2026). Bertajuk Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) yang digelar di Villa Ricky, Jl. Raya Bromo, Desa Ngadas, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Para peserta tidak hanya menyatukan arah gerak organisasi, tetapi juga memperdalam kapasitas jurnalistik di tengah perubahan era digital.
Forum itu menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan peran media dalam mengawal isu-isu perburuhan, terutama perjuangan kaum buruh dan kelompok masyarakat yang kerap berada di pinggir perhatian publik.
Kabiro Media Perjoeangan Jatim Khoirul Anam dalam pemaparannya menyoroti pentingnya kekuatan visual dalam sebuah karya jurnalistik. Menurut dia, foto memiliki daya komunikasi yang kuat untuk membantu pembaca memahami pesan yang ingin disampaikan penulis.
“Gambar merupakan pendukung daripada how, sehingga narasi yang disampaikan mengena kepada pembaca. Bahkan orang awam bisa memahami isi berita hanya dengan melihat gambar,” ujarnya di hadapan peserta.
Anam menjelaskan, kualitas foto sering kali menentukan ketertarikan pembaca terhadap sebuah berita. Karena itu, seorang jurnalis dituntut tidak sekadar mampu menulis, tetapi juga memiliki kejelian dalam menentukan sudut pengambilan gambar.
Ia menegaskan bahwa setiap foto harus memiliki relevansi dengan angle pemberitaan agar pesan yang dibangun dalam karya jurnalistik menjadi lebih kuat dan utuh.
“Jangan asal ambil gambar, namun pengambilan gambar harus disesuaikan dengan angle dari karya jurnalistik,” katanya.
Selain teknik visual, pembahasan mengenai pemanfaatan artificial intelligence (AI) juga menjadi perhatian dalam rakerwil kali ini. Di tengah masifnya penggunaan teknologi AI dalam produksi konten, Anam mengingatkan agar wartawan tetap mengedepankan daya pikir kritis dan sensitivitas jurnalistik.
Menurut dia, AI dapat digunakan sebagai alat bantu atau pembanding dalam proses penulisan, tetapi bukan menjadi sumber utama dalam menghasilkan karya jurnalistik.
“Bahasa AI itu monoton, jadi kewajiban seorang wartawan harus peka bagaimana memanage karya jurnalistik menjadi karya yang berbobot,” tegasnya.
Ia menilai kekuatan utama jurnalis tetap terletak pada kemampuan membaca situasi, menggali fakta, serta meramu bahasa yang hidup dan dekat dengan realitas masyarakat.
Rakerwil Media Perjoeangan Jatim tahun ini dibagi menjadi dua sesi utama. Sesi pertama diisi penguatan materi jurnalistik dan diskusi media, sedangkan sesi kedua menghadirkan pemutaran film dokumenter “Pesta Babi”.
Film tersebut kemudian menjadi bahan diskusi peserta yang berlangsung hangat hingga malam hari. Sejumlah jurnalis menyampaikan pandangan, kritik, serta pengalaman mereka terkait pesan sosial yang diangkat dalam dokumenter tersebut.



