Perempuan di Garis Depan : Perempuan Juga Bisa

  • Whatsapp

Perempuan Juga Bisa

Lima tahun yang lalu, buruh di perusahaan tempatku bekerja melakukan aksi mogok kerja. Ini adalah mogok terlama yang pernah kami lakukan: 4 bulan plus 20 hari. Berawal dari pembaharuan isi PKB yang lebih dari 5 tahun tidak selesai. Kemudian diikuti dengan banyaknya pengurangan kesejahteraan yang diterima oleh karyawan. Ditambah lagi dengan masalah demi masalah yang menumpuk.

Bacaan Lainnya

Entah apa sebabnya. Padahal sebelum ini, hubungan industrial ditempatku bekerja sangatlah baik. Harmonis.
Hingga puncaknya, pada bulan April tahun 2008, mogok kerja resmi kami lakukan.
Meskipun jabatanku tidak tinggi, tetapi saat itu posisiku di tempat kerja bisa dibilang cukup baik. Di PUK, aku menjadi Bakor.

Pada awal-awal melakukan pemogokan, kurang lebih 90 persen karyawan yang juga menjadi anggota serikat pekerja taat pada instruksi organisasi untuk stop produksi. Sebelum melakukan pemogokan, sebenarnya sudah banyak cara yang kami lakukan agar keadaan bisa membaik. Mulai dari melakukan loby, pasang pita hitam di lengan, bahkan berorasi di halaman pabrik setiap pagi. Namun semua aksi simpatik yang kami lakukan tidak ditanggapi. Dan mogok kerja adalah pilihan terakhir yang terpaksa kami lakukan.

Pengurus serikat pekerja kami berjumlah 13 orang. Mereka adalah orang-orang hebat dan kuat. Dua diantaranya ada yang menjadi Vice Presiden di Dewan Pimpinan Pusat. Ada yang menjadi anggota Dewan Pengupahan. Pendidikan mereka rata-rata Sarjana. Memiliki jabatan strategis di perusahaan, seperti Supervisor dan Manager.

Oleh karena itu, semula aku tak berpikir jika aksi mogok kerja ini akan berlangsung lama. Namun ketika hari berganti, dan kemudian minggu berubah bulan, barulah aku sadar jika anggapan itu keliru. Perjuangan yang kami lakukan tak kunjung mendapatkan hasil. Pihak perusahaan bertahan. Tidak bersedia memenuhi tuntutan kami.

Banyak cara yang mereka lakukan agar kami tidak kuat bertahan. Di bulan pertama kami masih menerima upah. Setelah memasuki bulan kedua, upah kami tidak dibayarkan. Asuransi dicabut. Bahkan kami diusir dari lokasi perusahaan. Tenda kami dibongkar paksa. Air dan listrik dipadamkan. Kami bertahan dengan menampung air hujan dan bantuan dari kawan-kawan PUK yang lain.

Semua itu tidak menyurutkan perjuangan kami. Kami bahu-membahu untuk tetap bertahan.
Saat itu aku memiliki tiga orang anak yang masih kecil. Namun tekad dan semangatku untuk bisa mempertahankan dan memperjuangkan apa yang menjadi hak kami, tidak menjadikan anak sebagai dalih untuk tidak berjuang. Bersama teman-teman yang lain, aku sering menginap di tenda perjuangan. Jarang pulang.

Tentu saja, terlebih dahulu aku minta ijin kepada Suami dan anak-anakku. Meminta restu mereka agar bersedia merelakan diriku untuk turun ke medan juang.

Dalam dua minggu, kadang hanya pulang ke rumah sekali. Pernah satu ketika, tetanggaku menelpon, menanyakan kenapa aku tidak pernah pulang. Jika mengingat masa-masa ini, aku sering menitikkan air mata. “Kasihan anak-anak, bu” katanya.

Sebagai perempuan, kalimat itu memukul batinku dengan telak. Membuatku terhuyung. Tubuhku seperti kehilangan daya.

Goyah dan lemah.

Air mataku mengalir.

Meninggalkan anak-anak dan suami, orang-orang yang sangat aku cintai itu, bukanlah keinginanku. Sebagaimana teman-temanku yang lain, kami dipaksa melakukan ini. Aku tidak mau dikenang oleh anak-anakku sebagai seorang ibu yang pecundang. Melarikan diri dari gelanggang ketika tenaganya dibutuhkan. Lalu dengan gampang bersembunyi dibalik kata, ‘kesibukan keluarga’.

Aku menguatkan hati. Bahwa apa yang aku lakukan ini sesungguhnya untuk anak-anakku juga. Bahkan bukan hanya untuk anak-anakku, tetapi juga anak-anak lain, yang tidak terlahir dari rahimku. Aku berjuang untuk semua manusia. Memuliakan kemanusiaannya.

Kadang-kadang suamiku datang ke pabrik. Menjengukku. Membawakan makanan kesukaan. Mengantarkan baju ganti untukku.
Dalam sujud dan do`aku, aku selalu bersyukur kepada Allah Yang Maha Baik. Dia telah memberikan kepadaku seorang suami yang begitu perhatian dan penuh kasih sayang.

Dan inilah tanggal yang tak pernah aku lupakan: 21 Agustus 2009. Setelah melalui banyak perundingan, kami resmi mengakhiri mogok kerja.

Bagaimana hasilnya? Apakah tuntutan sudah dikabulkan? Apakah kemenangan sudah kami dapatkan?
Dengan berat hati aku harus mengatakan, belum.

Salah satu perjanjian, dan ini yang paling tidak bisa aku terima sampai detik ini adalah, kami kembali bekerja dengan syarat seluruh pengurus harus mengundurkan diri.

Aku dan beberapa kawan sempat memberontak dan memutuskan untuk ikut mengundurkan diri. Tapi kawan yang lain mencegahku. Mereka mengatakan, jika itu kami lakukan, berarti kami benar-benar kalah. Sebab perjuangan harus tetap kami lanjutkan. Siapa nanti yang akan memperjuangkan dan mempertahankan hak kawan-kawan yang kembali bekerja.
Hingga akhirnya, diadakanlah Musnik untuk memilih kembali pengurus yang harus menggantikan kawan-kawan pengurus lama. Bersama dua belas orang kawan yang lain, aku dipercaya menjadi salah pengurus. Aku menjabat sebagai wakil sekretaris bidang pendidikan dan organisasi.

Sejak saat itulah aku memulai babak baru dalam hidupku.

Kawan-kawan yang kembali bekerja, tidak sekaligus masuk kerja. Namun bertahap sedikit demi sedikit. Tidak mudah mengembalikan ‘hati’ mereka yang pernah terluka untuk bisa bekerja normal. Sebagai pengurus, aku adalah orang yang paling terakhir masuk kerja. Selama kurang lebih setahun, kami wara-wiri datang ke pabrik hanya untuk berunding dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang belum disepakati. Yang paling berat adalah ketika kami harus bolak-balik datang ke pabrik setiap hari, dan itu berarti kami harus banyak mengeluarkan biaya.

Meskipun rumahku dekat, tetapi untuk menjangkau pabrik harus dua kali naik angkot dan dua kali naik ojek. Jika suamiku tidak sibuk dia dengan sabar mengantar dan menjemput. Karena kami hanya memiliki satu buah motor dan itu adalah alat buat suamiku mencari nafkah, maka aku lebih banyak naik angkot.

Meskipun aku terlihat gagah dan berani, tapi aku tidak berani membawa motor sendiri. Sampai suatu hari, suamiku harus keluar kota dan uangku menipis. Akhirnya kuberanikan diri menelpon suamiku dan minta ijin agar aku diperbolehkan membawa motor sendiri.

Awalnya suamiku tidak memperbolehkan. Ia khawatir. Tapi seperti biasa, aku berhasil meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Dengan beribu perasaan yang berkecamuk, akhirnya aku beranikan diri membawa motor sendiri. Selama dalam perjalanan, aku sebentar-sebentar berhenti. Melalui telepon genggam, suamiku selalu mengingatkan agar aku berhati-hati di jalan. Dan itu menjadi hari yang bersejarah dalam hidupku. Karena untuk pertamakalinya aku berhasil sampai ke pabrik dengan mengendarai motor sendiri. Lututku gemetar.

Setelah itu, aku sudah berani kemana-mana mengendarai motor sendiri. Ternyata inilah rumusnya, bisa karena biasa. Semua hanya membutuhkan yang pertama. Ribuan kilo jarak yang harus ditempuh, selalu diawali dengan langkah pertama. Bangunan setinggi apapun, selalu dimulai dari pemasangan batu bata yang pertama. Pernikahan yang langgeng selama bertahun-tahun, selalu dimulai dengan malam pertama. Tidak ada orang yang menjadi ahli sejak lahir. Ia pastilah pernah menjadi pemula. Terus berproses, hingga akhirnya bisa.

Oh ya, meskipun aku perempuan, namun aku paling tidak mau jika aku dianggap lemah dan cengeng. Sebisa mungkin aku maju dan ikut andil dalam setiap kesempatan baik sebagai tim perunding maupun dalam kegiatan lain. Memang berat. Apalagi beberapa kali menghadapi ucapan miring dari beberapa kawan laki-laki, tetapi aku pantang menyerah. Dan itu aku buktikan selama tiga tahun berunding PKB, dimana aku menjadi sekretaris tim.

Ada banyak kebijakan untuk kawan-kawan perempuan yang berhasil kami masukkan kedalam PKB. Diantaranya adalah cuti melahirkan yang awalnya adalah sesuai dengan Undang-undang, sekarang menjadi 90 hari kerja dan pengambilan diatur dengan surat kesepakatan sendiri. Kemudian cuti haid yang awalnya harus menyertakan surat pernyataan dokter, sekarang tak perlu lagi. Kami juga meminta untuk dibuat pojok laktasi beserta perlengkapan yang dibutuhkan. dan yang paling penting adalah pekerja perempuan bisa menanggung keluarga dalam asuransi.

Semua itu belum tentu akan bisa terwujud jika perempuan tidak ikut andil dalam perundingan PKB. Karena hal-hal yang berkaitan dengan hak perempuan, hanya perempuan itulah yang bisa merasakan. Memahami apa yang dibutuhkan.
Sampai saat ini adalah periode ke-2 aku kembali terpilih menjadi Pengurus PUK dan aku sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Pendidikan. Tanpa terasa lima tahun sudah kami lewati masa-masa ‘kritis’ mengembalikan hubungan Industrial menjadi normal. Aku, beryukur kepada Allah SWT saat ini semua sudah kembali membaik dan perjuangan kami selanjutnya adalah bagaimana agar hubungan ini tetap terjaga sehingga perusahaan tempat kami mencari nafkah terus bertahan dan berkembang.

Seiring dengan itu pula pergantian management pun berkali-kali terjadi dan semua mengarah kepada yang lebih baik. Baru-baru ini, tepatnya tanggal 14 Maret 2014, kami meresmikan masjid dan beberapa fasilitas karyawan yang baru. Peresmian ini dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat serta beberapa jajaran Pemerintahan Daerah.

Aku juga berusaha aktif di Departemen Perempuan DPP FSPMI. Banyak kegiatan yang kami lakukan untuk membentuk kader-kader penerus di organisasi. Memang tidak mudah. Mengingat hanya sedikit perempuan yang bersedia membagi waktunya untuk mengurus organisasi. Apalagi dengan beban ganda yang harus ditanggungnya, dilarang keluarga, dan sebagainya.
Meskipun demikian, aku berharap buruh perempuan bangkit dan bersemangat. Organisasi ini bukan hanya milik laki-laki. Tetapi juga milik perempuan. Aku percaya, ketika seorang perempuan ikut berpartisipasi dalam perjuangan, maka nyala api semangat itu tak akan bisa dipadamkan. Tersebab perempuan adalah ibu bagi kehidupan. (*)

Cikarang, akhir Maret 2014

Pos terkait