Politik Sebagai Alat Perjuangan

  • Whatsapp
Rakernas KSPI memutuskan sikap politik untuk mendukung Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019. Dari Kanan: Deputi Presiden/Ketua Harian KSPI Muhamad Rusdi, Presiden KSPI Said Iqbal, dan Sekretaris Jenderal KSPI Ramidi.

Jakarta, KPonline – “Buta yang terburuk adalah buta politik. Dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa, dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri. Politisi buruk rusaknya perusahaan nasional dan multinasional.” (Bertolt Brecht – Penyair Jerman)

Bicara tentang politik, rasanya kita tidak akan bisa lepas dari syair Bertolt Brecht di atas. Jika kalimat itu ditulis dalam konteks kaum buruh, maka redaksinya kira-kira akan menjadi seperti ini: “… Jika buruh membenci dan menjauhi politik, jangan menyesal jika lahir perbudakan gaya baru, upah murah, jaminan pensiun dengan manfaat rendah, mudah di PHK, dan sulitnya lapangan pekerjaan…”

Bacaan Lainnya

Oleh karena itu, jika kaum buruh tidak ingin kebijakan-kebijakan yang merugikan dirinya lahir, maka buruh tidak boleh menjauhi politik.

Jika kita mau menarik ke belakang, sejarah berdirinya Republik ini juga tidak lepas dari keberadaan kaum buruh. Kaum buruh secara radikal dan berani meneriakkan revolusi. Kita mengenal nama-nama hebat seperti Suryopranoto, Haji Agus Salim, Semaun, Alimin, hingga Tan Malaka. Nama-nama itu memiliki idiologi buruh.

Pemahaman Politik Kaum Buruh Makin Meningkat

Kalau kita bercermin pada masa dimana orde baru berkuasa, maka bisa jadi benar, bahwa posisi buruh tidak menjadi penting. Ia hanya menjadi sekrup pembangunan. Dibutuhkan ketika menjelang pemilu sebagai vote gater, kemudian ditinggal dan dipunggungi ketika pemilu selesai.

Namun demikian, dalam konteks kekinian dan kedepan, kita sangat optimis, kaum buruh akan menjadi penting dalam pembangunan.

Bisa kita lihat, kesadaran dan partisipasi politik buruh semakin hari terasa semakin meningkat. Hal ini bisa dibuktikan dengan intensitas gerakan buruh terkait jaminan sosial, tuntutan agar harga sembako dan listrik/BBM diturunkan, tolak upah murah, outsoursing, pemagangan, dengan mengkonsolidasikan kekuatan dan gerakan buruh dari beberapa wilayah industri di Indonesia.

Bahkan, sejak tahun 2014, kita sudah tidak lagi malu-malu untuk memberikan dukungan kepada calon presiden dan wakil presiden yang berpihak kepada kaum buruh dan rakyat. Disamping itu, kita juga mendukung kader-kader terbaik dari serikat pekerja untuk maju dalam pemilihan calon legislatif. Sesuatu yang juga akan kita lakukan pada Pemilu 2019 ini.

Politik Sebagai Strategi/Alat Perjuangan

Strategi ini kita sebut sebagai strategi politik. Melengkapi 3 (tiga) strategi sebelumnya, Konsep – Loby – Aksi. Sebagai alat, Konsep-Loby – Aksi adalah cara kita agar tututan kita berhasil. Demikian juga dengan politik. Ia adalah alat agar isu perjuangan kaum buruh bisa diadopsi ke dalam kebijakan politik.

Bagi KSPI, kebijakan tersebut kita beri nama Sepuluh Tuntutan Buruh dan Rakyat (SEPULTURA). Dalam hal ini, Prabowo – Sandi memiliki komitment untuk menjalankan apa yang kita tuntut. Bahkan, seluruh isi SEPULTURA masuk dalam visi-misi Prabowo-Sandi yang secara resmi didaftarkan di KPU. Maka hal yang wajar jika kemudian kita berkomitmen untuk memenangkan Rrabowo-Sandi.

Baca juga: Membandingkan Sepultura dan Visi Misi Prabowo – Sandi

Dengan kata lain, memenangkan Prabowo – Sandi adalah memenangkan SEPULTURA. Memastikan apa yang kita perjuangkan selama ini bisa diwujudkan melalui kebijakan pemerintahan yang akan datang.

Begitu pun dukungan yang kita berikan kepada kader-kader buruh yang maju sebagai calon anggota legislatif, di semua tingkatan. Hal itu kita lakukan, semata-mata agar isu buruh tidak abstain dari perspektif wakil rakyat.

Anggaplah mereka jadi. Prabowo-Sandi menjadi presiden dan wakil-wakil kita duduk di dalam parlemen. Apakah perjuangan serikat sudah selesai? Tentu saja tidak. Serikat akan terus merawat cita-cita perjuangannnya. Konsep-Loby-Aksi akan tetap dilakukan. Bedanya, kali ini, kita juga akan bersuara dari dalam.

Pos terkait