Bandung, KPonline-Sektor TGSL SPAI FSPMI menunjukkan komitmen serius dalam membenahi lini pengorganisiran di tingkat akar rumput. Melalui agenda Organizing Exchange Meeting yang digelar baru-baru ini, organisasi fokus pada standarisasi kerja lapangan agar lebih efektif, transparan, dan terukur.
Reni Yulistina, selaku Pengurus PP SPAI sekaligus Panitia Acara, menegaskan bahwa tantangan di sektor tekstil dan fabric finishing yang dinamis memerlukan pendekatan yang tidak lagi konvensional. Ia menyoroti pentingnya integrasi data antara pengurus wilayah dengan pimpinan pusat untuk memastikan setiap pergerakan buruh di lapangan terpantau secara presisi.
Dalam pemaparannya, Reni menjelaskan bahwa kerja pengorganisiran di wilayah-wilayah yang memiliki basis sektor TGSL kini diarahkan untuk lebih sistematis. Hal ini dilakukan agar Steering Committee TGSL maupun Pimpinan Pusat (PP) SPAI dapat melakukan monitoring berkala tanpa terhambat jarak.
“Kami ingin memastikan kerja teman-teman di wilayah dilakukan secara sistematis dan terukur. Monitoring akan kami lakukan secara intensif, baik melalui pertemuan virtual via Zoom maupun kunjungan lapangan secara offline,” ujar Reni saat memberikan pernyataan.
Langkah ini bukan sekadar pengawasan, melainkan bentuk dukungan pusat terhadap kendala yang dihadapi para organizer di lapangan. Semua progres tersebut kini wajib dituangkan dalam basis data (database) serta laporan naratif (narrative report) yang komprehensif.
Melalui mapping yang dihasilkan dari laporan-laporan tersebut, organisasi dapat mengukur sejauh mana penguatan pengurus dan anggota terjadi di suatu wilayah. Reni juga menggarisbawahi bahwa data ini penting untuk mendeteksi adanya potensi pembentukan Pimpinan Unit Kerja (PUK) baru yang mungkin selama ini luput dari pantauan.
“Dari hasil mapping dan target tersebut, kita bisa melihat apakah ada calon PUK baru yang tergalang atau memiliki ambisi untuk bergabung dengan federasi. Selain itu, kami juga bisa memetakan hambatan birokrasi apa saja yang terjadi di lapangan saat proses pencatatan PUK baru,” tambahnya.
Data yang terkumpul nantinya akan menjadi bahan evaluasi krusial bagi organisasi untuk menentukan langkah ke depan. Jika ditemukan hambatan yang signifikan, organisasi tidak ragu untuk melakukan penyesuaian strategi, termasuk kemungkinan penambahan jumlah personil organizer di wilayah tertentu demi mencapai target penambahan anggota.
“Hasil evaluasi ini akan menentukan apakah kita perlu menambah jumlah organizer atau memperkuat strategi yang sudah ada. Tujuan akhirnya adalah menciptakan lebih banyak success story berupa penambahan jumlah PUK dan anggota secara nyata,” tutup Reni dengan optimis.
Dengan adanya koordinasi yang lebih rapi melalui Organizing Exchange Meeting ini, FSPMI berharap sektor TGSL dapat terus tumbuh menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan hak-hak buruh.