Jakarta, KPonline-Musyawarah Daerah (Musda) IV Garda Metal DKI Jakarta menjadi ruang konsolidasi organisasi yang kembali menegaskan disiplin, loyalitas, dan militansi gerakan di bawah naungan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Minggu (21/6/2026). Forum ini tidak sekadar agenda Musda Garda Metal melainkan momentum penegasan ulang garis komando organisasi di tengah dinamika gerakan buruh yang terus berkembang.
Pangkornas Garda Metal, Supriyadi (Piyonk), dalam arahannya menegaskan bahwa Garda Metal DKI Jakarta harus berdiri di garis terdepan dalam setiap aksi nasional maupun daerah. Posisi Jakarta yang berada di jantung ibu kota disebutnya bukan hanya simbol kehormatan, tetapi juga beban tanggung jawab politik organisasi yang menuntut kesiapsiagaan penuh setiap saat.
Ia menekankan bahwa setiap pimpinan maupun anggota tidak boleh larut dalam sikap emosional, mudah tersinggung, atau reaktif dalam menghadapi dinamika internal maupun eksternal. Sebaliknya, kader Garda Metal dituntut menjadi penenang situasi sekaligus teladan disiplin di tengah massa.
Dalam penegasannya, Supriyadi mengingatkan bahwa Garda Metal merupakan pilar organisasi yang wajib tunduk penuh pada garis komando dan keputusan organisasi tanpa pengecualian. Tidak ada ruang untuk sikap menyimpang dari instruksi yang telah ditetapkan secara struktural.
“Siapapun yang terpilih dalam memimpin garda metal di wilayah atau daerah harus selalu taat pada instruksi organisasi sesuai alur dan jalurnya,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya lima sikap dasar dalam PO Garda Metal yang harus dipahami, dihafal, dan dijalankan secara konsisten oleh seluruh anggota. Menurutnya, disiplin ideologis dan organisatoris hanya bisa terbangun jika aturan dasar tersebut benar-benar diinternalisasi, bukan sekadar formalitas.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa sumpah organisasi bukan sekadar simbol seremonial, melainkan komitmen moral yang melekat dan harus dipertanggungjawabkan, baik di dunia organisasi maupun secara etis sebagai bagian dari perjuangan kolektif. Karena itu, tidak ada ruang untuk mempermainkan komitmen tersebut.
Isu kedisiplinan menjadi sorotan utama, terutama terkait ketepatan waktu dalam menghadiri agenda dan instruksi organisasi. Ia mengkritisi masih adanya pola keterlambatan yang dinilai merusak ritme konsolidasi, sehingga budaya disiplin waktu harus menjadi standar wajib seluruh kader.
Supriyadi juga menekankan bahwa pimpinan Garda Metal harus tampil sebagai contoh nyata, bukan hanya dalam retorika, tetapi juga dalam tindakan sehari-hari di lapangan. Ia mengingatkan agar kepentingan pribadi tidak dibawa ke dalam organisasi karena berpotensi melemahkan soliditas dan merusak semangat kolektif perjuangan buruh.
Dalam kerangka demokrasi organisasi, ia tetap membuka ruang diskusi yang sehat, namun harus tetap berada dalam koridor keputusan struktur dan kepentingan bersama. Ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi perpecahan yang dapat mengganggu konsolidasi gerakan.
Musda IV ini turut dihadiri jajaran pimpinan organisasi, termasuk Presiden Suparno, para pimpinan Garda Metal nasional seperti Isnaini Marzuki, Thole, Ozi, serta Divisi Aksi Nasional Rifqi Mubarok dan Eddoy, bersama Ketua DPW Winarso, Sekretaris Samsuri, dan seluruh peserta undangan. Forum berlangsung dalam suasana konsolidasi yang padat, tegas, dan penuh penegasan arah gerak organisasi ke depan.