Rakernas SPAMK FSPMI Selenggarakan Seminar Revolusi 4.0

Bali, KPonline – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) SPAMK FSPMI hari kedua diawali dengan Seminar Revolusi 4.0 dengan menghadirkan ekonom INDEF, Bhima Yudhistira.

Dalam paparannya, Bhima mengatakan bahwa ekonomi berbasis sumber daya alam sudah selesai. Saat ini, yang diandalkan adalah teknologi dan data. Ekonomi berbasis ilmu pengetahuan.

Bacaan Lainnya

“Kedepan, sektor produksi, terutama yang repetitif atau bersifat pengulangan akan digantikan mesin,” tegas Bhima.

Dampaknya, banyak pekerjaan yang akan diganti robot. Masalahnya adalah, saat ini sebanyak 60% tenaga kerja di Indoensia habya tamatan SMP. Dengan kondisi seperti itu, tenaga kerja bukan hanya bersaing dengan TKA, tenaga ahli, tapi juga akan bersaing dengan robot.

Hal yang lain, kata Bhima, berdasarkan riset IG Metal, sebanyak 74% karyawan merasa tidak dilibatkan dalam proses adaptasi teknologi di tempat kerja. Bahkan, ada 46% yang merasa tuntutan pekerjaan justru makin berat karena digitalisasi.

“Efek samping pekerjaan semakin kompleks,” kata Bhima. Hal ini membuat pekerja gampang mudah stress.

Menurut Bhima, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan oleh serikat pekerja. Di Singapura, NTUC mendorong agar ada re-training. Caranya, 1% laba perusahaan tiap tahun dikelola untuk melakukan re-training para pekerja agar lebih adaptif terhadap perubahan teknologi dan mempersiapkan pekerja yang di PHK untuk bekerja di sektor lain.

Sementara di Jerman, IG Metal menekan agar pengusaha memperhatikan pekerja di Jerman dengan cara membua MoU agar tidak ada pengurangan tenaga kerja di Jerman.

“Di Jerman, Industri 4.0 merupakan konsensus antara sektor swasta, pemerintah, dan serikat pekerja. Jadi bukan pendekatan top down yang searah,” tegasnya.

Pos terkait