Jakarta, KPonline-Dewan Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (DPP FSPMI) menyelenggarakan Pelatihan Sekolah Ideologi Dasar (Seida) Gelombang I yang secara khusus diperuntukkan bagi kaum perempuan. Kegiatan yang mengusung tema Perempuan Bergerak, Berjuang dan Bermartabat ini berlangsung di Kantor DPP FSPMI, Jalan Raya Pondok Gede No. 11, Kampung Dukuh, Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (30/7/2026).
Pelatihan Seida merupakan bagian dari program kaderisasi FSPMI yang bertujuan menanamkan nilai-nilai ideologi organisasi, meningkatkan kualitas kepemimpinan, serta memperkuat peran perempuan dalam gerakan serikat pekerja. Kegiatan ini juga diharapkan mampu melahirkan kader-kader perempuan yang memiliki integritas, loyalitas terhadap organisasi, serta mampu mengambil peran strategis di berbagai tingkatan kepemimpinan.
Acara dihadiri Presiden DPP FSPMI Suparno, jajaran Majelis Nasional DPP FSPMI, pengurus DPP, unsur Pilar Organisasi FSPMI seperti; Garda Metal, Media Perdjoeangan, serta puluhan peserta perempuan dari berbagai daerah.
Dalam sambutannya, Bambang Santoso sebagai Sekretaris Majelis Nasional FSPMI menegaskan bahwa Sekolah Ideologi Dasar bukan sekadar kegiatan pelatihan biasa, melainkan sarana untuk membangun kesadaran anggota mengenai tanggung jawab moral sebagai pekerja sekaligus kader FSPMI.
“Kegiatan ini bertujuan agar setiap anggota FSPMI menyadari bahwa sebagai pekerja dan anggota organisasi, kita memiliki tanggung jawab moral, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap organisasi. Ideologi inilah yang menjadi pondasi utama dalam setiap langkah perjuangan,” ujar Bambang Santoso.
Ia menjelaskan bahwa Seida merupakan tahapan awal dalam sistem pendidikan kader FSPMI yang akan dilanjutkan dengan jenjang pendidikan berikutnya. Menurutnya, pemahaman ideologi organisasi harus terus dibawa dan disebarluaskan oleh seluruh peserta kepada anggota lainnya di berbagai daerah.
Bambang juga menegaskan bahwa DPP FSPMI memberikan ruang seluas-luasnya bagi kader perempuan untuk berkembang, baik di lingkungan organisasi maupun di ranah profesional.
“FSPMI tidak pernah menghalangi kader perempuan untuk maju. Silakan berkiprah di bidang hubungan industrial, menjadi advokat, hakim, akademisi, maupun profesi lainnya. Namun, yang terpenting adalah tetap memegang teguh nilai-nilai dan moral organisasi yang telah ditanamkan melalui sekolah ideologi ini,” katanya.
Kemudian, Bambang mengungkapkan bahwa DPP FSPMI tengah mempersiapkan sistem sertifikasi bagi peserta yang telah mengikuti Sekolah Ideologi Dasar. Sertifikat tersebut nantinya akan menjadi bagian dari persyaratan kaderisasi menuju jenjang kepemimpinan yang lebih tinggi di lingkungan organisasi, mulai dari tingkat Pimpinan Unit Kerja (PUK), Pimpinan Cabang (PC), hingga Pimpinan Pusat (PP).
Selain itu, Bambang menyoroti pentingnya peningkatan keterwakilan perempuan dalam struktur kepemimpinan FSPMI. Menurutnya, jumlah anggota perempuan di sejumlah sektor sangat besar, bahkan di beberapa wilayah mencapai sekitar 80 persen. Namun, kondisi tersebut belum sebanding dengan jumlah perempuan yang menduduki posisi strategis sebagai ketua atau pimpinan organisasi.
“Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Ke depan kita berharap semakin banyak perempuan FSPMI yang tampil menjadi pemimpin organisasi di berbagai tingkatan. Potensi itu sudah ada, tinggal bagaimana kita membangun kepercayaan diri, kapasitas, dan kesempatan melalui proses kaderisasi seperti Seida ini,” ungkapnya.
Melalui penyelenggaraan Sekolah Ideologi Dasar Perempuan Gelombang I, Bambang Santoso berharap lahir lebih banyak kader perempuan yang memiliki pemahaman ideologi organisasi, kemampuan memimpin, serta keberanian mengambil peran dalam memperjuangkan hak-hak pekerja.



